PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Chapter 22


__ADS_3

"Dasar ipar sialan! Nyariin tukang masak, sekalinya penipu! Sekalinya pencuri!" umpat Zein kesal.


"Sorry, Bang. Kirain dia beneran gadis baik. Habis menyakinkan sekali, Bang, aktingnya. Sampek nggak tahu kalo doi sebenarnya garanganwati." Lutfi terkekeh. Lalu ia pun, mengambilkan segelas air untuk sang kakak ipar.


"Garanganwati? apa itu?" tanya Zein bingung.


"Penipu, Bang, penipu! nama viralnya begitu!"


"Oh, ada-ada aja kamu!"


Sedetik kemudian, mereka terdiam. Lutfi sibuk dengan beberapa laporan yang ia bawa, sedangkan Zein sibuk dengan pekerjaannya yang sempat tertunda.


"Jadwal terapinya masih berapa kali lagi, Bang?" tanya Lutfi serius.


"Masih delapan kali lagi sih, tapi aku mau lanjut ke Indonesia aja. Udah kangen makanan sana aku. Bosan aku makan roti terus!" jawab Zein cemberut.


"Oke, siap! Mau pulang ke mana ni, Jakarta, Makassar atau Batam?" tanya Lutfi lagi.


"Jakarta, aja. Dokter Giral rekomenin aku buat terapi sama salah satu mantan mahasiswanya. Dia dokter terbaik juga," jawab Zein.

__ADS_1


"Oke, kapan mau berangkat?" Bukan bermaksud buru-buru, Lutfi hanya harus mengatur jadwal serapi mungkin agar tidak bentrok dengan jadwal Zein yang lain.


"Minggu ini, boleh. Oiya aku kan nggak minta kamu dateng, kenapa kamu dateng?" tanya Zein.


"Ya kita dikabarin abang begitu, ya udah langsung berangkat saya," jawab Lutfi semangat.


"Orang aku nggak kenapa-napa sih. Pada lebay banget ya! Emang siapa yang ngabarin kalian? " tanya Zein, sedikit kesal dengan pemberitaan yang menyangkut dirinya.


"Sopir kitalah, Bang. Siapa lagi. Kan dia orang yang paling kita percaya jaga abang selama saya pergi." Lutfi tersenyum sebab ia bahagia karena abang iparnya baik-baik saja.


"Oiya, Bang, barang Abang yang ilang apa aja?" tanya Lutfi.


"Cuma uang, beberapa lembar dolar aja. Yang lain aman." Zein meneguk air yang diberikan oleh Lutfi. Zein diam sesaat, teringat dengan wanita yang melahirkannya. Lalu, tanpa ragu, ia pun meminta Lutfi untuk menemaninya menjenguk sang ibu, nanti ketika ia sampai di Jakarta.


"Aku mau ketemu seseorang? Wanita tercantik dalam hidupku!" jawab Zein, sembari tersenyum. Namun senyum itu tidak terasa lepas, seperti tertekan dan terhambat oleh sesuatu yang mungkin bisa dikatakan berat.


"Sorry, Bang. Aku nggak ngerti maksud abang!" balas Lutfi bingung.


"Jangan memaksakan sesuatu yang tak bisa kamu pahami. Sudah jangan diambil pusing omonganku. Pokoknya kamu jalanin aja apa yang aku katakan. Nanti kamu juga ngerti sendiri!" jawab Zein, kembali tersenyum. Namun, Lutfi adalah pria peka. Dia sangat tahu bahwa senyuman Zein kali ini, mengandung luka.

__ADS_1


Zein tak mau memikirkan apa yang Lutfi tanyakan. Justru ia malah fokus pada mimpinya saat bertemu dengan sang ibu.


Bukan pertemuan dalam mimpi itu saja yang membuat seorang Zein resah. Pria ini tertegun dengan sesosok gadis yang mengandung tangan sang ibu. Dan Zein teringat jelas, bahwa gadis itu tersenyum padanya.


"Siapa dia?" gumam Zein, "Ngapain dia gandeng tangan, mama? Lalu ngapain dia senyum-senyum begitu. Dasar menyebalkan!" tambahnya, masih dalam keadaan aneh dan kesal pada mimpinya bertemu sang ibunda.


Zein kesal, sebab menurutnya gadis itu hanya menjadi penghalang atas pertemuannya dengan ibundanya, meski hanya di alam mimpi.


***


Di sisi lain, Zizi sedang menyusun rencana untuk mengambil cuti. Ia berencana untuk pergi mencari pria yang diinginkan oleh ibu angkatnya. Pria yang dirindukan oleh wanita malang itu.


Zizi sangat paham bagaimana beratnya memikul rindu. Apa lagi pada seseorang yang sangat berarti dalam hidup kita. Seperti seorang anak misalnya atau bisa juga orang tua. Zizi sering merasakan itu, apa lagi saat ini, dia hanya hidup sendiri. Sang ibu sudah berpulang sejak ia masih kecil. Lalu tak lama sang ayah juga berpulang tepat sebulan sebelum dia memaksakan ujian nasional. Itu sebabnya Zizi tak mampu membayar uang sekolahnya kala itu. Sebab ayahnya telah berpulang. Ia tak punya siapa lagi untuk meminta. Untuk berlindung.


Beruntung ia bertemu dengan ibu Widya. Wanita cantik yang telah ia anggap sebagai malaikatnya.


Namun, jujur di balik semangatnya mencari keberadaan pria itu, tersimpan ketakutan yang luar biasa di dalam hati gadis ini. Sebab, jujur.... baginya, kenekatan mencari pria itu ibarat ia melawan maut.


Ziiz sangat tahu bagaimana sifat pria anti perempuan itu. Zizi tak bisa membayangkan bagaimana reaksi pria menakutkan itu jika tiba-tiba dia datang. tanpa ada angin, tanpa ada hujan, tiba-tiba ia mencarinya, dengan alasan yang mungkin akan membuat pria itu terkejut setengah mati.

__ADS_1


"Ya Tuhan, tolong permudahkan langkahku kali ini. Aku mohon Tuhan!" ucap Zizi sembari mengusap kasar air mukanya. Pertanda dia memang ketakutan perihal case ini.


Bersambung...


__ADS_2