
Sesuai janjinya dengan Lydia, Zein pun telah siap mengantar wanita itu untuk terbang ke Jakarta. Untuk memulai hidup baru tentunya. Namun, di Bandara, Lydia menolak Zein ikut terbang bersamanya. Lydia tak ingin terlalu merepotkan Zein dengan masalah yang sedang ia hadapi.
Sebagai orang asing Lydia cukup tahu diri.
"Cukup sampai sini saja, Pak, nganter nya. Sampai di sini, saya sudah Terima kasih banyak. Bapak nggak usah ikut terbang. Share lokasi saja. Biar saya cari sendiri lokasinya," ucap Lydia ketika Zein mau ikut masuk ke Bandara.
"Nggak pa-pa, Mbak. Aku sekalian mau lihat-lihat tuko di sana. Siapa tahu ada yang cocok," jawab Zein jujur.
"Baiklah, aku do'ain semoga usahanya makin lancar," balas Lydia, tetap berusaha menjaga sikap.
Ya Zein dan Lydia sama-sama belum bisa membuka diri. Mereka terlihat sangat kaku. Memang keduanya memilih untuk membatasi diri. Sama-sama tidak mau saling terlibat. Apa lagi urusan pribadi.
Namun, ketika di ruang tunggu. Zein jadi penasaran dengan rencana gadis yang belum lama ia kenal ini.
"Jadi Mbak udah dapet kerjaan?" tanya Zein basa-basi.
"Sudah, tapi ditempatinya di mana, saya belum tahu," jawab Lydia jujur.
"Oh, syukurlah. Seneng mendengarnya. Oiya, bagaimana dengan kakekmu, apakah beliau tidak marah, kalo tahu kamu pergi tanpa pamit?" Zein jadi penasaran dengan pria tua galak itu.
__ADS_1
Lydia malah tersenyum lucu. Pertanyaan Zein terdengar konyol. Mana mungkin pria itu peduli padanya. Bahkan kalau dia mati, Lydia yakin, pria tua itu tak akan menyesal.
"Ya mana mungkin, Bapak kan tahu bagaimana kakek saya. Beliau hanya sayang sama adikku. Karena ibu kandung adikku itu mantu kesayangan kakek. Sedangkan ibuku sebaliknya. Jadi aku pun ikut-ikutan dibenci," jawab Lydia sambil tersenyum getir.
"Maaf, kalo aku mengingatkan masalahmu. Selain kakekmu, apa kamu nggak punya keluarga?"
"Punya di Malang. Nenekku. Beliau ibu dari mamaku. Mungkin nanti kalo nggak ketrima kerja, aku paling pulang ke sana. By the way, makasih ya udah nolongin aku. Nyariin aku kontrakan juga. Pokonya terima kasih banyak ya." Lydia tersenyum.
"Sama-sama, aku doakan semoga kamu menemukan kebahagiaanmu. Bisa bertemu pria baik yang mau menerimamu apa adanya." Zein ikut membalas senyuman Lydia. Dan mereka sama-sama tersenyum, sebelum pesawat yang akan membawa mereka lepas landas.
Sayangnya, kedua sejoli ini tidak menyadari, bawa bahaya sendang mengancam mereka.
Pria tua itu ternyata telah menyuruh seseorang untuk menghancurkan masa depan gadis itu. Hingga ia bisa memiliki alasan untuk mengeluarkan gadis itu dari daftar anggota keluarganya.
***
Di lain pihak, persiapan pesta pernikahan antara Vita dan Luis, bisa di katakan sudah siap sembilan puluh persen.
Kebahagiaan kini nampak jelas di wajah dia sejoli itu. Impian mereka untuk menapaki biduk rumah tangga telah napak di depan mata. Tak ada alasan lagi bagi mereka untuk mengelak. Ini adalah babak baru dalam kehidupan mereka. Dan mereka terlihat bahagia.
__ADS_1
Namun, dalamnya hati siapa yang tahu. Luis memang terlihat selalu tersenyum. Tetapi sesungguhnya hatinya menangis. Sebab semalam, ia kembali ditekan oleh oma Dena. Wanita tua itu tetap kekeh tidak merestui pernikahan ini. Ia tetap memberikan syarat menyedihkan itu kepada sang cucu. Meskipun Luis sendiri telah memberikan berbagai alasan agar wanita itu mau mengerti keinginannya.
"Aku lelah, Oma. Aku ingin istirahat," ucap Luis berusaha menghindar.
"Oma tahu kamu hendak menghindar, Luis. Tetapi ingat, Oma akan terus mengawasimu!" ancamnya kesal.
"Terserah Oma, aku dan Vita, kami sama-sama saling mencintai. Kami ingin tenang Oma. Kami ingin menikah. Kami ingin membina mahligai rumah tangga tanpa campur tangan orang lain , jadi Luis mohon! Tolong, kali ini jangan campuri pilihan, Luis. Luis capek Oma!" jawab Luis seraya melangkah meninggalkan meja makan.
"Luis!" panggil Oma Dena emosi.
Sayangnya, Luis telah membuat keputusan. Ia engan mundur. Apapun yang terjadi.
"Dasar anak kurang ajar! Bodoh! Awas kamu Vita, berani sekali kamu mencuci otak cucuku. Lihat dia sekarang berani melawan ku. Awas saja kamu! Kamu sudah berani bermain apa denganku, lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu! " ancam Dena geram. Wanita ini tersenyum licik sebab ternyata ia telah mempunyai rencana keji untuk tetap menggagalkan pernikahan itu.
Bersambung...
Terima kasih atas like komen dan votenya. Jangan lupa, ikuti kisah Riana dan Langit ya.. Mampukah Langit membuktikan bahwa apa yang dituduhkan istri pertamanya adalah salah? Ikuti kisah perjuangan Langit mencari kebenaran, dalam Ketulusan Hati Isti Kedua.. Stay Tune🥰🥰🥰🥰
__ADS_1