PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Chapter 11 (Lutfi n Safira)


__ADS_3

Safira menatap kesal pada Lutfi. Air mata wanita itu sempat jatuh. Namun dengan cepat ia menatap kan hatinya untuk melangkah mendekati sangat suami. Safira tak ingin kalah dengan keadaan. Ia tak ingin dituduh pengecut dan munafik. Baginya Lutfi adalah suaminya. Tak ada yang boleh menyentuh pria itu selain dirinya.


Di lain pihak, Kirana menatap heran pada Lutfi, karena pandangan Lutfi tidak tertuju padanya. Tetapi ke pintu, dan Lutfi tidak merespon apa yang ia ucapkan. Feeling pun aktif, pelan namun pasti, Kirana pun menoleh ke arah pintu.


Spontan, wanita itu pun terkejut. Dengan cepat, ia pun turun dari ranjang di mana dia duduk. Lalu, berusaha menetralkan perasannya.


Dengan anggun ia pun tersenyum menyamput dua wanita yang tidak ia kenal. Namun, ia yakin di antara dua wanita itu, pasti salah satunya adalah istri Lutfi.


"Selamat sore, silakan masuk!" sambut Kirana, tanpa merasa bersalah. Karena ia memang tidak bersalah. Mereka berteman dan hanya bersikap sebagai teman.


Sayangnya, apa yang dipikirkan Kirana, tidak sama dengan apa yang Safira pikirkan tentang mereka. Safira berpikir bahwa wanita itu pasti memiliki hubungan special dengan sang suami. Jika tidak, mana mungkin dia berani duduk di sisi ranjang Lutfi dan menyuapi pria itu pula.


"Selamat sore, maaf bisa tinggalkan kami?" tanya Safira berani.


Seketika, permintaan itu pun menyadarkan Kirana, bahwa wanita yang saat ini sedang memintanya meninggalkan tempat ini, pasti istri Lutfi.


"Oh, tentu... silakan. Fi, aku balik dulu. Cepet sembuh ya, besok aku balik lagi. Ingat, jangan banyak pikiran. Biar tekanan darah kamu kembali stabil!" ucap Kirana, berperan sebagai tan, sahabat sekaligus dokter yang bertanggung jawab atas kesehatan Lutfi.


"Ngapain sih Na kamu balik, katanya mau nemenin aku sampai pagi. Udah sini aja. Nggak usah pergi, ingat janji adalah hutang!" jawab Lutfi melarang.

__ADS_1


Terang saja, jawaban itu sukses membuat dua hati panik. Hati Safira dengan ketidak percayaannya akan sikap Lutfi yang terkesan sengaja. Sedangkan hati Kirana, merasa Lutfi keterlaluan karena melibatkannya dalam situasi yang seolah-olah memaksanya menjadi orang ke tiga dalam hubungan antara dirinya dan sang istri.


"Jangan gitu, Bro! Kan sekarang udah ada ayang beb. Kan kalian mesti bareng. Kamu nggak kangen apa sama dia," jawab Kirana sembari bercanda tentunya, agar suasana tidak setegang saat ini.


Namun sayang, candaan Kirana seakan tidak mempan untuk Safira. Hati wanita ini terlanjur panas. Sebab Lutfi seakan tidak begitu mementingkan kehadirannya.


"Nggak pa-pa. Santai aja. Dia juga nggak bakalan marah kok. Tenang, Na. Udah duduk, makan lagi. Aku juga mau makan. Mana sini makanan yang kamu bawa tadi. Laper aku jadinya!" ucap Lutfi, ketus santai, serius, tapi menyebalkan. Seakan dia memang sengaja menujukkan pada Safira, bahwa masih ada yang perduli padanya. Seakan menunjukkan pada Safira, bahwa dia ternyata bisa tanpanya.


"O-oke... meh aku ambilkan!" jawab Kirana sambil menatap tak nyaman pada Safira.


Sedangkan Safira sendiri, menatap Lutfi dengan tatapan ingin meremas wajah pria itu. Andai saat ini dia tidak sakit. Mungkin Safira akan memakai pria dan wanita yang sok akrab di depannya itu.


"Weh... emak kan udah masak sedap buat kamu, ngapain minta ginian lagi. Gila... mau lu dijewer emak?" jawab Kirana, berusaha mengimbangi Lutfi. Sebenarnya ia bermaksud menyadarkan Lutfi bahwa apa yang pria itu lakukan tidak benar.


"Oiya ya... lupa, Na. Aku kan masih punya janji ya ama emak. Napa aku lupa ya!" Lutfi terkekeh. Lalu ia pun menyiapkan makanan yang Kirana bawakan untuknya. Meskipun jika boleh jujur, Lutfi tidak merasakan enak sama sekali makanan itu. Tetapi, rasa kesal pada Safira memaksa pria ini untuk melampiaskan rasa kesal itu pada makanan yang ada di tangannya kali ini. Rasanya lega saja bisa mengunyah sesuatu.


"Yeee.... begimane sih!" balas Kirana.


Candaan demi candaan Kirana dan Lutfi sungguh membuat hati wanita ini ternkar cemburu. Namun, Safira memilih bertahan. Dia yakin dia kuat. Dia yakin dia pasti bisa. Cara Lutfi untuk menyakitinya tidak akan mempan.

__ADS_1


Ego Safira terlanjur tinggi. Lutfi salah jika meremehkannya. Lutfi salah jika menganggap kalo Safira tidak akan sanggup menahan ini. Karena dalam hati Safira sudah bersumpah, dia akan menghadapi ini, sampai Lutfi berhenti dan puas dengan tujuannya.


Drama Lutfi, Safira dan Kirana, sedikit membuat wanita yang menjadi saksi di ruangan itu menjadi gerah Untuk mencairkan suasana... Vita pun duduk si sofa dan mulai mengajak Kirana bercengkrama.


"Mbak usah lama ya temanan sama Lutfi?" tanya Vita santai.


"Udah dari SMP, Mbak. SMA kita juga sekelas kan Fi?" ucap Kirana jujur.


"Ohhh ... jadi kalian temenan dari SMP, ampek sekarang?" Vita menlanjutkan percakapan mereka.


"Yes... n sekarang saya yang bertanggung jawab atas kesembuhannya, Mbak. Jadi jangan kaget kalo saya ada di sini!" jawab Kirana sambil tersenyum.


"Maksudnya?" tanya Vita.


"Iya, saya adalah dokter yang merawat pria aneh ini!" jawab Kirana lagi.


Tak ada pertanyaan lagi yang Vita ajukan, sebab ia melihat wajah Safira sudah memerah seperti menahan amarah, Vita tak ingin menyulutnya lagi. Vita kssihan dengan sang sahabat. Hatinya saat ini pasti sedang terbakar api cemburu. Namun dia tetap berusaha kuat.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2