
Vita melongo kesal. Sangking kesalnya, gadis ini membanting kesal koper yang berisi baju miliknya. Melirik sang mantan kakak ipar penuh permusuhan Sedangkan Zein hanya diam, cuek tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Merebahkan tubuhnya di atas pembaringan. Lalu memejamkan mata. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Berbeda dengan Vita yang kini gelisah. Desakan Sera yang meminta dirinya untuk segera resign juga menjadi penyebabnya. Bahkan Sera bersedia mengeluarkan uang untuk membayar denda pada perusahaan Zein.
Namun sekali lagi, Vita tak ingin kembali membebani tantenya ini dengan masalah pribadinya. Mau bagaimanapun ini adalah Kesalahannya. Tidak teliti memasukkan lamaran pekerjaan. Tidak mencari tahu siapa pimpinan perusahaan tersebut. Namun sekali lagi, Vita memang lupa. Atau lebih tepatnya dia memang sengaja melupakan pria yang pernah menikahi kakaknya tersebut.
"Bukannya Vita nggak mau, Tan. Vita dan ibu sudah terlalu banyak punya hutang materi sekaligus budi ke Tante. Vita nggak mau menambahnya lagi. Vita mohon Tan, izinkan Vita menghadapi masalah yang Vita buat sendiri. " Tulis Vita dalam peran teks yang iya kirim untuk membalas permintaan Sera.
"Tante nggak pernah menganggap ini adalah hutang, Vita. Tante hanya nggak mau kamu terlalu dalam terlibat dengan pria itu." Di seberang sana, Sera terlihat mulai kesal. Sebab Vita susah ia atur.
"Entahlah, Tan. Intinya aku ingin belajar menghadapi masalahku sendiri. Bertanggung-jawab atas apa yang telah Vita putuskan, Tan. Tante jangan tersinggung ya. Vita yakin, Vita pasti bisa menghadapi pria brengsek itu sendiri," tambah gadis cantik berambut sedikit ikal ini.
Sera tak membalas pesan terakhir Vita. Kesal, sebab, ia tak bisa mengatur Vita dengan keinginannya. Namun, terbesit dalam pikiran wanita ini bahwa mau bagaimanapun Vita benar, bahwa dia harus mempergangung-jawabkan apa yang telah ia putuskan.
Selepas membalas pesan teks tersebut, Vita kembali merapikan baju-bajunya dan kembali mencari tempat tinggal baru. Agar bisa beda kamar dengan pria penyebalkan ini.
***
Keesokan harinya...
Sera yang masih kesal kembali mencari cara untuk membawa Vita keluar dari perusahaan Zein. Semalam penuh, wanita ini tidak bisa tidur. Ia gelisah, memikirkan cara untuk menaklukkan hati keponakannya itu, agar dengan suka rela mau menerima bantuannya.
Intinya Sera sangat tidak suka jika keluarganya kembali berhubungan dengan keluarga siapapun yang telah melukai perasaannya.
Beberapa menit kemudian, Sera teringat dengan Juan. Teringat bahwa menantunya itu adalah rival Zein. Sera yakin Juan bisa membantunya kali ini.
Dengan cepat, wanita paruh baya ini pun langsung menghubungi menantunya tersebut. Untuk meminta bantuan. Agar membujuk Vita.
Namun sayang, Sera sepertinya salah sasaran. Juan adalah sahabat sejati. Mana mungkin dia mau melakukan pekerjaan kotor yang diperintahkan oleh sang mertua. Meskipun Zein sendiri pernah berbuat jahat padanya.
"Mereka sudah dewasa, Ma. Biarkan sajalah. Nanti Juan bantu ngawasi," ucap Juan di sela-sela panggilan teleponnya.
"Masalahnya bukan awas mengawasi Juan, Mama hanya nggak mau adikmu itu bekerja pada pria bodoh itu. Dia nggak pantas dibantu, Juan. Mengertilah!" ucap Sera. Suaranya terdengar serak, sepertinya wanita ini memang benar-benar menahan amarah.
__ADS_1
"Juan tahu, Ma. Tapi percayalah, Zein tak seburuk itu. Dia memang pernah berbuat salah dan itu sangat fatal. Namun tidak adakah satu kesempatan baginya, untuk memperbaiki diri. Untuk menjadi lebih baik?" tanya Juan lagi. Bukan maksud membela, namun saat ini Juan sangat tahu bagaimana keadaan Zein. Sahabatnya itu sedang memperjuangkan harga dirinya. Harga diri yang kini telah diinjak oleh ayah sambungnya. Harga diri yang telah dipermainkan oleh orang tua yang sangat disayanginya.
"Sepertinya aku meminta bantuan pada orang yang salah, Juan!" ucap Sera kesal.
"Bukan begitu, Ma. Juan hanya ingin kita tidak membalas perbuatan buruk seseorang dengan perbuatan buruk jua. Lalu apa bedanya kita dengannya jika begitu. Iya kan?" balas Juan. Berusaha mencerahkan pemikiran Sera. Sebab ia tahu pemikiran sang mertua sedang diselimuti dendam yang membara.
"Terserah kamu saja, Juan. Yang penting adikmu tidak diapa-apain. Mereka tetap profesional, awas saja kalau mereka sampai cinta-cintaan. Sampai kapanpun Mama nggak akan pernah setuju." Sera langsung menutup sambungan teleponnya. Malas saja berdebat dengan Juan. Pria yang selalu memikirkan perasaan orang lain itu.
Berbeda dengan Sera yang masih kesal. Di sini ada Juan yang tak habis pikir. Mengapa Zein menerima Vita sebagai sekertarisnya? Mungkinkah Zein mempunyai rencana untuk menyakiti gadis itu? Membalas dendam atas kekecewaannya terhadap Stella?
Kegalauan Juan membawa pria ini untuk menghubungi Rehan. Sahabat sekaligus mantan asisten Zein. Tak menutup kemungkinan dia paham tentang kabar ini.
"Ya Jun, ada apa?" sambut Rehan sedikit kurang bersemangat.
"Napa lu lemas, disuruh kawin kok lemas." Terdengar suara Juan terkekeh.
"Diam ah!" balas Rehan mulai kesal.
"Diem napa, Jun. Nggak tahu sahabatnya lagi stress lu," balas Rehan kembali kesal.
Mendengar suara berbeda dari Rehan. Juan pun menghentikan tawanya dan kembali fokus pada permasalahan mereka.
"Lu kenapa sih, Re? Sensi amat. Kenapa ada apa ha?" tanya Juan lagi.
"Entahlah, Jun. Kepalaku rasa mau meledak," jawab Rehan jujur.
Juan mengerutkan kening. Berusaha menerka apa yang sedang dialami oleh sang sahabat. "Kamu kenapa, Re? Nggak suka denga gadis pilihan orang tuamu?" tebak Juan.
"Masalahnya nggak sesimpel itu, Jun. Kamu tahu, siapa gadis yang hendak di jodohkan denganku? Dia adalah adik sepupu Renata," jawab Rehan mulai mau terbuka dengan apa yang ia alami.
Bukannya mengerti, Juan malah semakin bingung. "Renata itu siapa? Cewek elu?" tebak Juan lagi.
"Bukan?" sanggah Rehan. Terang saja, sanggahan Rehan sukses membuat Juan lebih bingung lagi. Sebenarnya apa maksud sahabatnya ini.
__ADS_1
"Lalu?" balas Juan.
"Dia itu sahabat Stella, aku mengenalnya ketika jomblang in Zein ama Stella dulu," jawab Rehan mulai jujur.
"E hem, terus!" Juan berusaha menjadi pendengar sekaligus mempelajari apa yang sebenarnya sahabatnya ingin sampaikan.
"Beberapa bulan yang lalu, aku bertemu dengannya di club. Dia dijebak oleh temannya. Lalu aku bantu dia keluar dari club tersebut. Kemudian!" Terdengar Rehan menarik napas dalam-dalam. Sepertinya ia tak sanggup melanjutkan kata-kata.
"Oke, gini aja Re. Kamu nggak usah muter-muter kesana kemari. Inti masalahmu apa? Jadi calon istrimu itu sepupunya Renata? Iya kan? Lalu Renata itu siapa?" tanya Juan mau langsung pada pokok pembahasan mereka.
"Renata itu, aku dan dia, kami ...." Rehan kembali menghela napas. Rasanya berat sekali terbuka pada Juan. Padahal biasanya ia juga terbuka. Tentang masalah apapun. Lalu, kenapa tentang Renata hatinya serasa amat sangat berat.
"Kalian saling suka?" tanya Juan lagi, berusaha lebih sabar menghadapi seseorang yang sedang patah semangat.
"Ya, Jun. Aku dan dia, kami saling cinta. Beberapa bulan yang lalu, kami sempat berpisah dan saat itu kami belum mengutarakan masalah kita masing-masing. Dia meninggalkan Jakarta tanpa pamit dan sungguh dalam kurun waktu perpisahan kami, aku selalu mencarinya Jun. Dan aku nggak nyangka pertemuan kami malah bernasib seperti ini," jawab Rehan panjang lebar. Barulah Juan paham dengan pokok permasalahan yang Rehan rasakan.
"Coba kamu obrolin masalah ini dengan emak, Re. Siapa tahu emak bisa ngertiin kamu. Ngertiin kalian!" ucap Juan, mencoba membantu mencarikan solusi untuk sang sahabat.
"Mungkinkah emak mau Terima, Jun. Kamu kan juga tahu bagaimana emak," jawab Rehan pasrah.
"Jadi gimana? Menurutku sebelum semua terlambat Re. Benerkan?" desak Juan.
"Kamu bener, Jun. Aku akan coba bicara baik-baik sama emak. Aku akan coba terus terang sama emak. Do'ain ya Jun, semoga emak ngertiin aku," pinta Reha memelas.
"Aku selalu mendoakanmu, Re. Mendoakan yang terbaik untukmu, untuk Zein, untuk kita semua," jawab Juan serius.
Di seberang sana, Rehan mengamini apa yang Juan ucapkan. Sebab di dalam hatinya ia pun menginginkan yang terbaik untuk mereka.
Apa yang hendak Juan sampaikan seketika hilang saat mendengar keluhan Rehan. Pada kenyataannya sang sahabat juga sedang membutuhkannya untuk mendengarkan keluh kesah yang ia alami.
Bersambung....
Terima kasih atas like komen dan votenya...
__ADS_1