PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Suami Sejati


__ADS_3

Juan begitu manja, ia hanya ingin menempel dan menghabiskan waktunya di kamar sempit milik sang istri. Rasanya pertemuan mereka kali ini adalah pertemuan paling indah yang ia rasakan.


Sesekali pria ini mengelus perut Stella yang baginya sangat menggemaskan. Bukan hanya itu tingkah nakalnya, Juan juga suka sekali mencium bagian-bagian tubuh sang istri yang ia rindukan. Tentu saja tingkah aneh ini membuat Stella geli.


"Papi, kamu nakal sekali," ucap Stella lirih.


"Biarin," jawab Juan egois, masih mencium tengguk Stella yang harum.


"Ya sudahlah, suka-suka Papi aja," jawab Stella pasrah.


Andai saat ini tidak ada Berliana di samping mereka, mungkin Juan sudah melahab habis sang kekasih hati. Mengingat rindu yang ia rasakan telah mendapat penawar. Lalu kapan lagi ia mengambil penawar itu jika tidak sekarang.


Tangan Juan kembali bergerilya, menjabah bagian-bagian tubuh sang istri yang ia inginkan. Termasuk sesuatu yang indah yang ada di dada sang istri.


"Papi, please jangan sekarang," tolak Stella lembut.


"Kenapa?" tanya Juan, wajahnya terlihat memerah karena menahan hasrat.


"Tuuuu, kesayangan Papi dah mau bangun," jawab Stella sembari menunjuk ke arah sang baby yang mulai mengeliat.


"Astaga! adek nggak ngerti perasaan Papi sama sekali. Payah dek payah!" ucap Juan sembari memasang kembali kancing baju sang istri. Sedangkan Stella hanya tertawa.


Untuk mengurangi rasa kecewa sang suami, Stella pun memberikan ciuman termanis. Stella memangut lembut bibir pria yang ia cintai itu.


Juan pun menerima ciuman penuh cinta itu. Membalas ciuman yang ia rindukan. Namun, suasana romantis itu terganggu oleh suara ketukan pintu. Dengan cepat, Stella pun melepaskan bibirnya dari bibir pria yang sangat dicintainya itu.


"Siapa?" tanya Stella.


"Maaf, Kak. Ini Vita." terdengar suara tangis di sela-sela jawaban itu.


"Oh, iya. Sebentar," jawab Stella, sembari beranjak dari tempat duduknya. Sedangkan Juan sibuk menenangkan Berliana yang mau menangis.

__ADS_1


Stella berjalan ke arah pintu dan membuka pintu kamar tersebut.


Tak ada kata tak ada perbincangan, Vita langsung memeluk sang kakak dan menangis di sana.


"Ada apa ha?" tanya Stella.


"Ayah, Kak! ayah!" ucap Vita gemetar.


"Iya, ayah. Ayah kenapa?" tanya Stella ikutan gemetar.


"Ayah meninggal, Kak!" ucap Vita.


Seperti disambar petir di siang bolong. Kabar itu begitu mengejutkan. Padahal, Stella pernah berencana mengunjungi pria itu. Bahkan Vita juga mau ke sana bersama Luis untuk meminta restu.


Namun, sepertinya Tuhan mempunyai rencana lain. Kini pria yang pernah mereka benci itu telah berpulang. Dan Stella sendiri menyesal, kenapa ia mengulur-ngulur waktu untuk menjenguk pria itu.


Vita masih menangis. Sedangkan Stella tertegun, bergeming tanpa kata.


Melihat sang istri hanya terdiam, Juan pun segera beranjak dari pembaringan dan bertanya.


Stella menengok ke arah Juan dan ia pun menjawab. "Ayah meninggal, Pi. Ayahku telah tiada," jawab Stella dengan suara lemah. Butiran bening pun meluncur begitu saja dari pelupuk mata wanita ayu itu. Dengan rasa empati yang tinggi Juan pun memeluk wanita yang kini hatinya terluka itu.


"Yang sabar, Mam. Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa ayah kita." Juan mengelus lengan sang istri. Sedangkan Vita masih setia menangis di pelukan sang kakak.


"Yang sabar Vit, yang sabar," pinta Juan berusaha menenangkan adik iparnya.


"Vita tahu kabar ini dari siapa?" tanya Juan.


"Ibu yang kasih tahu," jawab Vita jujur.


"Ibu? Dari mana ibu tahu?" tanya Stella dan Juan heran.

__ADS_1


"Entahlah, tapi ibu juga kasih foto ayah yang udah dikafanin, Kak. Aku yakin itu ayah," jawab Vita.


Tentu saja, pikiran Stella dan Juan penuh tanda tanya. Bagaimana bisa wanita yang mereka ketahui memiliki ganguan mental itu bisa mengetahui kabar yang mencengangkan seperti ini. Dari mana beliau mendapatkan kabar ini. Bukankah Anti tidak menyukai pria itu. Lalu untuk apa ia mencari kabar pria itu.


Juan dan Stella saling menatap. Tentu saja, ini membuat keduanya bingung.


"Apakah sebaiknya kita tanya pada ibu, Pi? Ini aneh sekali?" tanya Stella pada sang suami.


"Ya, Mam. Sebaiknya kita tanya ibu, mari!" ajala Juan, sedangkan Vita mengikuti langkah kedua orang tersebut menuju kamar di mana Anti berada.


Di dalam kamar tersebut terlihat Anti sedang duduk termenung menatap jendela. Melamun.


Dengan hati-hati, Stella pun mendekati sang ibu.


"Bu," ucap Stella sembari mengambil tangan kedua wanita yang membesarkan itu.


"Dia sudah mati! Dia sudah mati!" ucap Anti lirih. Hampir tidak terdengar. Namun, Stella bisa menangkap jika saat ini terjadi sesuatu pada wanita itu.


"Ibu, apakah ibu baik-baik saja?" tanya Stella lembut.


"Tidak, ibu baik. Tapi dia mati. Dia sudah mati," ucap Anti lagi, kurang fokus. Sepertinya jiwa wanita kembali terguncang.


"Pi," ucap Stella tercengang. Menyadari bahwa penyakit yang diderita sang ibu kambuh, Stella menatap Juan. Meminta pertimbangan pria itu. Juan pun langsung menarik tangan sang istri dan mengajaknya menjauh.


"Sabar, Mam. Kita tidak bisa menanyai ibu dalam keadaan seperti ini. Sepertinya kita mesti cari tahu sendiri kabar ini." Juan memeluk sang istri yang saat ini sedang dilanda kegalauan.


"Mami takut, Pi," ucap Stella cemas.


"Iya, Sayang. Aku tahu. Tapi kita harus kuat, demi ibu demi Vita. Heemmm! Kasihan mereka kalo kita ikut-ikutan resah dan akhirnya kita tidak bisa melakukan apa-apa. Sabar ya, Papi akan coba meminta bantuan seseorang untuk membantu kita mencari tahu kabar ini. Dan seandainya ayah memang sudah berpulang, mari kita ikhlaskan. Kita urus jenazah beliau sebagaimana mestinya." Juan kembali mengeratkan pelukannya.


"Masalah ibu, sebaiknya kita konsultasikan pada psikiaternya. Jika memungkinkan, sebaiknya kita bawa ibu kembali ke Indonesia. Gimana?" tambah pria tampan ini. Stella tak punya pilihan lain selain menurut pada sang suami. Karena, pada kenyataannya, selama ini yang menuntunnya adalah sang suami. Yang selalu mengulurkan tangan di setiap keselutannya adalah Juan. Pria itu, pria yang pernah ia tinggalkan tetapi nyatanya dia adalah malaikat dalam hidup Stella dan keluarganya.

__ADS_1


Stella bersyukur. Sangat-sangat bersyukur. Bagaimana tidak? Juan begitu tanggap dalam segala hal. Stella tidak tahu apa yang akan ia lakukan jika seandainya saat ini tidak ada Juan di sampingnya. Juan tidak hanya menjadi suami baginya, tetapi juga seseorang yang bisa ia andalkan dalam setiap hal. Dan Stella bersyukur memiliki Juan.


Bersambung....


__ADS_2