
Stella tak bisa berucap ketika Juan melangkah meninggalkan tempat ini. Jujur hati Stella sedikit sakit. Ternyata tanpa ia sadari, sang suami memang belum sepenuhnya melupakan sang mantan. Stella terlena. Terlena dengan kebaikan Juan selama ini. Nyatanya, Diam-diam pria yang ia cintai itu masih menyimpan seseorang di dalam hatinya. Dan kini, Stella benar-benar menyadari bahwa dia hanya terlena. Ya, Stella terlena. Terlena oleh kebaikan Juan. Yang ia pikir, hati pria itu sepenuhnya miliknya. Stella salah. Stella menyesal karena kurang peka dengan isi hati sang suami.
Meskipun bayangan kebahagiaan itu tampak nyata ia rasakan. Namun, namanya kenangan, ternyata tak mudah bagi pria itu untuk melupakan. Buktinya, dia masih goyah, masih gundah, masih resah, ketika bertemu dengan wanita yang pernah bertahta di dalam hatinya.
Sekarang, Juan memang benar-benar goncang. Nyatanya pria itu memilih pergi tanpa kata. Tanpa menjelaskan apa yang ia inginkan. Andai, Juan mau berterus terang dengan apa yang ia rasakan. Stella bersumpah akan berusaha mengerti. Akan berusaha memahami. Karena dia menyadari, kehadirannya di dalam kehidupan Juan memang tidak sengaja. Ibarat kamar milik Safira kosong, ia masuk. Lalu, kini sang pemilik telah datang. Mau tak mau Stella harus keluar.
Stella menyadari itu. Sangat-sangat sadar. Hanya saja, ia menyayangkan sikap Juan yang pergi tanpa kata. Terlihat jelas pria itu masih mencintai masa lalunya.
"Ste!" ucap Renata berusaha menyadarkan Stella.
"Eh, iya. Ada apa?" tanya Stella bengong.
"Suamimu kenapa?" tanya Renata.
Seketika Stella tersadar, bahwa ternyata sang suami sudah tidak ada di tempat. Lalu ia pun berpamitan untuk mengejar sang suami. Mau bagaimanapun saat ini, ia harus tetap menjaga emosi sang suami. Baginya Juan adalah prioritasnya. Juan adalah hatinya. Ia harus tahu dan paham apa yang diinginkan oleh pria itu.
Bukan hanya itu, Stella harus memastikan bahwa pria itu tak bertingkah aneh-aneh. Harus tetap berada di jalur yang aman.
"Juan! Tunggu!" pinta Stella sembari terus mengejar pria pemilik hatinya itu.
Sedangkan Juan sendiri enggan mendengarkan siapapun sekarang. Hatinya teramat sangat kacau. Terang saja, pria ini merasa kacau. Sebab tanpa ada yang tahu, saat ini ia merasa dibohongi. Dibohongi oleh orang-orang yang ia percaya. Wanita-wanita yang ia cintai. Termasuk Stella.
Kini ingatan pria itu berputar. Ia tiba-tiba ingat perbincangannya dengan sang istri di mobil tadi siang. Juan ingat ketika Stella bertanya dan mengutarakan isi hatinya, buka tanpa alasan. Pasti wanita itu menyembunyikan sesuatu darinya. Dan inilah jawaban dari sesuatu itu. Juan yakin, jika Stella telah mengenal Safira.
"Juan tunggu!" kembali Stella memanggilnya. Namun, Juan tetap saja kekeh. Pria ini sama sekali tak mau menghentikan langkahnya. Ia malah langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraannya. Ke arah ke mana angin membawanya. Juan marah. Sangat-sangat marah.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain, Stella terus berlari mengejar pria tampan itu. Stella berteriak, menangis. Sebab Juan tidak memedulikannya.
Stella tidak kurang akal. Ia pun meminta Rehan untuk turun dan membantunya mencari Juan. Tentu saja wanita ini tak ingin terjadi sesuatu pada pria pemilik hatinya itu. Stella tak mau Juan nekat dan melakukan sesuatu yang tak diinginkan oleh siapapun.
"Re! cepatlah!" pinta Stella di sela-sela tangisnya.
"Iya, Ste. Ini aku lari. Kamu di mana?" tanya Rehan sembari berlari ke arah mobilnya.
"Aku di dekat kantin belakang!" jawab Stella.
Tak banyak bicara, mereka pun memutus panggilan telepon dan lebih memfokuskan tujuan mereka saat ini.
Melihat mobil milik Rehan, Stella pun langsung sigap. Wanita ini pun langsung menyetop mobil tersebut dan langsung naik.
"Hati-hati, Ste!" ucap Rehan kasihan.
Rehan kembali tancap gas dan mencari mobil Juan lewat signal ponsel pria itu.
"Maafkan aku, Ste. Aku sungguh nggak paham dengan ini!" ucap Rehan.
Stella menangis. Sebab dia sendiri juga masih belum paham. Ia tahu ceritanya. Ia paham alurnya. Hanya saja kurang mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi. Terlebih Juan pergi begitu saja tanpa menjelaskan ini padanya.
"Iya, Re. Nggak apa-apa. Aku saja yang kurang bertidak cepat. Harusnya aku cerita dulu ke Juan, kalo aku bertemu wanita yang ia anggap meninggal itu," ucap Stella pada Rehan.
Rehan terperangah. Terang saja pria ini terkejut. Karena ini memang mengejutkan baginya.
__ADS_1
"Maksudmu? Wanita tadi itu Safira?" tanya Rehan curiga.
"Iya, dia Safira. Wanita yang Juan ketahui telah berpulang," jawab Stella. Kembali wanita ini menangis. Bagaimana tidak menangis? Stella merasa dia sangat-sangat bodoh. Lambat bertindak. Bodoh dan kurang peka.
"Sabar, Ste. Mungkin Juan hanya kaget!" ucap Rehan berusaha menenangkan istri sahabatnya ini.
"Bagaimana aku bisa tenang, Re! Kamu tahu bagaimana Juan. Dia nggak pernah main-main soal hati. Berapa tahun Fira ninggalin dia? Dia tetap setia, Re. Bahkan saat pernikahan kami pun dia masih menyimpan Fira di hatinya. Dan kini, aku menyadari, ternyata aku nggak bisa ngantiin Fira di hati Juan, Re. Aku mesti gimana?" ucap Stella menyuarakan isi hatinya.
"Jangan pesimis begitu, Ste. Siapa tahu Juan hanya kaget. Aku rasa Juan memang sayang kok sama kamu. Dia nggak pura-pura, aku yakin dia cinta kok Ste sama kamu," ucap Rehan lagi.
"Entahlah, Re. Aku hanya tak yakin saja. Kamu tidak tahu bagaimana pernikahanku dan Juan terjadi. Alasannya hanya Berliana, Re. Dulu aku ingin melenyapkan bayiku. Lalu Juan datang dan memaksaku menikah dengannya. Tentu saja dengan akal bukusnya," ucap Stella jujur. Wanita ini terlihat meremas ujung-ujung bajunya. Berharap hatinya mendapatkan ketenangan.
"Sabar ya, Ste. Kita cari Juan dulu, lalu kita tanya, maunya dia gimana?" ucap Rehan sembari fokus pada signal ponsel yang mengarahkannya pada ponsel milik Juan. Rehan berharap Juan tidak mematikan ponselnya. Hanya itu harapan mereka untuk menemukan Juan.
Kunci masalah ini hanya ada Juan. Hanya dengan keinginan pria itu, semuanya bisa diselesaikan. Rehan yakin itu.
***
Di sisi lain, ada Safira yang shock melihat reaksi Juan yang berbeda dengan apa yang ia bayangkan.
Safira berpikir, Juan akan lebih tenang darinya. Nyatanya tidak. Juan begitu gusar. Pria itu terlihat sangat-sangat tertekan. Sungguh, saat ini Safira merasa bersalah. Harusnya ketika dokter menyatakan dia sembuh, harusnya saat itu juga ia kembali ke Indonesia dan menjelaskan apa yang terjadi pada Juan. Tidak menunggu dengan pikiran bodohnya itu.
Jujur Safira menyesal. Sangat-sangat menyesal. Mengapa harus bertemu di situasi seperti ini. Harusnya, ketika Stella mengajaknya bertemu dan berdiskusi saat itu, dia harusnya minta izin bertemu Juan. Agar semuanya bisa dibicarakan di awal. Bukan mengejutkan seperti ini. Sungguh, Safira merasa sangat-sangat menyesal.
Bersambung....
__ADS_1
Terima Kasih yang masih setia. Semoga Juan lekas kembali dan jangan marah lagi☺