
Malam semakin larut, namun mata Zizi masih belum bisa terpejam. Hatinya masih bergemuruh tak menentu. Bagaimana tidak? Saat ini, detik ini, tanpa ia sangka. tanpa ia duga, ia telah menjadi seorang istri. Istri dari seorang pria yang bisa di katakan adalah pria kaya nan terpandang. Sedangkan dirinya apa? Hanya rakyat jelata yang hanya mengandalkan tenaga untuk sesuap nasi.
Zizi iseng, matanya yang sulit terpejam membuat wanita ayu ini memilih memainkan kancing-kancing baju sang suami. Zi tahu kalau Zein tidak mandi, tapi aroma tubuh pria tampan ini sungguh enak, Zi menyukainya.
Terbukti beberapa kali ia menempelkan hidungnya di dada sang suami untuk menikmati aroma khas tersebut.
Sayangnya, yang empunya dada menyadari, bahwa sang istri sedang melakukan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Zein tidak melarang, ia malah suka dengan apa yang istrinya lakukan. Dengan cinta, ia pun mendekap erat tubuh sang istri.
"Sesak, nggak bisa napas," ucap Zi manja ketika Zein mendekapnya lebih erat.
"Biarin, aku suka, kamu milikku," jawab Zein tanpa rasa berdosa.
"Apakah yang terjadi pada kita, menurutmu tidak lucu?" tanya Zi tiba-tiba.
"Lucu? Kenapa lucu?" Zein membuka matanya, lalu menatap aneh pada sang istri.
"Entah!"
"Kamu kebanyakkan berpikir. Sudah tidurlah, pejamkan matamu. Perjalanan kita besok masih jauh. Aku mau kamu langsung pindah ke apartemen.!" ucap Zein, kemudian ia pun kembali memejamkan mata.
"Tapi, mendadak gini. Nanti aku disangka selingkuhanmu. Ah, tidak... sebaiknya tunggu mereka tahu dulu kalo aku istrimu," tolak Zi, sambil memanyunkan bibirnya.
Zein membuka mata lalu menatap istri anehnya itu, "Mau kasih tahu siapa kalo kita udah nikah?" goda Zein.
"Ya, teman-teman kerja Zi. Itu saja," jawab Zi polos.
"Oke, setelah kita sampai Jakarta, kita resepsi," balas Zein.
__ADS_1
Spontan, Zi pun membelalakkan mata. Bagaimana tidak? Zein selalu mengambil keputusan secepat kilat. Tidak menikah, tidak juga resepsi, semua tanpa meminta persetujuan darinya.
Zi menatap aneh ke arah suami anehnya itu. Karena Zein memang aneh, sangat aneh.
"Kenapa ngliatin aku seperti itu? Aku tampan ya!" canda Zein.
"Ah, nggak. Aku hanya heran saja. Apakah ini sudah sifatmu?" tanya Zi, heran.
"Sifatku? Ada apa dengan sifatku?" tanya Zein, ikutan bingung.
"Kamu mudah sekali mengambil keputusan. Menikahiku tanpa meminta persetujuan dariku. Sekarang resepsi pun sama. Kenapa hal sepenting ini tidak kamu pikirkan terlebih dahulu? Tidaklah kamu takut, nanti bakal menyisakan penyesalan?" tanya Zi serius.
"Oke! Soal pernikahan... mungkin kamu berpikir bahwa aku terburu-buru, itu benar. Karena aku tidak mau gadis incaranku diambil pria lain. Kedua, kamu salah jika aku tidak memikirkan ini jauh-jauh hari. Aku memikirkannya, Zi. Bukankah kamu sering dengar, aku mau menjadikanmu istriku. Ibu dari anak-anakku," ucap Zein kali ini dia jujur dan serius.
"Benarkah?" Zi menatap mata Zein, mencoba mencari keseriusan tentang apa yang diucapkan pria itu.
Zein menyambut tatapan mata sang istri, lalu tanpa ragu, ia pun mendaratkan bibirnya pada bibir wanita yang telah sah menjadi istrinya itu. Sedangkan Zi sendiri, tidak menolak. Namun juga tidak membalas. Sebab, jujur, masih banyak sekali pertanyaan yang membelenggu hatinya. Zi masih belum percaya dengan apa yang terjadi pada alur kehidupannya kali ini.
Zein, tahu... jika sang istri masih meragukan keseriusannya. Namun ia tak peduli. Zein tidak mau hanya berucap, tapi dia berjanji akan membuktikan pada sang istri bahwa dia tidak main-main soal pernikahan ini. Zein serius.
Tapi Zi, wanita tukang penasaran itu, tanpa ia sadari, tangannya merangkak naik sendiri. Mengelus pipi mulus sang suami. Entahlah, menapa ia bisa seberani itu. Nyatanya, saat ini, jari jemari wanita cantik ini sedang mengelus pipi sang pemilik hati.
Zein tahu, jika sang istri masih sangat penasaran padanya. Masih ingin membedakan, apakah yang mereka lalui ini, mimpi atau tidak? Apakah yang mereka jalani saat ini, mimpi atau tidak? Ya, Zein benar, jika Zi memang berpikir demikian.
"Apakah ini mimpi?" tanya Zi lirih.
"Kamu nggak mimpi istriku, aku memang suamimu. Kita sudah menikah," ucap Zein, pelan. Terdengar seperti berbisik pada telinga wanita cantik ini. Sehingga membuat sang wanita sedikit merinding.
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa tau apa yang aku pikirkan?" balas Zi, dengan suara yang tak kalah lembut. "Apakah kamu cenayang?" tambahnya.
"Kamu kebanyakan nonton drakor, jadi pikirannya aneh-aneh. Sebaiknya kamu tidur, sebelum terjadi sesuatu yang belum kamu inginkan!" ucap Zein mengancam. Namun, ancaman itu terdengar lembut dan manja. Sehingga membuat Zi tersenyum malu dan menyembunyikan wajah cantiknya di dada sang suami.
Zein, tidak ingin memulai malam pertama mereka di sini. Ia ingin malam pertamanya dengan Zi terjadi di tempat tinggalnya. Zein ingin memulai hidup baru dengan wanita yang telah ia yakini bisa menjadi wanita surganya, di sana. Di tempat yang telah ia persiapankan untuk anak dan istrinya kelak.
***
Kebahagiaan yang rasakan Zein dan Zizi, tidak serta merta dirasakan oleh seorang Safira.
Wanita ayu ini menjadi lebih pendiam dan enggan bercengkrama dengan siapapun. walaupun dengan suaminya sendiri.
Keadaan ini terang saja membuat Lutfi sedikit kurang nyaman.
Lutfi tahu jika dia juga salah. Namun, harusnya Safira masih kesal padanya. Bukankah sudah minta maaf. Bahkan permintaan maaf itu tidak hanya dilakukan sekali, tapi berkali-kali.
"Bun, makan yuk. Mas udah selesai masak ni!" ajak Lutfi yang saat itu Safira sedang menjemur pakaian mereka.
Ya, Lutfi dan Safira sudah kembali ke Makassar. Mereka berdua sudah memulai hidup sederhana. Memulainya dari nol, karena itu adalah kesepakatan mereka. Keinginan Safira dan Lutfi. Memulai merintis karir bersama, bekerja pada Zein. Tapi mereka bahagia, karena ini adalah pilihan hidup yang mereka ambil.
"Jangan bekerja terlalu keras, Sayang. Kan Mas udah bilang, kalo soal cucian di loudrey saja to. Biar kamu ada waktu buat Naya, buat aku, buat kita sayang-sayangan. Yuk, jangan begini!" ucap Lutfi lembut, sembari Memeluk sang istri dari belakang.
Safira bahagia memiliki Lutfi yang begitu perhatian dan menyayanginya. Namun, tidak dipungkiri bahwa dia masih merasakan kesedihan yang luar biasa. Safira menyesal karena tak bisa merawat dan menjaga ibu kandungnya sendiri. Safira menyesal, kenapa harus orang lain yang merawat dan menjaga ibunya.
"Sudah, Sayang! Mas tahu ini adalah caramu melupakan kesedihanmu. Tapi ingatlah, bahwa ada aku, ada Naya yang membutuhkanmu. Kami merindukan kehangatanmu, Bun. Kami rindu cerewetmu kalo rumah kotor. Rumah berantakan. Kamu rindu pelukan hangatmu. Sungguh!" ucap Lutfi serius.
Safira tak membalas sepatah katapun. Ia langsung memeluk erat tubuh pria yang sangat mengerti dirinya ini. Entahlah, Safira masih belum bisa bangkit dari rasa bersalahnya.
__ADS_1
Bersambung...