PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
SEMAKIN PANAS


__ADS_3

Semalam Juan masih mengikat Stella, sampai wanita itu meminta izin pergi ke kamar mandi, baru ia mau melepaskan. Juan tak mau percaya begitu saja pada wanita ini. Akhirnya ia pun meminta seorang suster untuk menemani wanita itu ke kamar mandi. Hingga pagi menjelang, Juan terlihat masih siaga menjaga Stella.


"Juan!" panggil Stella.


"Heeemmm," jawab pria tampan ini tanpa melihat ke arah Stella. Ia malah asik dengan ponsel, laptop dan beberapa alat kerjanya.


"Kamu nggak ngantuk apa? semalaman nggak tidur," selidik Stella.


"Nggak! Kenapa emang? Kamu menungguku tidur ya? Lalu, mau melarikan diri, Begitu?" ledek Juan.


Stella membelalakkan matanya, jawaban Juan terdengar gatal di telinga Stella. Kemudian ia pun membalas.


"Lepaskan aku, aku mau pipis!" pinta Stella memohon.


Tumben nggak teriak mintanya. Biasanya bikin gendang telinga mau pecah, apa dia sudah lelah ya, atau ini akal-akalan dia aja, batin Juan sembari menatap penuh selidik pada Stella.


"Cepat Juan, keburu ngompol!" Stella kembali memohon.


Juan pun beranjak dari duduknya dan kembali meminta tolong pada salah satu suster untuk mengawasi wanita ini di kamar mandi.


Tentu saja ini membuat Stella kesal. Juan keterlaluan, karena tak mempercayainya. Stella sangat benci ini, terlihat dari lirikan matanya yang mengumpat kesal.


Juan hanya tersenyum melihat tingkah Stella. Baginya, membuat Stella marah adalah prioritasnya. Pria ini berharap, sikapnya yang tidak memanjakan Stella bisa mengubah wanita ini menjadi wanita yang tangguh dan berani melawan siapapun yang menindasnya. Termasuk sang mantan suami jika seandainya mereka bertemu kembali.


"Dasar pria gila!" umpat Stella ketika kembali dari kamar mandi.


"Memangnya kamu doang yang bisa gila. Aku jauh di depanmu kalau soal kegilaan Nona," balas Juan spontan.


Stella kembali menatap kesal, tapi juan tetap tak peduli.


"Terima kasih Suster Cantik," ucap Juan sembari menggoda sang suster dan tingkahnya ini berhasil membuat Stella muak.


"Sama-sama, Pak. Mari!" balas suster cantik itu. Juan pun tersenyum genit.

__ADS_1


"Dasar pria ganjen," gerutu Stella.


"Suka-suka akulah, masalah buat situ," balas Juan tak mau kalah. Lagi-lagi tingkah konyol Juan sukses membangkitkan kekesalan Stella.


"Ini belum seberapa Nona, tunggu sebentar lagi. Aku punya kejutan yang lebih indah untukmu," ucap Juan seraya mendekati Stella.


"Jangan macam-macam kamu, Juan!" ancam Stella.


"Nggak, aku nggak akan macam-macam. Kamu tenang aja. Aku hanya mau semacam saja, yaitu bayi itu. Aku mau dia," jawab Juan sambil menatap gemas ke arah perut Stella.


Dengan cepat Stella pun menutupi perut ratanya dengan selimut dan memeluknya erat. "Jangan mimpi!" Stella memundurkan tubuhnya.


"Nggak, ini bukan mimpi, tapi ambisi. Anak itu membuatku berambisi, aku sangat bersemangat kamu tahu. Ya Tuhan terima kasih, sudah memberiku sesuatu yang indah," ucap Juan seraya menghela dapas dalam-dalam dan kembali ke sofa untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Stella kembali kesal, ia pun memiringkan tubuhnya agar tak melihat Juan. Rasanya ingin sekali melempar pria menyebalkan yang terus membuatnya kesal. Menekannya dan mengungkit apa yang telah dia korbankan untuk dirinya.


"Dasar pria pengungkit," celetuk Stella kesal.


"Apa? aku nggak dengar!" jawab Juan spontan.


Suasana kembali hening. Juan sibuk dengan pekerjaannya sedangkan Stella terhanyut dalam perasaan kesalnya.


Tak lama terdengar seseorang mengetuk pintu. Juan pun beranjak dari duduknya dan membukakan pintu untuk tamunya.


Terlihat dua orang laki-laki masuk ke dalam ruangan di mana Stella di rawat. Stella terlihat cuek, karena ia pikir dua orang itu hanya ada perlu dengan Juan.


Setelah Juan mempersilakan tamunya duduk, salah satu pria terlihat mengeluarkan sebuah amplop besar berwarna coklat dan memberikannya pada Juan. Juan pun membuka amplop itu dan membacanya dengan teliti.


"Terima kasih, ini sudah benar," ucap Juan sembari tersenyum. Kemudian ia juga mengajak dua pria ini mendekati Stella.


"Ini adalah wanita itu, Pak," ucap Juan memperkanalkan. Terang saja, mengetahui dirinya yang dimaksud, Stella pun segera duduk.


"Baiklah, silakan tanda tangani surat perjanjian ini Nyonya," ucap salah satu pria sembari menyodorkan beberapa lembar surat perjanjian pada Stella.

__ADS_1


"Apa ini?" tanya Stella binggung.


"Itu adalah surat perjanjian pernikahan kita Sayang, kamu nggak usah terkejut gitu dong. Kan semalam kita udah bahas ini hemm. Kamu lahirkan bayi kita, dan aku akan memberikanmu sejumlah uang. Lalu kamu bisa pergi sesuka hatimu kan. Kamu akan bebas setelah melahirkan bayiku," ucap Juan lembut, tak lupa pria ini juga merangkul mesra pundak Stella. Berakting seolah mereka adalah sepasang kekasih. Meskipun beberapa kali Stella menepis tangannya.


Stella membaca lembar demi lembar tulisan yang tertera di atas kertas yang ia pegang. Stella shock setelah membaca jumlah uang yang telah Juan keluarkan sebagai biaya hidupnya. Ia tak menyangka Jika Juan bisa berbuat serendah ini. Juan menulis semua yang telah dia berikan untuknya. Dari biaya perawatannya di klinik Salsa, biaya makan perhari, tiket pesawat, dan juga biaya tempat tinggal serta uang yang pernah Juan berikan kepadanya. Semua ditulis dengan detail oleh pria ini, membuat Stella shock tak berkutik.


"Juan, apa-apaan ini?" tanya Stella kesal.


"Itu belum apa-apa Sayang, ini belum aku tulis semuanya. Belum lagi biaya rumah sakitmu yang ini, yang kemarin ... gaji untuk Nafa karena menjagamu dan masih banyak lagi yang belum aku jabarkan. Kurang baik apa aku sama kamu hemmm? Semua ini akan kuanggap lunas setelah kamu melahirkan bayiku. Hanya itu, Cinta," ucap Juan seraya memberikan kecupan ledekan di pipi Stella. Membuat emosi Stella semakin tersudut.


"Jangan kurang ajar kamu Juan!" teriak Stella sambil meronta kesal. Kali ini Juan memang sangat keterlaluan.


"Jangan marah gitu dong Sayang. Biasanya kamu suka aku cium. Ada mereka ya, kamu malu," ledek Juan lagi. Kali ini telinga Stella teramat sangat panas, ingin rasaya ia meremas mulut pria yang menjengkelkan ini.


"Oke, aku akan bayar semua uang yang kamu tulis ini. Beri aku waktu!" pinta Stella tegas.


"Nggak aku mau sekarang, jika mau nggak bisa maka ...." Juan tersenyum.


"Maka aku akan kasih tahu semua media baik online maupun cetak, bahwa Stella Gunawan telah menipu Juan Richard, seorang pengusaha tampan dan kaya raya serta .... " belum sempat Juan meneruskan ucapannya, Stella sudah berteriak.


"Diaaammmm!"


"Tidak usah berteriak, kami di sini tidak budek," ucap Juan.


"Kamu keterlaluan Juan!" Stella mulai menangis.


"Benarkah aku keterlaluan? Siapa yang kemarin berniat membunuh bayiku?" tanya Juan.


"Ini bukan bayimu Juan," napas Stella tersegal, sebab emosinya sudah mulai memuncak.


"Ayolah Sayang, jangan berkata seperti itu. Kamu jahat banget sih mau misahin dia sama bapaknya. Dosa lo kamu," ucap Juan dengan nada lembut, tapi tetep terasa menusuk bagi Stella.


"Kamu gila Juan!" umpat Stella frustasi. Sayangnya keputusasaan Stella tak berpengaruh buat Juan. Sekali lagi Stella mendapatkan kejutan yang tak terduga dari Juan dan apesnya lagi Stella belum tahu maksud dan tujuan pria ini, mengapa dan untuk apa ia melakukan ini. Stella hanya bisa berpikir kalau Juan sangat jahat padanya.

__ADS_1


Bersambung ...


jangan lupa like n krisannya ya biar aku rajin up. makasih...


__ADS_2