
"Besok sahabat aku nikah, Fi. Aku pulang ke Batam ya. Kamu ikut kan?" Safira mengelus kepala sang suami yang kini masih ada di pangkuannya.
"Boleh, udah pesan tiket belum?"
"Udah, kan hari itu kita dapet diskonan. Hahaha."
"Maaf ya, Bun. Aku masih belum bisa kasih lebih ke kamu soal materi. Bahkan asisten rumah tangga aja aku nggak sediain buat kamu. Maaf, ya Bun," ucap Lutfi, terdengar sedikit melo sih. Tapi itulah kenyataan yang Lutfi rasakan sebagai seorang suami.
"Aku nggak menuntut itu, Fi. Soal materi, mari kita cari bareng-bareng. Materi itu rezeki. Jadi nggak usah kita risaukan. Yang penting kita usaha, kita doa, kita ikhtiar. Ntar juga dapet," jawab Safira lembut.
Tak ada yang lebih adem dari jawaban itu. Lutfi serasa mimpi bisa mendapatkan wanita sebaik dan selembut Safira. Padahal, jika dilihat lagi, Safira bukanlah anak orang biasa. Hidupnya bisa di katakan bergelimang harta. Tetapi ia memiliki jiwa kesederhanaan yang tinggi. Sehingga tidak membuatnya susah secara materi.
"Eh, Bun. Aku mau bagi rahasia. Tapi Bunda jaga juga ya!" pinta Lutfi, serius.
"Ya,mau bagi rahasia apa?" Safira ikutan serius.
"Temen Bunda yang mau nikah itu, deket ya sama abang?"
"Mungkin, mereka berteman. Dia juga pernah jadi asisten pribadi abang. Kenapa emang?" Safira malah bertambah penasaran.
"Sepertinya abang suka deh sama cewek itu, Bun. Sepertinya mereka saling suka. Ini menurut pandanganku loh, Bun. Jangan dianggap serius," jawab Lutfi sesuai apa yang ia perhatikan selama ini.
__ADS_1
Safira diam sesaat. Lalu ia pun mengingat kembali tentang apa yang pernah ia lewati bersama Zein dan juga Vita sendiri. Dan menurut pandangannya, apa yang suaminya ucapkan itu tidak ada salahnya. Bahkan cendenrung benar.
"Bun!
"Hemmm!"
"Kok malah melamun, bagaiman toh?"
"Nggak, aku cuma lagi mengingat-ingat saja. Kalo mereka saling cinta, kenapa nggak saling terbuka aja. Kan waktu itu Vita belum sama si Uis ini loh. Aneh ya? Apakah mereka merahasiakan sesuatu dari kita?" Safira terlihat serius.
"Dulu ... pas abang habis kecelakaan. Vita itu nangisnya kek orang takut kehilangan gitu loh, Fi. Ngerti nggak? Kek orang takut suaminya pergim Kekasihnya hilang. Pokoknya macam orang takut kehilangan. Pokoknya begitu. Mungkinkah, mereka memang sama-sama ada perasaan. Tapi nggak berani mengungkapkan. Apa bagaimana?" Safira malah semakin bersemangat mengejar apa yang membuatnya penasaran. Sedangkan Lutfi sendiri hanya diam dan mendengarkan. Karena ia menyadari, bahwa saat ini dia salah. Ia malah membangunkan jiwa kepo yang dimiliki sang istri.
"Ya udah lah, Bun. Mungkin mereka belum jodoh. Udah ah, ngomongin kita aja. Eh, Bun. Ngomong-ngomong, kapan aku boleh buka puasa?" Lutfi tersenyum manja.
"Aduh sakit, Bun! Canda aja, Bun. Habis Bunda menggemaskan. Gemes jadinya pengen segera ih." Lutfi terkekeh.
"Bukankah katamu aku kerempeng. Dada rata. Nggak menarik sama sekali. Kenapa sekarang jadi pengen ih? Ha?" Safira kembali mencubit gemas lengan sang suami.
"Itu alibi pria aja, Bun. Jangan percaya! Sebenarnya dia nafsu!" Lutfi kembali terkekeh. Sedangkan Safira hanya tersenyum kesel.
Di hitungan detik berikutnya, Lutfi diam. Ia mengelus manja dagu sang istri. Kemudian ia pun berucap, "Aku beruntung memiliki istri sepertimu, Bun. Sungguh," ucap Lutfi senang.
__ADS_1
"Terima kasih, semoga aku nggak bakalan ngecewain kamu. Aku pun berharap, kamu jangan sampai ngecewain aku. Karena aku udah percaya sama kamu, Fi," balas Safira serius.
"Rumah tangga kita memang terjalin tanpa kita minta, Bun. Tetapi aku tidak main-main membinanya. Aku akan menjaganya sampai nyawa ini terlepas dari raga. Aku janji, Bun." Lutfi menatap mesra sangat istri. Begitupun Safira, wanita yang lebih tua tiga tahun dari sang suami ini, juga membalas tatapan itu dengan tatapan bahagia. Terlihat jelas dari senyum malu-malunya. Bahwa Safira memang bahagia menjadi istri bapak satu anak ini.
Mereka saling melempar senyum, malu-malu. Karena mereka memang sedang malu-malu. Maklum virus bucin sedang menyerang mereka. Sampai suara alarm yang mengharuskan Lutfi pergi untuk bertemu klient pun tidak mereka dengar.
Mungkin gemas dengan tingkah bucin kedua orang tuanya, baby Naya pun merangkak naik ke pangkuan sang bunda. Kemudian memukul kesal wajah sang ayah.
"Aduh, Adek, ada apa?" tanya Lutfi tekejut. Bukan hanya Lutfi yang terkejut, Safira pun ikutan terkejut.
"Dia cemburu, hahaha!" ucap Safira spontan. Sebab bukan hanya memukul, baby Naya juga mendorong kepala sang ayah, agar menjauh dari pangkuan sang ibu.
"Ya Allah, bocah sekecil ini udah tahu cemburu. Dih... dih.. dia marah. Biarin, biarin bundanya ayah ambil. Sini Bun, sini Bun. Sama Ayah aja, Bun!" ledek Lutfi gemas. Seketika baby cantik nan menggemaskan itupun menangis. Seperti mengumpat kesal pada sang ayah. Seperti tidak rela jika sang ibu didekati oleh orang lain selain dirinya.
Lutfi terus saja meledek. Sampai Naya benar-benar menangis kesal.
***
Sesuai janjinya dengan Rehan, Zein pun bersiap menemui bapak satu anak itu. Tentu saja untuk membahas bisnis mereka. Sekaligus mereka berjanji untuk datang ke pernikahan Vita bersama.
Ya Zein dan Rehan sepakat membangun bisnis mereka bersama. Bukan hanya itu, sekarang mereka juga berniat mengumpulkan beberapa bekas karyawan Jovan yang masih pengangguran. Mereka ingin memberikan pekerjaan pada mereka. Sebagai ganti, karena tanpa sengaja Zein pernah membuat mereka di rumahkan.
__ADS_1
Bersambung....