PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
KABAR BAHAGIA UNTUK JUAN


__ADS_3

Sepertinya keberuntungan sedang berpihak pada Juan. Setelah pulang dari kantor Sera, Juan mendapatkan pesan dari seseorang yang ia kenal. Yaitu Vita.


Gadis itu tiba-tiba mengiriminya pesan. Entah ada angin apa?


Namun, Juan memutuskan untuk tidak membalas pesan itu. Tetapi langsung melakukan panggilan ke nomer tersebut.


"Hallo, Bang!" sambut Vita dengan suara lembut, khas miliknya.


"Vita! Ini Vita bener kan?" tanya Juan tak percaya.


"Iya, Bang. Ini Vita. Abang apa kabar?" balas Vita.


"Abang baik, Vita gimana? Kak Ste juga gimana? Berliana? Ibu juga gimana? Abang kangen sama mereka," jawab Juan tak tanggung-tanggung.


"Mereka semua baik, Bang. Tapi kakak belum lama ini habis kecelakaan," jawab Vita jujur.


"Apa? Lalu bagaimana dia sekarang?" pekik Juan spontan. Bukan berniat menakuti Vita, tetapi memang dia khawatir.


Di seberang sana, Vita langsung menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Menurutnya Juan terlalu ekstrim mengeluarkan emosinya.


"Sabar, Bang. Slow-slow. Kakak nggak pa-pa. Cuma lecet-lecet doang," jawab Vita sembari mengelus keningnya. Sebab jujur ia gugup, takut plus bingung. Bagaimana cara menyusun kata untuk ia sampaikan pada pria yang saat ini emosinya sedang tidak stabil.


"Sabar bagaimana? Slow bagaimana? Dia istriku, Vita. Dia belahan jiwaku. Kamu bisa ngerti kan pikiranku, ha?" desak Juan kesal.

__ADS_1


"Iya, Bang. Vita paham. Kan ada Vita yang jagain mereka. Sebenarnya pas kakak tabrakan itu, Vita udah mau kasih tahu Abang. Tapi kakak larang, dengan alasan dia nggak mau ganggu Abang. Kakak pikir, Abang balikan sama mbak mantan," jawab Vita jujur.


"Astaga! Kakakmu itu memang pikirannya sempit. Mana mungkin aku kembali sama wanita penipu seperti dia. Aku hanya mencintai kakakmu, Vit. Demi Tuhan!" ucap Juan serius.


"Vita nggak mau terlalu ikut campur perihal hati antara Abang dengan kakak. Tetapi, Vita hanya kasihan dengan kalian. Kalian masih saling mencintai. Saling membutuhkan. Lalu, untuk apa kalian berpisah. Sepertinya itu sesuatu yang bodoh. Sangat-sangat bodoh," jawab Vita geram.


"Aku tidak bodoh, yang bodoh adalah kakakmu. Kenapa dia tidak menungguku mengerti hatiku terlebih dahulu? Kenapa dia gegabah? Kenapa dia meninggalkanku seperti orang gila? Kenapa?" suara Juan terdengar serak, seperti sedang menahan tangis.


"Tunggu dulu! Kenapa anda bilang kakak saya bodoh. Bukankah anda yang memintanya pergi. Mengusirnya seakan dia melakukan kesalahan yang tak termaafkan. Di sini sebenarnya yang bodoh adalah anda, bapak Juan yang terhormat. Tahu gitu aku nggak menghubungimu tadi. Dasar pria egois, bodoh!" balas Vita sengit.


"Kamu benar, aku bodoh, aku idiot dan apakah kamu tahu, aku hampir gila karena mencari kakakmu. Mau sampai kapan dia menyiksaku, ha?" Juan mulai terdengar putus asa.


"Mana ku tahu, ini Vita telpon kan mau kasih tahu," jawab Vita gugup. Sedikit terdengar tidak nyambung. Tetapi jujur, Vita bingung bagaimana caranya menghadapi sikap Juan yang sedikit aneh itu.


Juan diam, sejatinya ia paham, bahwa dia lah yang salah bukan Vita.


"Abang masih di situ?" tanya Vita.


"Iya, aku masih di sini. Tapi hatiku sakit Vita. Kenapa kakakmu menyiksaku seperti ini? Kenapa dia nggak pulang-pulang? Marahnya lama sekali." Suara Juan sedikit menyesal.


"Abang sudah tahu alasan kenapa kakak pergi. Sudah jangan bahas itu lagi. Vita menghubungi Abang karena ada sesuatu yang penting. Tapi Vita harap, Abang jaga rahasia kita. Abang jangan bilang sama kakak kalo Vita yang kasih tahu Abang, oke!" pinta Vita sembari tersenyum.


"Sesuatu apa itu?" tanya Juan penasaran.

__ADS_1


"Abang janji dulu, jangan kasih tahu kakak kalo Vita menghubungi, Abang. Janji!" pinta Vita lagi


"Oke, Abang janji!" jawab Juan serius.


Selepas mengikat janji, Vita pun memberitahu Juan tenang apa yang sebenarnya terjadi. Bukan hanya itu, Vita juga memberitahu pria tampan itu bahwa sekarang ia akan menjadi ayah sesungguhnya. Ayah dari darah dagingnya sendiri.


"Benarkah?" tanya Juan antusias.


"Abang jangan senang dulu, kakak belum tentu mau ketemu Abang. Jadi Abang harus menyiapkan mental terlebih dahulu!" ucap Vita memperingatkan.


"Apapun itu Vita, apapun. Tidak ada kabar yang membahagiakan dibanding ini. Kamu tahu Vita, Abang sangat bahagia. Ya Tuhan, inikah jawaban atas doaku selama ini. Terima kasih Tuhan, terima kasih!" ucap Juan. Spontan, pria ini langsung bersujud. Untuk mewujudkan puji syukurnya kepada pemilik hidup.


"Vita akan coba bantu Abang, bujuk kakak. Supaya dia mau ketemu dengan Abang. Abang yang sabar ya, tunggu kabar dari Vita!" ucap Vita lagi.


Juan pun menyetujui usul sang adik. Di samping ia menunggu kabar dari Vita. Sebenarnya Juan juga menunggu kabar dari Sera. Juan sudah berjanji untuk sabar menanti kabar kedua wanita yang ternyata peduli terhadap hubungannya dengan Stella. Juan sangat-sangat bersyukur, sebab ketulusannya mencintai wanita itu membuahkan hasil yang sangat membahagiakan.


Vita dan Juan mengakhiri panggilan telepon mereka. Dan sebelum itu, mereka sama-sama berjanji untuk menjaga rahasia tentang mereka telah saling berbagi kabar di belakang Stella.


***


Pesawat yang membawa Luis dan Zein pun mendarat sempurna di bandara Amsterdam, Belanda. Senyum mengembang sempurna di bibir pria bernama lengkap Luis Eka Perdana itu. Pria keturunan Vietnam- Indo itu terlihat gagah dengan balutan kaos kerah keluaran Chanel itu. Tak lupa, ia juga memadupandankan kaos tersebut dengan celana jeans milik Hermes. Jaket kulit berwarna coklat itu pun juga menambah ketampanannya. Sedangkan sang asisten juga tak kalah keren. Zein pun terlihat sempurna dengan langkah gagahnya.


Namun sayang, sepertinya dia belum menyadari bahwa hatinya sedang dalam bahaya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2