PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Chapter 9 (Lutfi n Safira)


__ADS_3

Suasana gudang menjadi gaduh. Mana kala bos mereka tiba-tiba pingsan. Beberapa karyawan terutama cowok langsung membawa Lutfi ke rumah sakit. Sedangkan karyawan lainnya langsung menghubungi seseorang yang tertera di dalam ponsel sang bos.


Awalnya mereka menghubungi dua pasutri yang mereka kenal sebagai mertua Lutfi. Namun, nomer mereka sama-sama tidak bisa dihubungi. Sehingga mau tak mau mereka pun kembali mencari orang terdekat Lutfi yang bisa dihubungi.


Di dalam ponsel tersebut tertulis my wife... tanpa menunggu waktu lagi, salah satu karyawan itu pun menghubungi nomer tersebut.


Beruntung yang mengangkat panggilan telpon tersebut adalah Vita. Jika Safira, mungkin Vita akan kembali menyaksikan drama.


"Hallo, siapa ini?" tanya Vita kepada penelpon yang tidak diketahui namanya itu.


"Kami dari Berlian Collection, Bu. Apakah ini benar nomer ponsel ibu Fira?" tanya seorang wanita dari seberang sana.


"Iya benar ini adalah ponsel beliau. Tapi beliaunya lagi mandi. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Vita.


"Oh, begitu.... Kami ingin mengabarkan bahwa, Bapak Lutfi pingsan di gudang, Bu. Dan sekarang sudah kami bawa ke rumah sakit. Kami menghubungi Bapak Laskar dan Ibu Nana, tetapi tidak bisa. Itu sebabnya kami menghubungi kontak nomer dengan nama kontak my wife," jawab karyawan itu jujur.


"Oh, oke. Istri pak Lutfi masih mandi. Sebentar lagi kami akan meluncur ke sana. Tolong pak Lutfi nya jangan ditinggal ya, pastikan ada dua orang atau tiga yang menjaganya, sebelum kami sampai di sana. Trima kasih mbak," ucap Vita pada karyawan toko yang diketahui milik Zein itu.


"Baik, Bu. Kami akan menjaganya, sembari menunggu ibu datang. Trima kasih, selamat siang!" ucap karyawan tersebut. Kemudian, panggilan telpon pun berakhir.


Panggilan telpon pun berakhir. Beruntung, karena panggilan telpon itu berakhir ketika Safira keluar dari kamar mandi. Jika panggilan itu masih berlangsung, sudah pasti wanita ini akan kalang kabut dan drama lagi pastinya. Vita malas meladeni itu. Sangat-sangat malas.


"Gimana Vit? Boleh kan kamu sama Uis nganterin aku ke Makassar?" tanya Safira sembari bersiap di meja rias nya.


"Boleh kok, asalkan besok aku udah di rumah," jawab Vita gugup, sebab ia tahu, bahwa saat ini dia sedang menyembunyikan fakta yang mungkin bisa membuat Safira shock.


"Oke, makasih sahabatku. Kamu memang selalu bisa aku andalkan," ucap Safira sambil memoleskan make up di atas wajahnya.

__ADS_1


Dalam pertemuan ini, Safira ingin terlihat cantik di mata sang suami. Ia ingin sang suami hanya menatapnya. Karena Safira berjanji, akan memberikan apapun yang Lutfi minta. Safira berjanji tidak akan menolak permintaan itu. Sebab Safira kapok, Safira kapok dicuekin sama Lutfi.


"Vit, kenapa kok dari tadi diam?" tanya Safira curiga.


"Ah enggak, aku biasa aja, Ra. Ra, tadi lu bilang pas berangkat ke Makasar, laki lu dalam keadaan sakit ya?" tanya Vita.


"Iya Ra, itu sebabnya gue risau," jawab Safira sedih.


"Ya udah cepetan, bentar lagi pesawat kita terbang. Aku tunggu di luar ya!" ucap Vita. Sekalian bermaksud berpamitan dengan Stella dan meminta sopir untuk mengambil mobilnya di rumah sang sahabat.


"Ya udah kamu hati-hati. Salam buat Luis ya, sorry Kakak belum bisa ke sana. Kamu tahu kan, Kakak masih riweh dengan mereka!" ucap Stella.


"Iya, Kak. Vita paham. Cuma Vita lagi bingung, Kak," ucap Vita.


"Bingung kenapa?" tanya Stella.


"Vita bingung bagaimana menyampaikan kabar buruk ini pada Fira. Kalo ternyata suaminya terkena demam berdarah, Kak. Fira teledor sekali!" jawab Vita, sedih.


"Tahu, dia pikir demam biasanya. Nggak tahunya DB... ya udah Kak, Vita mesti berangkat. Tolong sampaikan sama ibu, Vita langsung balik ya, Kak. Kapan-kapan Vita main lagi." Vita tak melanjutkan obrolan mereka. Sebab Safira udah keluar dari kamar.


"Yuk, Vit!" ajak Safira.


Vita pun tersenyum menyanggupi.


***


Di negeri nan jauh di sana, ternyata Zein juga mendapat kabar bahwa sang adik ipar tengah sakit.

__ADS_1


Zein sedih sebab ia tak bisa menemani Lutfi melawan sakitnya. Apa lagi, selama ia tak bisa berjalan, Lutfi lah yang berperan penting dalam pengobatannya.


Untuk membalas budi baik sang adik, Zein pun menghubungi langsung pihak rumah sakit agar memberikan perawatan terbaik untuk sang adik.


Namun, emosi Zein seakan ingin meledak, ketika dia tahu, bahwa Lutfi di rumah sakit sendiri. Hanya ditemani oleh tiga karyawan. Sedangkan Zein tahu, bahwa adiknya adalah istri dari pria tersebut.


Dengan cepat Zein pun menghubungi Safira lewat Video call. Zein tidak tahu, bahwa saat ini Safira sedang bersama Vita. Mau tak mau dia pun menyapa wanita yang saat ini masih berada di dalam hatinya itu.


"Ha-hay!" sapa Zein kepada kedua wanita yang kini tampak di layar ponselnya. Zein gugup, sampai ia lupa tujuan awalnya yang ingin memarahi sang adik.


"Hay, Abang... tumben Vidcall... ada apa ni. Feelingnya tajem amat. Tahu aja kalo Fira lagi bareng ama bebeb," canda Safira seperti biasa. Sepertinya, ia lupa bahwa sang sahabat sudah jadi milik orang lain.


"Hisst, Fira! Nggak boleh gitu!" Vita cemberut. Tentu saja tidak nyaman dengan candaan tersebut. Sedangkan Zein lebih memilih tidak menanggapi candaan itu. Zein lebih memilih memfokuskan tujuannya.


"Kamu sekarang ada di mana?" tanya Zein tegas.


"Bandara, Bang. Mau ke tempat Lutfi," jawab Safira jujur, tapi ia terlihat takut pada Zein. Karena Safira tahu, Zein menghubunginya pasti mau memarahinya.


"Kenapa baru berangkat sekarang? Bukankah kamu tahu kalo Lutfi sudah sakit dari pertama dia sampai ke Indo," cecar Zein kesal.


"Sorry, Bang. Fira...." Safira terdiam.


"Kamu nggak boleh gitu, Fira. Sejelek apapun Lutfi, dia tetap suami kamu. Sudah kewajibanmu berbakti padanya. Oke, kalo kamu bilang nggak cinta sama Lutfi, tapi inget... perjuangan Lutfi untuk menghidupi kamu, perjuangan Lutfi untuk menjadi suami yang baik buat kamu. Jangan lupakan itu, Fira. Dosa kamu!" ucap Zein, kali ini dia benar-benar kesal dengan sang adik Andai dekat, pasti udah Zein pukul kepala adik kesayangannya ini.


"Iya, Bang. Fira sorry!" jawab Safira, sambil menudukkan kepalanya, karena dia merasa sangat amat bersalah...


"Baik, intinya kalo nanti Lutfi marah, kamu harus terima karena kamu memang salah. Ya udah abang balik kerja lagi, Assalamu'alaikum... " ucap Zein seraya mematikan panggilan telponnya tanpa menunggu Fira menjawab salam itu. Zein kesal saja dengan keteledoran sang adik.

__ADS_1


Sedangkan Safira sendiri, juga sedih. Sebab apa yang dikatakan Zein adalah benar. Dia benar-benar keterlaluan dan tak tahu aturan..


Bersambung...


__ADS_2