
Rehan terlambat, Zein sudah sampai Batam. Pesawat itu tepat mendarat di detik ketika ia menemukan nomer resi pesawat yang dikirim Ardi di chat akun bisnis milik Zein. Beruntung, Rehan masih memegang akun tersebut. Sepertinya Zein lengah, sehingga ia melupakan masalah ini atau mungkin dia memang sengaja. Entahlah!
"Brengsek!" umpat Rehan kesal. Pria ini meremas kesal kertas yang berada dekat dengan telapak tangannya. Rehan beranjak dari tepat kerjanya. Berlari kecil sembari memencet ponselnya. Terlihat ia emosional, tak mampu menahan kesabaran lagi. Ia pun segera memesan tiket pesawat ke Batam, saat ini juga, detik ini juga. Sayangnya penerbangan berikutnya masih sekitar jam satu siang. Yang itu artinya, dia terlambat mencegah Zein.
Rehan tak kehilangan akal. Ia pun segera menghubungi Stella untuk meminta wanita itu bersiap. Atau paling tidak menceritakan masalah ini dengan Juan, sebelum pria itu datang dan menjalankan rencananya.
"Ste, ayo Ste .... Angkat telponku! Aku mohon!" pinta Rehan berbicara pada momentnya sendiri. Sayangnya, beberapa kali ia mencoba, beberapa kali jua ia gagal. Stella tak mengangkat ponselnya. Mungkin ia sedang sibuk dengan baby-nya. Akhirnya Rehan memutuskan untuk mengirim pesan teks. Berharap Stella segera membacanya.
Reaksi Rehan memancing seseorang untuk menertawakannya. Siapa lagi kalau bukan Ardi. Mata-Mata Zein saat ini. Dengan cepat pria ini pun memberikan rekaman reaksi kemaranan Rehan pada Zein. Dan dia senang telah melakukan tugasnya dengan baik.
Dasar penjilat!
***
Di dalam mobil yang membawanya menuju kediaman Stella, Zein terlihat bahagia. Senyum terus mengembang di bibir tampan itu. Keyakinan akan kekuatan bukti yang ia bawa adalah sumber dari segala sumber kebahagiaan tersebut. Zein sangat yakin, dengan bukti nyata yang ia bawa, ia pasti bisa mendapatkan kembali Stella dan juga bayinya.
"Maaf, Ste. Jika aku serakah, tapi aku mencintaimu," gumam Zein sembari manatap foto wanita yang pernah menjadi istrinya itu.
Dielusnya foto itu, seperti sedang mengungkapkan betapa ia sangat merindukan senyuman yang pernah Stella berikan padanya. Dan kini, senyuman itu telah menjadi milik orang lain. Zein tak terima soal itu. Zein itu ingin merebut kembali
Bukan hanya itu yang membuat Zein berbunga. Kabar dari Ardi yang mengatakan bahwa Rehan marah juga menjadi pemicu kebahagiaan itu. Zein cukup puas dengan reaksi Rehan. Akhirnya ia bisa membuat calon mantan asistennya ini meledak.
"Kita lihat, Re. Siapa yang kuat di sini?" ancam Zein penuh percaya diri. Tanpa menimbang rasa, tanpa berpikir baik buruknya untuk orang-orang di sekitarnya. Apakah ini baik untuk Stella dan bayinya? Zein tak peduli yang penting baginya adalah, apa yang ia ingin harus terjadi.
Mobil yang membawa pria berhati baja ini pun akhirnya sampai juga di kediaman Juan. Santai namun serius, Zein langsung keluar dari mobil itu dan meminta sang sopir untuk menunggu.
__ADS_1
Dengan keyakinan penuh, pria ini pun melangkah menuju pintu di mana orang-orang yang ia inginkan ada di dalam. Sedangkan yang empunya rumah asik bercanda gurau di kamar. Menikmati peran sebagai orang tua baru.
"Apakah Juan ada?" tanya Zein pada asisten rumah tangga di kediaman Juan.
"Ada, Pak. Silakan masuk!" jawab perempuan paruh baya itu. Tentu saja ia langsung mempersilakan Zein masuk, sebab ia sudah hafal dan tahu jika pria ini adalah sahabat Juan.
Tanpa di minta, Zein pun langsung duduk di sofa ruang tamu tersebut. Sembari menunggu Juan datang, ia pun memainkan gawainya dengan santai.
Lima menit kemudian, Juan pun datang menyambutnya.
"Hay, Bro. Eh, tumben sendirian. Mana Rehan?" tanya Juan. Suaranya terdengar renyah, bersahabat seperti biasa.
"Hay, juga. Rehan? Dia nggak ikut," jawab Zein, masih santai.
"Ada acara apa ni? Bukannya harusnya kamu datang sebulan lagi? Pas peletakkan baru pertama, kan?" tanya Juan penasaran.
"Oh, semoga urusanmu lancar!" jawab Juan dengan senyum tampannya.
"Aamiin!" balas Zein. Ia juga tersenyum.
Suasana hening sesaat, kemudian Zein mengeluarkan selembar kertas dan memberikan kertas tersebut pada Juan.
"Apa ini Zein?" tanya Juan.
"Baca saja!" jawab Zein mempersilahkan.
__ADS_1
Juan menatap Zein sekilas. Lalu, pelan namun pasti Juan membuka lipatan kertas tersebut. Membacanya dengan teliti. Belum sempat Juan berucap. Tiba-tiba Stella datang merobek kertas itu dan melemparnya tepat ke wajah Zein.
"Apa-apa ini?" tanya Zein.Terkejut dengan kedatangan serta reaksi tiba-tiba Stell. Sedangkan Juan hanya melongo bingung.
Dengan berani, Stella pun menatap mata Zein dan menantang pria tak punya hati itu untuk mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke sini. "Apa yang ingin kamu buktikan pada kami?"
Zein tersenyum licik. Bukannya takut, pria ini malah merasa tertantang dengan tantangan yang ada di depan matanya. Baginya seru juga beradu urat leher dengan wanita yang ia kenal lemah lembut dan penuh cinta ini.
"Apakah ini Stella yang aku kenal dulu?" tanya Zein sambil mendekati Stella.
Stella tak gentar, ia pun kembali menjawab pertanyaan yang menurutnya melecehkan itu. "Kenapa? Ada apa dengan Stella yang dulu?" tanya Stella tanpa takut.
"Sayang, ayolah! Aku mencarimu kemana-mana, Honey. Marilah kita pulang, jangan seperti ini!" ucap Zein, berpura-pura lemah seakan wanita inilah yang meninggalkannya.
Juan masih diam, masih mempelajari masalah yang terjadi antara Stella dan Zein. Namun, ia tak bodoh. Prasangkanya langsung tertuju bahwa Zein adalah mantan suami Stella.
"Apa maksudmu mengajakku pulang? Kamu sudah menceraikan aku, Zein. Mengembalikanku pada orang tuaku. Membatalkan pernikahan kita. Itu artinya hubungan kita berakhir sejak saat itu. Lalu sekarang kamu datang ingin menjilat ludah yang telah kamu buang. Apa kamu sudah gila, Zein?" Mata Stella menatap nanar. Menahan kekesalan yang yang teramat sangat pada pria jahat ini.
"Mana buktinya jika kita bercerai? Siapa saksi pembatalan pernikahan itu? Tunjukkan bukti itu padaku. Aku bisa menuntutmu atas tuduhan palsu ini, Ste. Please, aku mencintaimu, Sayang. Apapun kesalahanmu, aku akan memaafkanmu. Mari kita pulang! Mari ambil bayi kita, aku tunggu di sini. Aku rasa Juan tidak keberatan jika kamu kembali pulang bersamaku. Jangan seperti ini, Ste. Bukankah pertengkaran dalam rumah tangga itu biasa. Kenapa kamu mengambil langkah seektrim ini. Meninggalkanku, lalu menikah dengan sahabatku. Kamu kejam, Ste. Sungguh.... tapi, aku tetap memaafkanmu. Asalkan kamu mau pulang bersamaku!" ajak Zein lembut. Memelas seakan di sini dialah yang tertipu, yang teraniaya, yang ditinggalkan.
Shock, Stella tertegun tak percaya jika Zein akan menggunakan cara selicik ini untuk menghancurkan rumah tangganya. Untuk memisahkan dirinya dari Juan. Ini sungguh gila.
"Apa maksudmu berkata seperti itu?" tanya Stella kesal.
"Sayang, ayolah. Jangan paksa aku untuk membuka aibmu. Hutang keluargamu sudah aku lunasi, apartemen mobil dan biaya sekolah adikmu juga sudah aku bayar. Aku kurang apa, Ste? katakan?" tambah Zein.
__ADS_1
Stella manatap nanar pada pria pembohong yang di depannya . Stella shock. Sangat-sangat shock. Tidak menyangka jika Zein ternyata sangat-sangat licik. Sedangkan Juan lebih shock dari Stella. Ia tak menyangka bahwa wanita yang ia nikahi adalah istri sahabatnya. Juan malu, untuk meredam rasa malu dan juga amarah yang mulai muncul kepermukaan, Juan memilih meninggalkan Zein dan Stella. Membiarkan mereka menyelesaikan masalah ini.
Bersambung...