PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
KEMARAHAN JUAN


__ADS_3

Juan mengendarai kendaraannya seperti orang yang kesetanan. Nafa yang sedang memangku tubuh kurus Stella tentu saja ketakutan. Bagaimana tidak? Juan seperti tidak bernapas. Muka Juan terlihat sangat tegang. Hingga Nafa tak berani bertanya, melihat wajah Juan saja ia sudah gemetar.


Sesampainya di rumah sakit. Juan langsung membuka pintu dan membopong Stella, membaringkan tubuh kurus itu di atas stretcher dan meminta para petugas medis menolongnya.


"Tolong selamatkan dia dokter!" pinta Juan gugup. Tentu saja ia takut terjadi hal buruk pada Stella.


"Silakan tunggu di luar!" pinta suster, kemudian mereka membawa Stella ke ruangan khusus yang tak boleh dimasuki oleh semua orang, hanya petugas medis dan pasien yang boleh masuk.


Juan menyerah. Mau tak mau ia pun menunggu di luar. Meskipun sebenarnya hatinya berkecambuk ingin menemani wanita itu. Entahlah, rasanya melihat Stella menderita, ia ikut merasakan penderitaan itu. Stella ... nama itu. Nama wanita itu. Wanita yang bisa membuatnya berbunga-bunga ketika melihat senyumnya. Wanita yang sanggup membuatnya khawatir ketika sesuatu yang buruk menerpanya. Juan tak tahu mengapa ia bisa seperti ini.


"Nafa, sini kamu!" pinta Juan kesal. Gadis ini melangkah mendekati Juan, ia gemetar. Ia tahu, Juan tak akan mengampuninya kali ini.


"Kenapa kamu ninggalin dia sebelum aku datang ha?" Juan berkacak pinggang, marah.


"Maaf, Pak. Saya mau sholat, Bapak tahu kan waktu ashar udah hampir habis," jawab Nafa jujur.


"Astaga, alasan saja kamu. Ini saja masih ada lima belas menit." Juan menatap kesal pada Nafa, ingin rasanya ia menelan hidup-hidup gadis ini.


"Maaf, Pak. Tadi Nafa juga kebelet pipis. Sekalian sholat. Maaf ya Pak. Maaf baget!" ucap Nafa gemetar.


"Kalau dia dan bayinya tak selamat, kamu harus tanggung jawab, akan kubawa kamu ke kantor polisi. Biar mereka mengadilimu!" ancam Juan.


"Ampun, Pak! tolong ampuni Nafa," ucap Nafa memohon, gadis ini ketakitan. Sampai matanya berkaca-kaca.


"Kamu pikir aku peduli, kamu membunuh dua nyawa sekaligus Nafa, kamu dengar!" Juan kembali mengeluarkan kekesalannya. Tentu saja Nafa semakin takut, gadis semakin gelisah, memahan tangis.


Hampir tiga puluh menit mereka menunggu, akhirnya sang dokter yang menangani Stella pun keluar.


Dengan cepat, Juan menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana keadaannya dokter?" tanya Juan.


"Pasien baik-baik saja, cuma agak shock. Tolong lebih hati-hati lagi. Saya rasa pasien membutuhkan psikiater," ucap sang dokter menyampaikan pendapatnya


"Apakah keadaan teman saya separah itu dokter?" tanya Juan memastikan.

__ADS_1


"Dia sama sekali tak mau berbicara, saya takut ... teman anda ini, nantinya ... ketika dia tak sanggup lagi menahan apa yang ia pikirkan, dia bisa kembali melakukan hal seperti ini lagi," jawab sang Dokter sesuai apa yang ia pelajari dari kejiwaan Stella.


"Astaga, Dokter. Apa yang harus kami lakukan?" tanya Juan bingung.


"Teman anda memiliki sifat tertutup, sangat-sangat tertutup. Jika bisa buatlah ia berbicara. Tanyakan apa yang ia rasakan, tanyakan apa yang ia alami. Jika kalian tak mampu, mintalah bantuan psikiater. Itu saran saya," jawab dokter itu lagi.


Juan tertegun, sebab apa yang disampaikan sang dokter sangat benar. Stella memang seperti itu. Tertutup dan selalu menyimpan sendiri masalahnya.


"Terima kasih atas sarannya Dok, kami akan berusaha sebisa kami untuk membuat teman kami terbuka pada kami, terbuka dengan masalahnya. Terima kasih sekali lagi Dokter," ucap Juan seraya menjabat tangan sang dokter. Kemudian, dokter tersebut berpamitan setelah sebelumnya ia juga mengizinkan Juan dan Nafa menemui Stella.


Bukan Juan namanya kalau mau langsung menuruti saran sang dokter. Dia sudah berniat memberi pelajaran pada Stella. Selama ini ia hanya diam melihat wanita satu ini tak mau mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan. Bukan mau ikut campur, tetapi ia sudah menganggap Stella bagian dari hidupnya. Juan mau apa yang jadi masalah Stella, dan apa yang jadi masalahnya ditanggung bersama. Hanya itu yang Juan mau.


Kini mereka berdua, Juan dan Nafa masuk ke dalam ruangan di mana Stella dirawat. Terlihat wanita itu hanya menatap kosong ke arah mata memandang.


Juan memang diam, tetapi hatinya geram. Ingin rasanya ia menapar muka wanita bodoh ini.


"Kak Ste, bagaimana keadaanmu?" tanya Nafa.


"Aku baik Fa, maaf aku udah ngrepotin kamu," jawab Stella lirih.


"Apa Kak Ste lapar atau haus? Nafa ambilin minum ya!" tawar Nafa. Stella mengaguk namun dengan cepat Juan mencegah Nafa mengambilkan sesuatu yang Stella inginkan.


Nafa merinding dan juga terkejut. Biasanya Juan selalu menghawatirkan wanita ini. Lalu, sekarang ... malah sebaliknya. Ia malah bersikap seolah membenci wanita ini.


Bukan hanya Nafa, Stella juga terlihat terkejut.


"Tapi Pak!" Nafa berusaha melawan.


"Dia ingin mati kan? Maka biarkan dia mati!" ucap Juan geram. Pria ini tak melepaskan pandangan kebenciannya untuk wanita yang kini berbaring lemah di ranjang pasien.


Stella tak mau kalah, ia pun membalas tatapan itu dengan tatapan tak kalah menengangkan. "Kalau anda tak mau membatu saya, saya tak masalah, Pak. Apa maksud anda bicara begitu!" tantang Stella kesal.


Juan tersenyum sinis. "Benarkah? Apa kamu tahu wahai wanita jahat. Wanita bodoh sepertimu mana punya kekuatan untuk hidup tanpaku. Ha!" balas Juan.


Stella mengerutkan kening, dia bingung. Juan yang dia kenal baik hati dan selalu ikhas melakukan apapun untuknya tiba-tiba saja berubah 180 derajat.

__ADS_1


"Kenapa? kamu kaget? jangan berharap aku menyelamatkanmu dua kali Nona, kamu nggak pantes diselametin, kamu nggak pantas dapat semua itu!" ucap Juan santai.


Stella semakin tak mengerti, namun Nafa bisa menangkap kemarahan Juan. Kemarahan santai yang di tunjukkan Juan, sebenarnya adalah kemarahan yang sudah berada di puncak. Itu sebabnya dia hanya diam.


"Kalau kamu nggak mau nolongin aku, ngapain kamu bawa aku ke sini!" teriak Stella sembari mencabut infus yang ada di tangannya.


"Kak!" pekik Nafa berniat melarang, tapi Juan menatapnya.


"Sudah kubilang, biarkan saja dia mau berbuat apa Nafa. Dia mau mati kan, maka biarkan dia mati, tetapi sebelum itu kamu harus membayar dulu hutang budimu kepadaku Nona, atau aku akan menagihmu di akhirat nanti!" ucap Juan dengan penuh menekanan. Kali ini Juan terlihat serius, dia sama sekali tidak tersenyum. Ia tak main main.


"Kalau kamu nggak ikhlas, ngapain kamu selametin aku brengsek!" teriak Stella lagi.


Juan tertawa senang, akhirnya apa yang ia inginkan terjadi. Memancing emosi wanita pendiam ini.


"Waktu itu, aku hanya punya niat baik Nona. Menyelamatkan satu nyawa, yang aku pikir dia adalah wanita baik-baik. Wanita yang tidak punya salah tetapi teraniaya. Aku mana tahu kalau yang aku selamatkan adalah nenek sihir. Yang di hatinya sangat-sangat jahat. Hingga tega mau membunuh bayi yang tidak bersalah, udah gitu darah dagingnya lagi. Menurut kamu Nafa, wanita ini bagusnya kita apakan!" pancing Juan lagi.


Nafa hanya diam, dia sendiri takut pada pria yang kini berada dilingkup emosi yang sangat tinggi.


"Apa yang kamu inginkan dariku brengsek, jangan berputar-putar?" tantang Stella.


"Tentu saja aku mau kamu membayar hutangmu padaku Nona. Aku telah menyelamatkan nyawamu waktu itu, maka aku mau kamu juga membayarnya dengan nyawa juga," jawab Juan tanpa berpikir lagi. Ia tak mau peduli dengan apapun, yang ia inginkan hanyalah tujuannya tercapai. Dengan caranya.


"Apa maksudmu? kalau kamu mau nyawaku ambil saja. Bunuh saja aku!" Stella semakin kesal pada Juan.


"Nyawamu hahahahha?" Juan tertawa terbahak-bahak.


Stella menatap kesal ke arah Juan.


"Kamu pikir aku mau gitu nyawamu. Aku nggak sudi Nona, kamu dengar! Aku nggak sudi. Nyawamu pahit, kamu banyak dosa. Aku suka yang manis-manis Nona. Jadi bayar nyawa yang kamu hutang kepadaku dengan nyawa yang masih suci. Nyawa yang manis," Juan kembali mengeluarkan serangannya.


"Aku bilang jangan bertele-tele, aku muak!" Amarah Stella semakin terpancing dan Juan semakin senang.


Juan mengukung wanita pemarah ini kemudian ia pun memencet kedua pipi Stella dengan penuh amarah.


"Bayar utang nyawamu itu dengan bayimu, lahirkan dia dan berikan padaku. Jika itu kamu lakukan, maka hutangmu aku anggap lunas. Setelah itu, terserah kamu mau ke mana. Mau mati? silakan. Mau pergi jauh? monggo .... jika perlu, aku akan memberimu uang untuk pergi. Pergi sejauh yang kamu mau, tapi sebelum dua hal itu terjadi. Bayar dulu hutangmu padaku. Lahirkan bayi ini dan ..... setelah itu terserah padamu. Mengerti!" jawab Juan dengan penuh penekanan. Ditatapnya wanita ini, Stella pun menatap mata elang itu. Jujur Stella merinding.

__ADS_1


Pria ini terlihat menakutkan. Stella salah telah menabuh generang perang pada Juan. Sorotan mata penuh amarah, memperlihatkan dengan jelas siapa Juan. Stella dan Nafa merinding.


Bersambung ....


__ADS_2