PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Juan posesif


__ADS_3

Juan berjalan tenang di belakang Vita. Sedangkan Vita sendiri berlari mencari ruangan di mana sekarang sang sahabat sedang menjalani operasi.


Ketika sampai di sebuah lorong, Vita mendengar seseorang sedang bercengkrama. Vita yakin itu adalah Zein. Sebab ia sangat mengenal suara itu.


"Abang!" panggil Vita pada Zein.


Seketika Zein pun menoleh, dan segera berjalan mendekati gadis itu.


"Gimana Fira, Bang?" tanya Vita khawatir.


"Dia masih di dalam, Vit. Do'ain adikku baik-baik saja ya," pinta Zein. Wajah pria itu terlihat sangat khawatir. Meskipun ia berusaha menyembunyikan itu dari orang-orang di sekitarnya, tapi tidak untuk Vita. Vita yakin saat ini Zein takut. Takut kehilangan adik satu-satunya.


"Sabar ya, Bang! Percayalah Fira pasti baik-baik saja," ucap Vita mencoba memberi kekuatan pada Zein.


Beberapa detik kemudian, Juan pun sampai di tengah-tengah mereka.


Seketika semua mata pun tertuju pada pria itu. Pria yang sekarang telihat lebih dewasa dan gagah tentunya.


"Hay, Bro! Gimana adik lu?" tanya Juan pada Zein yang saat ini sedang bercengkrama dengan adik iparnya.


Zein langsung menjawab, "Masih di dalam, Bro. Minta doanya ya, semoga adekku baik-baik saja." Zein tersenyum tipis.

__ADS_1


Juan pun sama. Tersenyum, namun senyuman itu seperti kurang lepas. Mereka bertiga memang tersenyum. namun tetap, senyuman itu terasa kaku.


Tak sempat saling sapa. Tim medis sudah keluar dari ruang operasi tersebut. Dan mengabarkan bahwa pendarahan yang dialami oleh Safira sudah berhenti.


Mereka mengabarkan bahwa pendarahan yang dialami Safira sudah bisa diatasi dan sekarang keadaan Safira stabil. Hanya menunggu dia sadar.


"Terima kasih banyak, Dok. Bolehkah kami melihatnya?" tanya Zein pada dokter yang menangani Safira.


"Tentu saja, tapi untuk sementara kalian hanya bisa melihatnya melalui jendela kaca itu. Nanti kalo pasien sudah dirasa aman, dan sudah dipindahkan ke ruang perawatan, maka kalian boleh menemaninya," jawab sang dokter.


"Baik terima kasih, Dok!" jawab Zein.


Mendengar kabar baik itu, tentu saja kedua orang tua Safira tersenyum bahagia. Meskipun jujur, saat ini mereka masih diselimuti rasa khawatir. Karena Safira masih dijaga ketat oleh para petugas medis di sana. Belum membebaskan keluarganya untuk menemani.


"Ayo, Bro! Kita ke sana!" ajak Zein.


"Sorry, Bro, sepertinya aku mesti terbuka dengan sesuatu yang pernah terjadi denganku dan adikmu di masa lalu," ucap Juan.


Zein mengerutkan kening heran. Aneh, sebab Safira, dan kedua orang tuanya tak pernah cerita apapun perihal masa lalu yang pernah melibatkan mereka.


"Maksudnya?" Zein menatap heran pada Juan.

__ADS_1


"Aku dan adikmu dulu pernah pacaran. Bahkan kami .... " Juan menatap Zein. Berharap Zein tidak menghakiminya.


"Serius, Bro!" pekik Zein, sedikit tak percaya.


"Ya, tapi cinta kami tak mendapat restu." Tak ingin menutupi apapun dari Zein, Juan pun menceritakan detail masalah yang pernah ia alami bersama Safira. Sampai kedua orang tua yang kini menangis sedih itu memisahkan mereka.


Zein sendiri tak sanggup berkata-kata, sebab ini menurutnya sangat dramatis. Tidak menyangka, kedua orang tua yang ia anggap super baik dan pengertian, nyatanya sanggup berbuat keji di masa lalu.


"Serius, aku nggak nyangka, mereka bisa begitu, Bro!" ucap Zein melo, suasana berubah menjadi sedih.


"Itulah, Bro. Kenapa aku kelewat bucin sama Ste, karena aku dan dia pernah merasakan hal yang sama. Maaf, bukan aku menyindir mulai tetapi aku yakin bahwa setiap apa yang terjadi memang sudah ditakdirkan. Aku harap kamu tidak menghakimiku, menghakimi orang tuamu, apa lagi menghakimi Fira. Sebab apa yang kita jalani, semua ini tidak lepas dari kehendak Illahi," ucap Juan, tulus dari hati.


Zein diam sesaat. Mencoba mencerna setiap kata yang Juan sampaikan. Jika di pikir, apa yang sahabatnya sampaikan adalah benar. Bahwa semua ini tak lepas dari campur tangan Tuhan. Hanya saja ia merasa lucu, kenapa seluruh keluarganya menjadi pemain antagonis untuk pasangan Juan dan Stella. Andai boleh Zein ingin meminta maaf pada Juan dan Ste atas apa yang telah keluarganya lakukan padanya mereka.


"Aku sebagai perwakilan keluargaku, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya, Jun. Ini tulus dari hatiku yang terdalam!" ucap Zein meminta.


"Aku sudah memaafkan mereka, Zein. Tapi, aku tidak akan pernah terima jika mereka mengusik kami lagi. Terlebih perihal Berliana, mungkin secara biologis dia adalah putrimu. Tetapi secara hati dan hukum dia adalah putrimu dan Ste. Aku bicara begini bukan ingin mengancammu, aku hanya ingin memperingatkan. Agar tidak ada masalah lagi ke depannya. Tolong jangan mengusik Berliana, biarkan putriku tumbuh dan berkembang sesuai usianya." Juan terlihat serius perihal ini.


Sebelumnya, mereka memang belum pernah duduk bersama membicarakan perihal ini. Sebenarnya, Juan memang menunggu momen ini untuk ia bahas dengan Zein. Karena pada dasarnya ia tidak akan pernah membiarkan siapapun untuk mengusik anak dan istrinya.


"Aku berjanji tidak akan mengusik kalian, Jun. Harusnya aku malah berterima kasih. Karena kamu udah jaga Ste dan bayiku ketika aku telah dibutakan ego. Maafkan aku Jun. Maafkan kekhalifahanku," ucap Zein.

__ADS_1


Juan diam. Tapi ia berusaha percaya pada Zein. Berusaha memberi kesempatan pada sahabatnya ini untuk berubah. Kembali ke jalan yang benar dan lebih baik tentunya. Tak lupa, dalam hati Juan juga mendoakan Zein dan Fira agar mereka mendapatkan jodoh yang baik. Bisa memahami satu sama lain. Dan akhirnya bisa membuat mereka bahagia.


Bersambung...


__ADS_2