PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
ISI HATI


__ADS_3

Stella menatap penuh pertanyaan pada Juan. Begitupun Juan. Pria ini jadi salah tingkah. Ia takut, Stella paham dengan apa yang ia bicarakan bersama Rehan.


"Apa maksud Papi?" tanya Stella serius.


"Maksud apa toh, Mam?" Juan pura-pura merapikan berkas-berkas miliknya yang berserakan di meja kerja.


"Mami dengar Papi. Jangan mengelak lagi!" pinta Stella. Wanita ayu ini kembali menatap serius pada wajah sang suami. Sedangkan Juan pura-pura tak dengar.


"Papi, Mami serius. Mami dengar Pi," ucap Stella kesal.


Juan mengangkat wajahnya dan menatap Stella. "Memangnya apa yang Mami dengar, Heemm?" Juan masih berusaha menjaga rahasia itu. Mau bagaimanapun dia telah berjanji pada Sera.


"Antarkan aku pada ibu, aku ingin bertemu dengan ibu. Ibu kandungku!" pinta Stella sembari menahan tangis. Matanya terlihat berkaca-kaca. Seperti sedang menahan rindu.


"Oke, ayo. Kapan Mami mau pergi?" tanya Juan. Pria ini terlihat pasrah. Baginya Stella tahu sekarang apa nanti itu sama saja.


"Mami yang cari tiket ke Jakarta, atau Gani?" tanya Stella lagi.


Jakarta? Berarti ibu kandung yang Stella maksud adalah Anti bukan Sera, batin Juan. Pria ini pun tersenyum sambil bernapas lega. Karena Stella masih belum paham dengan maksud perbincangannya dengan Rehan. Mungkin Stella hanya mendengar ujung kalimat yang dia ucapkan. Sehingga, kemungkinan besar wanita ini belum mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Tentu saja, minggu ini kita ke tempat ibu, ya," jawab Juan lembut.


"Aku rindu ibu," ucap Stella, tangisnya pecah seketika. Spontan Juan langsung mendekati sang istri. Mencoba menenangkan wanita yang ia cintai ini. "Udah, cup. Jangan nangis lagi. Kita pasti ke tempat ibu. Oke!" pinta Juan. Di peluknya wanita ayu itu. Tak lupa ia juga memberikan kecupan penuh kasih sayang di pipi mulus itu.


"Aku rindu ibu, tapi nggak mau ketemu ayah!" pinta Stella lagi. Juan menatap sekilas pada sang istri. Lalu kembali memeluk wanita manja itu.


"Iya, baiklah. Sabtu ini ke tempat ibu ya. Udah jangan nangis lagi!" ucap Juan lagi.


Tak dipungkiri bahwa permintaan Stella kali ini juga terhitung sulit baginya. Namun, Juan juga tak bisa terus menyembunyikan fakta ini dari Stella. Mau bagaimanapun wanita ini harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada keluarganya, pada ibunya, pada ayahnya dan juga pada omnya.


Juan tak mungkin terus menutupi siapa sebenarnya sang istri. Pada hakekatnya Stella juga berhak tahu kebenaran tentang dirinya.

__ADS_1


Juan mengajak sang istri duduk di sofa. Bermaksud mengajak wanita ayu ini berbincang. "Sebelum kita pergi, maukah Mami berjanji sesuatu pada Papi?" tanya Juan serius.


"Tentu saja, Pi. Memang ada apaan?" tanya Stella penasaran.


"Mungkin ini akan sedikit membuat Mami sedih. Namun, mau nggak mau Papi harus kasih tahu ini ke Mami," ucap Juan hati-hati. Sebab ia sangat paham bagaimana Stella.


"Iya, kasih tahu apa Pi?" jujur Stella makin penasaran.


"Maaf jika Papi belum bisa jujur sepenuhnya sama Mami. Karena sungguh, Papi nggak mau bikin Mami sedih," Juan menatap Stella. Pun sebaliknya.


"Memangnya ada kebenaran apa, Pi?" tanya Stella bingung.


"Kemarin Mami udah berkirim kabar dengan Vita kan?" tanya Juan.


"Iya, kan Mami cerita waktu itu. Kalau Vita sudah di Jakarta dan udah kerja," jawab Stella jujur.


"Apakah Vita cerita sesuatu tentang ibu?" Juan menatap Stella.


"Baiklah. Sebenarnya .... " Juan menatap mata Stella. Pun sebaliknya.


"Sebenarnya apa, Pi?" tanya Stella penasaran.


"Ayah dan ibumu ... mereka!" Juan menghentikan ucapannya. Sebenarnya ia tak sanggup membuka semua kebenaran ini sekarang. Namun, mau bagaimanapun Juan harus tetap mengatakannya. Sebab, jika Stella tahu kebenaran ini setelah bertemu Anti, maka Juan tidak akan bisa menjamin kalau jiwa Stella tidak akan terguncang.


"Mereka kenapa, Pi?" Stella menggoyang tangan Juan. Menyadarkan pria itu dari lamunan.


"Mereka ... mereka sudah berpisah, Mam," jawab Juan.


Stella kembali menatap sang suami. Pikirannya langsung curiga pada Juan. Stella yakin, jika Juan banyak menyembunyikan sesuatu darinya. Pasti Juan mengetahui banyak hal tentangnya. Yang dia sendiri mungkin tidak tahu.


"Dari mana Papi tahu?" tanya Stella.

__ADS_1


"Maaf jika Papi lancang. Sebelum kita menikah, Papi sudah mencari tahu semua tentang Mami," jawab Juan jujur.


Stella menatap Juan serius. Sebab apa yang ia pikirkan benar. Juan memang cerdas, yang tidak terpikirkan oleh Stella. Terpikirkan olehnya. Aneh Bukan?


Kini Stella merasa sangat bodoh. Mengapa dia tidak menyadari ini? Mengapa ia tidak pernah memikirkan ini? Stella semakin yakin jika suaminya ini bukanlah orang sembarangan.


"Mami nggap apa-apa kan?" tanya Juan sedikit takut.


Stella diam. Seperti biasa, ketika pikiranya dipenuhi kekhawatiran. Juan sudah hafal dengan ini. Dengan penuh kasih sayang, pria ini pun langsung memeluk sang istri.


"Mami harus kuat, harus sabar, harus bisa mengikhlaskan apa yang telah terjadi. Percayalah Mam, bahwa semua yang terjadi antara Mami, Zein, Papi dan juga orang-orang di sekitarmu, itu semua adalah kehendak Illahi. Mami paham kan maksud Papi?" tambah Juan. Berharap Stella tidak kembali terperosok pada jurang penyesalan.


"Mami sama sekali tidak menyesal berpisah dari Zein, Pi. Justru Mami merasa beruntung bisa lepas dari pria itu. Mami bahagia bisa mengenal Papi. Bisa menjadi bagian dari hidup Papi. Papi adalah pria luar biasa yang Mami dan Beliana miliki," jawab Stella sembari tersenyum.


Juan tahu jika senyum itu adalah cermin kejujuran hati Stella. Namun tetap saja, pria ini tidak tega jika sang istri meneteskan air matanya.


"Jangan teteskan air matamu, Istriku. Aku tidak rela!" ucap Juan tulus. Dengan cintanya pria ini pun menghapus air mata yang mulai membanjiri pipi sang istri.


"Percayalah, Sayang. Semua akan baik-baik saja. Aku akan selalu berada di sampingmu. Aku akan selalu siap kapanpun kamu membutuhkanku. Mengerti!" ucap Juan serius. Tak ada yang lebih indah dari ini. Juan adalah setulus-tulusnya pria. Sebaik-baiknya lelaki.


Stella sendiri pun tak mungkin sanggup tanpa Juan di sampingnya. Entahlah, keyakinnannya bisa hidup sendiri bersama Berliana seketika luntur ketika ia menyadari bahwa hatinya kini milik Juan. Milik pria yang kini memenjarakannya dalam ikatan cinta. Ikatan pernikahan yang halal. Dan Stella bahagia. Bahkan sangat bahagia.


***


Di sisi yang lain, Rehan sedang tak mampu menguasai detak jantungnya. Pria ini teramat sangat shock. Sebab gadis yang akan dijodohkan dengannya ternyata adalah adik sepupu Renata. Yang tak lain adalah wanita yang ia cari selama ini.


Bukan hanya Rehan yang shock. Di sudut hati yang lain juga ada kekhawatiran dan ketidakrelaan jika pria itu menikah dengan adik sepupunya. Mulut Renata memang diam, namun jika boleh jujur hatinya menangis. Menangis karena pada kenyataannya ia juga menginginkan Rehan menjadi miliknya.


Bersambung....


Thanks atas dukungan kalian selama ini🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2