
Mulut memang bisa saja tersenyum, bahkan bisa berkata 'tidak'. Tapi hati, siapa yang tahu?
Begitulah yang kini terjadi pada Safira saat ini. Kenyataan pahit yang baru saja ia dapatkan, seperti sebilah pisau yang memutus harapannya selama ini. Harapan untuk kedatangan Juan mencarinya. Harapan untuk kedatangan pria itu menjemputnya. Safira begitu setia menanti kedatangan pria itu, bahkan seluruh maaf yang ia miliki pun, telah ia persiapkan untuk pria tersebut.
Tetapi apalah daya, ternyata orang tuanya sendirilah yang menghancurkan harapannya dengan sebuah kebohongan yang teramat sangat menyakitkan.
Safira hanya tidak menyangka, kepercayaan yang ia berikan kepada orang tuanya. Seperti dimanfaatkan oleh mereka. Selama ini ia sering bertanya, apakah Juan memang tidak menginginkannya lagi atau pria itu telah memiliki wanita lain.
Apapun itu, sekarang wanita baik hati ini tak mau menyalahkan Juan apa lagi Stella. Yang patut ia salahkan adalah orang tuanya. Sebab merekalah yang berniat memisahkan dirinya dengan sang kekasih.
Safira tahu jika kedua orang tuanya tidak menyukai hubungannya dengan Juan. Karena menurut mereka Juan bukan pria yang sesuai dengan kriteria mereka.
Kala itu, Juan memang belum sesukses sekarang. Dulu Juan hanya bekerja di sebuah restoran dan kuliah pun belum usai. Bagaimana mungkin menikah. Mungkin seperti itu pemikiran orang tua Safira saat itu. Namun, apapun alasannya, memisahkan dua orang yang saling mencintai dengan cara berbohong, adalah cara yang sangat menyakitkan.
Safira duduk termenung sambil menangis sedih. Mengapa orang tuanya tak memiliki belas kasihan sedikitpun kepadanya. Apakah dengan mengabarkan kematiannya, itu artinya mereka tidak menginginkannya lagi?
"Ya Tuhan, pantas saja mereka tak pernah menanyakan kabarku. Tak pernah mau mengangkat telpon ku. Apakah ini artinya mereka tak menginginkanku?" gumam Safira. Kembali air mata wanita cantik ini meluncur begitu saja.
Sungguh, dia merasa sangat-sangat bodoh. Kenapa baru sekarang ia menyadari jika orang tuanya sudah menganggapnya mati. Jika orang tuanya tak menginginkan dia lagi.
__ADS_1
"Lalu untuk apa aku takut bertemu dengan mereka? Harusnya aku tegakkan saja kepalaku dihadapan mereka! Harusnya aku buktikan saja ke mereka, bahwa aku sendiripun bisa menghadapi hidupku!" ucap Safira dengan deraian air matanya. Hatinya teriris perih. Mengapa mereka begitu tega.
Buka bermaksud ingin membalas apa yang kedua orang tuanya lakukan padanya. Hanya saja, Safira penasaran dengan maksud dan tujuan mereka melakukan itu. Hingga terlintas sebuah tanya yang sedikit menyakitkan hati. Sehina itukah dirinya, hingga mereka tak mau memaafkan kesalahan dan kekhilafannya. Safira tak ingin tinggal diam, setelah ini ia berjanji untuk menemui mereka dan mempertanyakan maksud dari semua ini.
***
Berbeda dengan Safira yang mulai memahami situasi. Kini ada dua pria yang masih was-was dengan hasil operasi sahabat mereka.
Meskipun Laskar mengatakan tak akan terjadi apapun pada Zein, tetap saja mereka was-was. Mengingat sampai sekarang, Zein belum keluar dari ruang menyeramkan itu.
Rehan terlihat khawatir. Beberapa kali pria ini terlihat mondar-mandir. Sedangkan Juan hanya diam. Sebab hatinya sendiri saat ini juga dalam situasi yang sangat menenangkan.
Beberapa menit kemudian, dua gadis yang juga peduli pada Zein juga datang. Mereka adalah Vita dan Renata. Meskipun Renata pernah kesal pada Zein, tak dipungkiri bahwa saat ini dia juga khawatir. Kalau Vita jangan ditanya lagi, dia sendiri pun tak akan paham mengapa ia khawatir pada pria itu. Padahal jika perasaannya dijabarkan, dia juga sangat membenci pria ini. Namun juga peduli.
"Belum tahu, Ta. Belum ada kabar!" jawab Rehan apa adanya. Sedangkan Renata langsung mengelus lengan Rehan. Sebab Renata tahu jika kekasihnya itu sangat menyayangi Zein, sangat menyayangi sahabatnya itu.
"Bang, maaf tadi macet," ucap Vita, menyapa Juan yang saat ini juga terlihat resah.
"Nggak pa-pa. Kakakmu nggak tahu kan kalo Abang udah pulang?" tanya Juan.
__ADS_1
"Belum, Bang. Vita belum cerita," jawab Vita sembari meremas jari-jarinya .
"Ibu sama Liana gimana? Apakah mereka baik-baik saja?" tanya Juan. Padahal hampir setiap jam Stella mengiriminya foto gadis cilik itu.
"Ibu udah mau makan sendiri, Bang. Sudah mau tersenyum. Sepertinya beliau memang rindu sama kakak. Kalo Liana jangan ditanya, gadis itu sudah ngerebut pesonaku di depan ibu. Dia rival ku, Bang!" jawab Vita dengan senyum bahagianya. Bahagia karena kakak dan ibunya bisa berkumpul. Terlebih sekarang, di tengah-tengah mereka sudah ada seorang gadis super manis yang menggemaskan.
"Tambah lagi satu, Bang. Biar rame!" canda Vita.
"Kamu aja nikah sana! Aku sama kakakmu masih santai. Kami tunggu Liana bisa jalan dulu," jawab Juan, tak lupa pria ini juga tersenyum tampan.
"Dih, apaan! Ibarat jualan, Vita belum balik modal Bang. Kerja dulu, bikin seneng ibu dulu baru kawin. Kayak kakak gitu, puas ajak ibu jalan-jalan, baru kawin. Sayangnya jodohnya oon waktu itu," balas Vita, kali ini gadis ini terlihat geram. Sebab, menurutnya Juan menyebalkan.
"Kamu ngatain aku?" canda Juan.
"Eh, enggak, Bang. Maksudku pria yang di dalam. Yang sok jual mahal, angkuh, arogan apa lagi ya? Bodoh mungkin!" jawab Vita lagi.
"Husst, nggak boleh gitu. Kecantol ama dia tahu rasa kamu!" Juan melirik meledek pada Vita. Sayangnya, ucapan Juan bukan membuat nyali gadis ini menciut untuk berdebat. Tetapi malah makin kekeh dengan penilaiannya terhadap Zein.
"Kecantol ama dia? Nggak akan pernah!" tolak Vita serius.
__ADS_1
Juan tertawa, bukan apa! Ternyata Vita begitu menggemaskan, mirip sekali dengan sang istri. Hanya saja gadis ini lebih bar-bar. Berani mengekspresikan isi hati dan pemikirannya. Pantesan Zein betah bersama gadis ini. Sebab dia sangat mirip dengan Stella. Baik mata, hidung bahkan senyum. Vita memang memiliki kemiripan dengan Stella. Mungkinkah Zein mempertahankan Vita di sampingnya karena ini? tanya Juan dalam hati.
Bersambung...