PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
CEMAS


__ADS_3

Ketakutan kini telah melanda seorang wanita. Dia adalah ibu kandung Zein. Wanita itu gemetar membayangkan kemungkinan yang akan menimpa, Zein sang putra.


Agus memang tak bisa lagi memaafkan kecerobohan sang putra. Berkali-kali Zein melakukan kesalahan yang sama. Selalu memaksakan kehendak dan tidak mau mendengarkan nasehat orang lain. Meskipun sebenarnya nasehat itu sangat bermanfaat untuknya.


Kekhawatiran Widya semakin menjadi ketika seorang wanita muda dengan pakaian yang sangat seksi masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Selamat siang, Tante. Apa kabar?" sapa wanita seksi itu. Widya diam tertegun. Pikirannya bertambah kacau, sebab ia memiliki banyak hutang pada wanita yang kini ada di hadapannya.


"Ariel," ucap Widya spontan.


"Iya tanteku sayang, ini aku Ariel. Bagaimana kabar Tante, hemmmm!" ledek wanita seksi ini.


Terang saja Widya gemetar. Wanita ini tak sanggup berucap apapun. Sebab ia tahu tujuan wanita ini memdatanginya.


"Tante belum punya uang untuk mengembalikan hutang Tante, Ariel. Tolong kasih Tante waktu lagi!" ucap Widya memohon.


Ariel tersenyum sinis. Sebab, diberi janji seperti itu, bagi Ariel sudah biasa. "Maafkan aku, Tan. Sepertinya sudah nggak ada waktu lagi buat Tante. Sebaiknya Tante tanda tangani surat perjanjian ini atau...." Ariel menatap Widya. Bermaksud menggoyahkan ego wanita paruh baya ini.

__ADS_1


"Aku mohon Ariel, jangan lakukan ini. Kalau suamiku menceraikanku, lalu bagaimana denganku?" kembali Widya memohon dan kini ia tak malu lagi bersujud dibawah kaki wanita yang ia tipu beberapa bulan yang lalu ini.


"Tante pikir aku peduli. Aku sudah melakukan apapun yang Tante mau. Tante mau aku menutupi perselingkuhan Tante, oke, aku tutupi. Tante pakek uangku nggak balik-balik juga oke. Tapi untuk Zein aku nggak mau main-main, Tan. Aku menyukainya. Aku ingin memilikinya," ucap Ariel serius.


"Maafkan Tante kalau soal itu Ariel, Tante nggak bisa paksa Zein untuk menikah denganmu," balas Widya dengan tangis buayanya.


"Makanya, tanda tangani surat kuasa salon ini. Aku lelah Tan. Tante pandai sekali bersilat lidah. Cukup, Tan. Aku nggak mau Tante permainkan lagi," ucap Ariel, kemudian wanita seksi ini pun memaksa Widya untuk menandatangi surat kuasa tersebut. Tak ada pilihan lain, Widya pun menandatangi surat itu dan berteriak meminta Ariel dan kedua pengawalnya untuk keluar dari ruangannya.


Namun, itu tak masalah bagi wanita seksi ini. Terserah Widya mau menangis seperti apa. Yang jelas saat ini dia bisa mendapatkan uangnya kembali. Meskipun dengan bentuk yang berbeda.


***


Agus tak bisa lagi menahan amarahnya. Baginya Zein sangat keterlaluan dan berhak mendapatkan hukuman yang setimpal baginya.


"Papa kecewa sama kamu, Zein!" ucap Agus, suaranya terdengar menggema di seluruh ruangan. Mungkin pria ini memang sengaja menyiapkan seluruh tenanganya untuk memberi pelajaran pada sang putra.


"Bunuh Zein saja, Pa!" pinta Zein dalam tangisnya. Rasanya lebih baik dia mati dari pada harus melewati fase ini. Apakah ada yang menyakitkan dibanding ini. Hatinya telah hancur oleh cinta yang salah dan sekarang harga dirinya. Harga dirinya juga tak berbetuk lagi. Semua hancur dalam sekejam mata. Hanya kesalahan yang tak ia duga.

__ADS_1


"Kamu pikir dengan mati bisa mengembalikan aset-aset, Papa. Hah?" Agus naik pitam. Pria paruh baya ini pun kembali melayangkan tamparannya ke wajah tampan Zein.


"Sudah Zein bilang, bunuh Zein saja Pa," pinta Zein sembari berteriak histeris.


"Hah, nyawamu sama sekali tak ada harganya bagiku. Aku membangun bisnis ini dengan segenap jiwa dan ragaku. Siang dan malam aku bekerja untuk membuat perusahaan ini layak dipandang oleh semua kalangan. Lalu dengan mudahnya kamu meruntuhkannya. Aku tidak bisa terima ini Zein." Agus mengambil napas dalam-dalam. Lalu ia pun kembali menumpahkan uneg-unegnya.


"Dengarkan aku baik-baik, Zein. Semua Ini aku anggap hutangmu padaku. Aku memberimu waktu satu tahun untuk membawa kembali perusahaan ini dalam kejayaan. Jika kamu tidak bisa, maka enyahlah dari hadapanku untuk selama-lamanya. Aku tak butuh anak bodoh sepertimu. Kamu dan mamamu memang sama saja," ucap Agus geram.


"Mengapa Papa berkata seperti itu?" tanya Zein bingung.


"Kamu tidak usah bingung seperti itu, bukankah kamu sudah pernah dengar siapa sebenarnya ayahmu. Aku rasa kamu tidak bodoh, Zein. Kamu sudah dewasa, seharusnya paham dengan alasan kenapa aku mau menikahi mamamu, demi apa? Tak perlu aku jelaskan bukan?" tambah Agus tak ingin basa basi lagi.


Zein diam terpaku. Tak menyangka jika sang ayah akan mengatakan hal yang sangat menyakitkan seperti ini. Zein mengira bahwa isu yang selama ini dia dengar adalah kebohongan semata. Namun kali ini ia tersadar, bahwa sebenarnya kabar itu adalah fakta. Fakta yang kini mulai terbuka.


Zein tertegun, terduduk dalam belenggu kecemasan. Bingung harus berucap apa. Zein gemetar. Lututnya lemas seketika. Sikap arogannya seketika runtuh. Tinggallah rasa gundah gulana yang bergelut penuh amarah dalam jiwa Zein. Pria ini tak kuasa lagi menahan beban mental yang menyerangnya bertubi-tubi. Zein diam dalam angan. Tenggelam dalam ketakutan.


Zein diam dan diam. Menatap nanar pada lantai yang ia pijak. Tak peduli ketika Agus pergi meninggalkan ruangan ini dengan amarah yang memuncak. Zein masih berusaha menguasai kecemasan akan kenyataan yang kini mencekiknya.

__ADS_1


Bersambung...


Like komen dan vote kalian selalu aku nanti😘😘😘


__ADS_2