PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
GAGAL


__ADS_3

Rehan tak bisa tidur sejak ia melihat wanita itu. Wanita yang ia prediksi adalah Stella. Rehan semakin gelisah terlebih ketika orang yang ia suruh untuk menyelidiki kecurigaannya tak bisa menemukan petunjuk sedikitpun. Sepertinya Juan begitu kuat melindungi istrinya dari media, dari dunia luar serta dari orang-orang yang menurutnya tidak penting.


Satu-satunya orang yang bisa membantunya kali ini hanyalah Gani. Ya Gani, sang asisten bos besar itu. Namun, jika melewati pemuda itu, resiko temannya ini kehilangan pekerjaan terbuka lebar. Juan tak akan mengampuni penghianat, sekalipun ia memberikan data informasi itu kepada sahabatnya sendiri.


"Astaga, apa yang harus aku lakukan?" tanya Rehan pada dirinya sendiri.


Untuk meredakan kegelisahannya, Rehan pun memilih berkendara. Menghubungi teman-temannya untuk bersenang-senang. Setidaknya untuk melupakan apa yang sekarang ada di dalam pikirannya.


Kini Rehan telah berada di depan club yang ia inginkan. Namun, bayangan wajah Renata tiba-tiba menganggunya. Gadis cantik itu pernah meminta padanya untuk mengubah kebiasaan buruknya. Melampiaskan apa yang membuatnya berat dengan bersenang-senang dengan hal haram. Renata pernah berkata padanya gunakan waktumu untuk hal positif agar hidupmu lebih berarti.


Sejenak Rehan menelaah setiap kata yang pernah ia dengar dari Renata. Dan semua itu adalah benar. Rehan selalu terbenam dalam dunia fana ketika ia mulai resah. Memang sementara ia bisa melupakan masalahnya namun setelah itu masalah itu bukannya reda malah makin membuatnya bertambah.


Rehan kembali menginjak pedal gasnya. Memilih tidak masuk ke dalam tempat haram itu. Pria tampan ini memilih kembali ke rumah dan mencari tahu di mana gadis yang susah membuatnya move on itu berada.


***


Malam yang dingin membuat Stella enggan melepaskan selimutnya. Matanya mencuri pandang pada pria yang sedari tadi terlihat sibuk dengan pekerjaannya.


Dialah Juan, seorang pria yang berhasil membuatnya Baper. Yang sukses membuatnya melupakan pria yang pernah menguasai hatinya. Tak mudah bagi Stella untuk melupakan Zein kala itu. Wanita ini masih sering menangis jika mengingat ayah bayinya. Namun, semenjak menikah dan merasakan perhatian Juan, lambat laun, entah mengapa, pesona Juan lebih kuat mengobrak-abrik jiwanya. Stella terlena dalam kasih sayang yang nyata Juan berikan. Pria ini tulus menunjukkan cinta kasih padanya. Hati wanita mana yang tak luluh dengan perhatian penuh yang ia terima dengan suka rela.


"Ngapa nggak tidur, Mi. Nggak ngantuk apa, ini udah jam dua belas lewat loh," ucap Juan tanpa melihat ke arah Stella. Ternyata pria ini juga membalas perlakuan Stella padanya. Mereka berdua saling mencuri pandang tak jelas. Andai Stella tidak sedang mengandung mungkin Juan sudah pasti akan meminta haknya. Mewujudkan cinta mereka yang masih berusaha mereka tutupi.


"Belum ngantuk!" jawab Stella bohong. Padahal ia ingin di peluk oleh pria gagah tersebut.

__ADS_1


"Dari tadi Papi lihat udah nguap-nguap kok masih bilang belum ngantuk," ucap Juan seraya merapikan berkas-berkas yang berserakan di meja kerjanya.


Stella menyembunyikan senyumnya. Sebab ia tahu, Setelah ini Juan pasti menghampiri dan mulai mengelus perutnya seperti biasa. Seperti malam-malam sebelumnya dan Stella menyukai itu. Entahlah, anak yang ada di dalam kandungannya seperti memberika berkah yang luar biasa untuknya.


Benar saja, setelah Juan merapikan pekerjaan tersebut. Ia pun langsung menghampiri sang bidadari hati yang sedari tadi diam-diam menunggunya.


"Laper nggak Mi, Papi laper nih," ucap Juan, sembari duduk di samping Stella dan mulai mengelus perut wanita itu.


Yah, pengennya dipeluk malah laper, Papi-Papi, gerutu Stella dalam hati.


"Laper? Mau makan apa, mari aku buatin," ajak Stella seraya berusaha bangun. Juan terlihat menahan tersenyum sebab Stella terlihat bersusah-payah bangun dengan perut yang makin membesar itu demi dirinya yang lapar.


"Tapi Mami capek nggak?" tanya Juan.


"Nggak, yuk ke dapur," jawab Stella.


Stella menggandeng dan menarik tangan Juan. Juan hanya tersenyum sebab ini baru pertama kali Stella lakukan itu padanya. Biasanya dialah yang seperti ini pada Stella.


Di sudut hati yang lain, tanpa Stella sadari, wanita ayu ini terus menggengam tangan Juan. Seperti enggan kehilangan. Dan tanpa ia sadari juga, ternyata ini menjadi perhatian Juan. Biasanya Juan yang selalu menunjukkan kasih sayangnya, cintanya. Kini sedikit demi sedikit Stella juga mulai menunjukkan bahwa Juan juga berarti baginya.


Tangan Stella masih terus menggengam tangan kekar itu sembari membuka kulkas dan mencari bahan makanan. Juan juga memanfaatkannya kesempatan ini. Membiarkan sang istri terus memiliki tangannya. Lucunya, jika tangan kanannya yang beraktivitas, maka ia akan menggengam tangan itu di sebelah kiri, begitupun sebaliknya. Jujur Juan merasa sangat lucu.


Boleh nggak sih, Ste aku cium bibir kamu. Dikit aja, batin Juan mulai ngeres. Ingin sekali Juan mengecup bibir indah itu, tapi takut Stella akan marah padanya.

__ADS_1


Stella terus mencari bahan makanan dan sesekali bertanya pada Juan namun lucunya pertanyaan yang ia ajukan untuk Juan, ia maoah sering menjawab sendiri. Sungguh menggemaskan , bukan?


"Mau makan apa? Ini ada ayam ungkep sama bakso tahu. Kayaknya mbaknya baru bikin tadi pagi," ucap Stella.


"Eh jangan deh, udah malam jangan makan gorengan. Nanti perut kamu buncit!" jawab Stea sendiri.


Juan hanya diam dan mengikuti apapun yang Stella masak untuknya. "Gimana kalau capcay sayur aja, tambah bakso ikan?" tanya Stella sembari menatap Juan.


"Apapun yang kamu masak, pasti akan ku makan," jawab Juan lembut. Stella pun tersenyum sembari mengelus manja pipi Juan. Sama seperti yang sering Juan lakukan padanya.


Ste, aku jadi gemes sama kamu. Pengen deh aku gigit kamu, gumam Juan dalam hati.


Astaga, menahan hasrat lebih susah dari pada membuatmu marah Ste, tolong bantu aku Ste. Dikit aja, boleh ya cium, batin pria tampan ini lagi. Juan terlihat semakin tak bisa menahan keinginannya. Dengan lembut pria ini pun membalikan tubuh Stella. Menatap mesra mata wanita itu. Membiarkan batin mereka saling menyapa lewat sorotan sinar mata yang mereka miliki.


"Apa?" tanya Stella.


Juan tak menjawab, ia malah terhanyut dalam suasana romantis yang ia ciptakan sendiri. Stella masih diam, belum paham dengan apa yang Juan inginkan. Namun ketika Juan mengangkat dagunya, Stella paham jika sang suami menginginkan bibirnya. Stella terlihat mencengkeram baju tidurnya. Terang saja dia gugup, namun juga ingin.


Pelan namun pasti Juan mulai mendekatkan bibirnya. Dekat dan semakin dekat, keduanya terlihat siap menyatukan bibir mereka namun sayang, aksi mereka terhenti oleh dering ponsel milik Juan. Membuat mereka sama-sama menyadari jika apa yang mereka lakukan tidak semestinya. Walaupun mereka telah terikat sah secara agama dan hukum. Namun mereka masih belum mengikrarkan cinta yang telah nyata hadir di tengah-tengah mereka. Bahwa sebenarnya, hati mereka telah sama-sama terbuka untuk satu sama lain.


"Maaf," ucap Juan seraya berpura-pura merogoh ponsel yang ada di dalam kantong celananya. Sedangkan Stella hanya tersenyum dan membiarkan sang suami pergi untuk menerima panggilan telepon tersebut. Kemudian ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Suasana romantis yang sama-sama mereka inginkan gagal. Namun, Stella menyadari jika ini adalah salah. Ia tak ingin dinilai memanfaatkan kebaikan Juan. Tak boleh salah mengartikan kebaikan Juan.


"Stella, sadarlah. Jangan seperti ini," ucap Stella pada dirinya sendiri. Berusaha menyeting ulang pola pikirnya yang mulai nyaman dengan Juan.

__ADS_1


Bersambung...


Sapa tu yang bikin Juan ma Stella gagal kiss kissan☺☺☺


__ADS_2