
Zein berhasil memperdaya Dena. Juan dan Rehan yang paham dengan taktik Zein, langsung mengikuti langkah Zein untuk menyerang para musuh dan menyelamatkan Vita.
"Brengsek! Apa yang kalian lakukan?" teriak Dena ketika Zein melangkah lebih dekat padanya.
Menyadari bahwa dirinya dalam bahaya, Dena, wanita tua itu langsung berlari. Sedangkan Zein, terus mengikuti langkah wanita tua itu dengan santai dan sesekali tertawa. Baginya Dena terlihat sangat lucu dan menggemaskan ketika berlari. Tidak ada tenanga. Tetapi tetap berusaha melarikan diri dari Zein.
"Mau ke mana Oma? Sinilah main-main dengan Zein!" ajak Zein setengah meledek.
Dena yang tahu bahwa dirinya dalam bahaya hanya bisa berteriak dan melempari Zein dengan benda-benda yang ada di sekitarnya.
"Pergi kamu, pergi!" teriak Dena mulai ketakutan.
"Pergi ke mana, Sayang? Bukankah Oma suka bermain denganku. Ayolah ke sini. Jangan lari-lari! Nanti Oma malah jatuh!" ucap Zein meledek.
Dena yang paham jika Zein hanya mempermainkannya tentu saja membuat wanita tua ini lebih marah besar.
Namun Zein tak peduli. Ia malah merasa amat sangat senang. Karena ekspresi ketakutan Dena, sangat lucu dan menggemaskan.
"Pergi kau, kau menipuku!" teriak Dena lagi. Lalu, kembali wanita itu melempari Zein dengan potongan kayu yang ada di dekat kakinya.
"Jangan gitu lah Oma, kalo Zein kena kayunya nanti berdarah gimana? cakepnya hilang nanti, Sinilah Oma. Awas jatuh! " ledek Zein girang.
"Brengsek pergi!" Dena kembali berlari menjauhi Zein.
Di sisi lain, Juan dan Rehan serta polisi yang ada di lantai bawah, mereka terus berjuang melawan badit-badit bodoh yang ada di kubu Dena.
Pertempuran darah pun terjadi di sini.
Vita sendiri yang terlanjur kesal, juga ikutan mengeluarkan jurusnya. Tentu saja untuk membalas rasa sakit yang mereka berikan pada tubuhnya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, anak buah Dena banyak yang tumbang. Polisi-polisi itu juga cekatan melawan mereka. Meskipun, jika dihitung, jumlah mereka lebih sedikit, tetapi semangat juang mereka sungguh tinggi. Sehingga mampu meringkus mereka, sebelum kehabisan tenanga.
Bala bantuan kembali datang. Beberapa mobil polisi datang untuk membantu meringkus mereka. Juan dan Rehan pun tersenyum senang.
"Di mana Zein?" tanya Juan ketika tidak melihat sahabatnya itu.
"Brengsek! Jangan-jangan!" balas Rehan menduga-duga.
"Mari kita cari mereka!" ajak Juan seraya berlari menaiki Anak-anak tangga diikuti oleh Rehan dan juga Vita. Mereka yakin Zein ada di atas bersama Dena. Sebab, sekelebat mata ujung mata Juan melihat Zein mengikuti wanita tua tersebut menaiki tangga.
Benar saja, setelah sampai di balkon, Juan, Rehan dan juga Vita melihat pemandangan yang sangat mencengangkan. Zein berada dalam bahaya. Dena sedang mengacungkan senjata api tepat di depan Zein. Sedangkan Zein mengangkat kedua tangannya pertanda ia menyerah.
"Oma, jangan main-main dengan senjata itu!" ucap Zein memperingakatkan.
"Kenapa? Kamu takut sekarang ha? Kanget ya, aku punya mainan yang bisa membunuhmu ha?" tanya Dena sembari tertawa senang.
Juan, Rehan dan juga Vita yang paham dengan kode tersebut, tentu saja langsung segera bersembunyi.
Sayangnya, di belakang mereka masih ada beberapa beberapa anak buah Dena yang memergoki mereka. Tentu saja, Dena yang kaget langsung menarik pelatuk pistolnya. Peluru melesat sempurna ke arah Zein.
Zein berusaha menghindar, tetapi ia terpeleset, Zein hilang keseimbangan. Zein menabrak pagar balkon. Sayangnya pagar itu sudah karatan dan lapuk. Zein semakin hilang keseimbangan, Lalu ia pun terjatuh dari balkon rumah itu.
Rehan dan Juan yang melihat kejadian itu langsung berteriak histeris.
"Zein!!!!!" teriak Juan.
"Zeiinnnn!" teriakan Rehan jauh lebih kencang. Vita juga berteriak kencang. Namun terlambat, Zein telah terjatuh.
Vita tertegun. Tak tahu harus berbuat apa. Otaknya ngeblank. Vita gemetar. Tatapan matanya nanar. Air mata langsung mengalir begitu saja. Tubuhnya serasa berat. Kakinya sampai tak kuat untuk melangkah. Tetapi, Vita tetap berusaha kuat.
__ADS_1
Tanpa peduli dengan yang lain, Vita langsung berlari menuruni anak-anak tangga. Tentu saja untuk melihat pria itu, pria yang sebenarnya juga ada di dalam hatinya. "Abang!!!!" teriak Vita.
Bersamaan dengan jatuhnya Zein, para polisi langsung berusaha menyelamatkan pria itu. Semua terjadi begitu cepat. Sehingga yang dibutuhkan hanya kecekatan dan kecepatan menolong.
Zein terbaring penuh luka di lantai tempat ia terjatuh. Dengan sigap Vita pun langsung memangku pria itu. "Abang! Abang harus bertahan, Vita mohon! Vita mohon, Bang! " ucap Vita sambil mengelus pipi Zein. Tanpa Vita sadari, ia juga beberapa kali mencium kening Zein. Memeluk tubuh tegap pria itu. Vita takut, benar-benar takut.
Sungguh Vita hampir gila, bagaimana tidak? Dua hari berturut-turut, ia harus menghadapi situasi yang sana. Dua pria yang sama-sama ia cintai bernasib sama. Dia pria yang ia cintai, sepertinya berlomba-lomba berkorban untuknya. Sampai dia sendiri tak tahu harus berkata apa.
"Jangan menangis, aku tak apa," ucap Zein, suaranya terdengar lirih. Sebab saat ini dia berada di antara keadaan sadar dan tidak.
Namun Vita masih tetap bisa mendengarnya. Vita mendengar dengan jelas larangan itu. Sayangnya, mana bisa Vita tidak menangis. Ia begitu ketakutan. Takut jika sampai terjadi sesuatu yang tidak Vita inginkan.
"Abang, Vita mohon! Abang harus kuat! Abang harus bertahan! Vita mohon, emm ...." ucap Vita.
"Do you love me?" tanya Zein, masih lirih, terdengar hanya seperti bisikan. Namun, Vita masih bisa mendengar jelas pertanyaan itu.
Belum sempat wanita itu menjawab atau lebih tepatnya, Vita memang tak mampu menjawab, Zein langsung pingsan.
Tim medis yang telah siaga langsung membawa Zein menggunakan stretcher. Dengan cepat mereka pun membawa tubuh Zein dan membawanya ke rumah sakit.
***
Di lain pihak, Juan dan Rehan yang geram dengan kelakuan nenek jahat ini pun tak tinggal diam. Mereka langsung menyerang Dena. Menangkap wanita itu dan menyeretnya serta membawanya langsung ke depan polisi.
"Jangan sampai wanita jahat ini kalian lepaskan, jika tidak aku sendiri yang akan melenyapkan wanita ini!" ucap Rehan marah sembari menunjuk pada Dena yang saat itu telah di tahan oleh pihak kepolisian. Rehan sangat marah. Semarah-marahnya.
Sungguh, ini adalah pukulan terberat dalam hidup Rehan, perihal Zein. Tak sekali dua kali dia melihat Zein tersakiti. Tak sekali dua kali dia melihat Zein terluka. Kenyataan ini yang membuat Rehan ingin sekali menghabisi orang-orang yang memiliki tingkat tega yang tinggi pada sahabatnya itu. Rehan sangat-sangat tidak bisa menerima itu.
Bersambung...
__ADS_1