
Malam semakin larut. Namun mata Rehan dan Renata sama-sama tak mau terpejam. Mereka sama-sama merindu. Andai saat ini mereka diberi kesempatan untuk bertemu, maka mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Mereka berjanji akan mengungkapkan rasa cinta yang mereka pendam selama ini.
Namun Renata tak mungkin menyakiti adik sepupunya. Sebab gadis itu begitu antusias. Ia terlihat sangat bahagia! Sepertinya Isabela telah jatuh cinta pada Rehan. Jatuh cinta pada pandangan pertama.
Menangis, hanya itulah yang bisa Renata lakukan saat ini. Meratapi nasib buruk yang selalu menimpanya. Kedua orang tuanya meninggal. Lalu tak lama adiknya dan kini nasib cintanya. Baru sekali ia jatuh cinta, tapi sayang cintanya kandas sebelum dimulai. Karena sang pemilik hati hendak dimiliki oleh orang lain. Kenyataan itu serasa lebih menyakitkan ketika orang yang hendak memiliki sang pria adalah kerabatnya. Seorang gadis yang ia anggap seperti adik sendiri.
Namun berbeda dengan Rehan. Pria ini enggan menyerah, enggan pasrah. Rehan tidak mau sembunyi. Tidak mau sembunyi dari apa yang terjadi. Sekali lagi Rehan tak ingin mengunci hatinya. Rehan ingin mengungkapkan apa yang ia rasakan.
Rehan tak peduli jika seandainya Renata akan mengacuhkannya. Rehan hanya ingin berusaha mengungkapkan apa yang ia rasakan untuk gadis itu. Setidaknya jika ia terbuka sekarang, maka penyesalanmu bisa ia kendalikan.
Keyakinan Rehan jika mereka memiliki perasaan yang sama. Mengingat tatapan sendu mata sang gadis.
Rehan tak mau menunda waktu lagi. Pria ini terus menyakinkan hatinya. Bahwa ia harus berani mengambil keputusan. Rehan pernah gagal dan ia tak ingin gagal lagi. Hatinya milik Renata, lalu mengapa ia harus menikah dengan wanita lain.
Pria ini langsung bergegas memakai jaket dan meraih kunci mobil miliknya. Rehan berniat untuk mendatangi rumah Renata dan ingin meminta penjelasan akan tatapan itu.
Bukan hanya itu, Rehan juga ingin meminta penjelasan dari Renata. Mengapa dia tega membuatnya berantakan? Mengapa Renata meninggalkannya tanpa kata? Mengapa Renata harus datang jika untuk pergi? Mengapa memberinya kesempatan saling mengenal kalau pada akhirnya ia ditinggalkan? Dan sekarang lihatlah, Apakah pertemuan ini tidak menyakitkan? sungguh Rehan penasaran. Penasaran dengan jawaban yang akan Renata berikan atas pertanyaan yang akan dia ajukan.
Kini bapak satu anak ini telah berada tepat di depan rumah keluarga Renata. Tak menunggu waktu lagi, pria tampan ini pun langsung memarkirkan mobilnya. Melihat lurus ke kamar yang lampunya masih menyala tersebut. Ia yakin jika kamar itu adalah kamar Renata. Pati gadis itu tak bisa tidur sama seperti dirinya. Jika benar begitu, pasti pemikiran Rehan tidak salah lagi. Pasti Renata juga memiliki rasa padanya. Rasa yang sama seperti rasa yang ia rasakan terhadap gadis itu.
Rehan memberanikan diri menaiki pagar rumah itu. Lalu mengintip di balik jendela kamar tersebut. Benar saja, dia melihat Renata sedang duduk melamun di atas rajang single miliknya. Rehan tersenyum, entahlah ia bahagia saja. Ternyata Renata juga tersiksa oleh perjodohan ini.
__ADS_1
Rehan memberanikan diri mengetuk jendela kamar itu. Berharap gadis yang ia rindukan mendengar dan membukakan jendela itu untuknya.
Benar saja, Renata terlihat mendekati jendela. Lalu gadis tersebut juga bertanya padanya. "Siapa?" tanya Renata.
"Ini aku, Ta. Rehan!" jawab Rehan.
"Rehan? Mau ngapain?" tanya Renata lagi, lirih. Mungkin dia takut jika ada yang mendengar mereka.
"Buka sebentar!" pira Rehan, tak kalah pelan.
Enggan berdebat, Renata pun akhirnya membukakan jendela itu untu Rehan.
Bukannya menjawab Rehan malah menatap kesal pada gadis itu. Sedangkan Renata menatap bingung pada pria itu.
"Ngapain kamu ke sini? Pulang sana!" pinta Renata sembari menarik tangan pria tampan ini. Meminta sang pria untuk meninggalkan kamarnya. Namun sayang, Rehan sama sekali tak bergerak. Pria ini malah menarik pinggang Renata dan membawa gadis ini ke dalam dekapannya. Menatap gadis itu, hingga membuatnya salah tingkah.
"Siapa yang memberimu izin untuk meninggalkanku? Siapa yang memberimu izin memblokir nomer hapeku? Katakan?" cecar Rehan kesal.
Renata adalah tipe gadis yang tak bisa dikasari. Ia ingin di mengerti tapi tak bisa juga jika di minta menjelaskan apa yang ia rasakan. Terbukti ia hanya bisa menatap nanar pada mata pria yang kini mendekapnya.
Mengetahui sang pemilik hati hendak menangis, Rehan pun langung memeluk gadis itu dan membawanya kedalampelukannya.
__ADS_1
"Maafkan aku, maaf karena aku kurang peka dengan apa yang kamu butuhkan. Maaf ya!" ucap Rehan sembari mengelus rambut panjang gadis yang kini sedang menangis di dalam dekapannya.
"Apa kamu tahu? Aku mencarimu kemana-mana, Ta. Kenapa kamu pergi nggak bilang-bilang? Kenapa nomer hape kamu nggak bisa dihubungi? Kenapa Ta? Apa aku ada salah sama kamu, heemm?" tanya Rehan lagi. Kali ini, pria ini tak memakai amarahnya. Suaranya terdengar lembut dan bersahabat.
"Bukan aku nggak mau menghubungi kamu. Aku bingung Re?" jawab Renata mulai mau membuka suaranya.
"Katakan? Apa masalahmu waktu itu?" tanya Rehan serius.
Renata menghapus air matanya. Lalu ditatapnya kembali mata pria yang kini berada tepat di depan matanya. Pria yang ia rindukan siang dan malam.
"A-aku... aku memang sengaja menghindarimu, Re!" jawab Renata jujur. Sesuai kata hati yang menganggunya selama ini.
"Kenapa kamu ingin menghindar dariku? Memangnya aku kenapa?" tanya Rehan sedikit kesal.
"Tidak ada apa-apa, Re. Sekarang pergilah. Aku mohon! Aku nggak bisa nyakitin perasaan siapapun, apa lagi adikku. Aku mohon mengertilah!" pinta Renata, mencoba mengalihkan perhatian pria yang kini masih kekeh tak mau melepaskan dekapannya.
"Kamu jahat, Ta. Sangat jahat. Kamu udah patahin hatiku. Kamu udah mematahkan hatiku sebelum kita memulai. Kenapa?" Rehan menatap Renata.
Mereka saling menatap, mencoba menyampaikan apa yang mereka rasakan dari tatapan itu. Mereka paham jika rasa itu memang ada antara mereka. Namun, mereka malah tak berani mengutarakannya.
Bersambung....
__ADS_1