PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Pria Itu


__ADS_3

Malam pun tiba, Safira tak bisa menolak apa yang orang tuanya inginkan. Sebenarnya Safira sangat-sangat malas. Terpaksa ia menuruti keinginan itu. Agar ikut dengan mereka, makan malam bersama dengan rekan bisnis sang mama.


Laila dan Laskar sudah menunggu di ruang tamu. Mereka terlihat tak sabar menunggu Safira bersiap. Akhirnya mereka pun meminta asisten rumah tangga mereka untuk memanggil wanita tersebut.


"Iya ma iya, ini lo Fira udah siap!" ucap Safira sembari menuruni anak tangga rumah itu.


Bukannya marah, Laila dan Laskar saling melempar senyum. Karena mereka melihat putri mereka begitu cantik.


"Ya Tuhan. Putri kita cantik sekali, Lah. Kamu cantik sekali, Sayang," ucap Laila sambil memegang kedua lengan sang putri.


Safira yang terlanjur tak menyukai situasi ini tentu saja hanya berdiam diri kesal.


"Udah yuk! Udah telat ni," ajak Laila. Tetapi Safira menahan langkahnya.


"Eehhh, tunggu Ma," cegah Safira.


"Apa lagi?" Laila menatap heran ke arah sang putri.


"Fira punya syarat!" Safira menunjukkan satu jari telunjuknya pada sang mama.


"Syarat apa lagi?" Laila mulai tak sabar.


"Oke, Fira bakalan ikut kalian ke tempat itu, tapi kalo Fira nggak cocok sama pria itu. Please, Fira mohon jangan paksa ya Ma, Pa!" pinta Safira memohon.

__ADS_1


"Oke, urusan gampang itu!" jawab Laila dengan senyuman manisnya. Sebab dalam hati wanita paruh baya ini yakin jika sang putri pasti akan menyukai lelaki pilihan mereka. Di samping pria itu tampan, dia juga kaya raya.


"Janji lo, Ma, Pa!" pinta Safira memastikan.


"Iya, Sayang. Tenang! Semua aman!" jawab Laila lagi.


Safira yang percaya akhirnya mengikuti keinginan orang tuanya untuk menemui pria tersebut. Meskipun pada kenyataannya dia sama sekali tidak ingin berada dalam situasi perjodohan aneh seperti ini.


Namun, langkah Safira terhenti ketika melihat seorang pria berpakaian safari berdiri di dekat mobilnya. Safira tertegun tanpa kata. Heran! Aneh! Seperti itulah definisi rasa yang pas untuk menggambarkan suasana hati Safita saat ini. Ia hanya tidak menyangka bisa melihat pria menjengkelkan itu di rumahnya. Dengan pakaian seorang pekerja pula.


Astaga! Kenapa aku melihat pria jelek itu di mana-mana? Ya Tuhan apa yang terjadi padaku? mungkinkah aku sudah gila? tanya Safira pada batinnya. Sangking jengkelnya mata wanita ini terlihat berkaca-kaca. Safira masih diam di tempat, membuat sang ibu kembali berjalan mendekatinya.


"Loh, kenapa diam? Ayo!" ajak Laila ketika melihat sang putri berdiam tanpa kata. Pandangannya hanya tertuju pada pria yang sedang membukakan pintu untuk papanya.


"Itu siapa?" tanya Laila heran.


"Itu yang lagi bukain pintu buat papa." Safira menunjuk apa yang dia tuju dengan tatapan matanya.


"Oh, itu sopir papa yang baru. Namanya Lutfi, dia baru seminggu kerja. Udah yuk!" Laila menarik tangan sang putri, agar mempercepat waktu.


Sopir papa, jadi dia kerja di sini. Heemmmm, lihat pembalalasanku pria angkuh, batin Safira, seperti sedang merencanakan sesuatu untuk membalas apa yang pernah pria bernama Lutfi itu lakukan padanya.


Safira menciutkan matanya, ketika Lutfi membukakan pintu untuknya. Sedangkan Lutfi tetap bersikap hormat, tetap bersikap menghormati. Meskipun sebenarnya dia sendiri juga sedikit kaget. Tetapi ia tetap berusaha keras untuk memepis rasa keterkejutannya itu dengan tetap berkonsentrasi pada tugasnya.

__ADS_1


Di dalam mobil, suasana menjadi hening, karena Laila dan Laskar sibuk dengan gadget masing-masing. Lutfi, fokus pada jalanan yang ada di depannya. Sedangkan Safira sering mencuri pandang pada pria yang membuatnya kesal beberapa hari ini.


Tiga puluh menit berlalu, mobil yang mereka tumpangi pun sampai ke tempat tujuan. Sebuah restoran mewah yang ada di kota tersebut.


Seperti biasa, seperti pertemuan orang-orang kaya pada umumnya. Mereka saling menyapa dan melempar senyum. Tak lupa mereka juga saling berjabat tangan dan cium pipi kanan kiri. Dan sepertinya mereka senang.


"Fira, kenalin ini Om Zaki dan Tante Kinan. Mereka adalah teman bisnis Mama," ucap Laila memperkenalkan.


"Oh, saya Fira Om, Tante, selamat malam!" sapa Safira memberi salam.


"Ih, cantik sekali!" puji Kinan pada calon menantunya. Sedangkan Safira pura-pura tersenyum Sebab ia tidak menyukai ini.


"Yuk masuk-masuk, sabar ya Fira, Laksa belum sampai. Dia masih di jalan. Maklum, putra tante itu pekerja keras. Jadi sulit meminta waktunya," ucap Kinan dengan nada kesombongan khas seorang ibu. Tetapi Safira bukan gadis bodoh. Tentu saja ia bisa menangkap hawa-hawa kesombongan di sini. Dan Safira sungguh tidak menyukai itu.


Keluarga Kinan dan Zaki bisa dibilang ramah, tetapi Safira menangkap itu hanyalah sebuah kepalsuan. Terlihat jelas bahwa mereka hanya menceritakan apa-apa yang mereka miliki. Membuat Safira muak.


Lima belas menit berlalu, akhirnya pria yang sedari tadi Kinan ceritakan pun datang. Seorang pria gagah berpakaian rapi datang menghampiri mereka.


Lagi-lagi, Safira tercengang. Sebab pria yang hendak dijodohkan dengannya adalah pria itu. Pria yang hendak mencelakainya.


Bersambung....


Makasih atas like dan komen yang selalu kalian berikan🥰

__ADS_1


__ADS_2