
Luis masih diam mematung sembari menatap gadis yang hampir tiga tahun ini tidak ditemuinya. Hatinya terkagum-kagum oleh kecantikan Vita. Ya, pada dasarnya gadis ini memang cantik. Hanya saja, sedikit tomboy.
Luis bukan sengaja tidak mau menemui Vita. Tetapi jarak dan waktulah yang tak mengizinkan mereka bertemu. Terlebih, Vita pernah menolak cintanya. Membuat pria ini sedikit canggung. Bukan hanya itu, beberapa kali Vita juga menganti nomer ponselnya. Membuat Luis kesulitan mencari kabar gadis itu. Entah apa alasannya, gadis ini suka sekali menganti nomer ponsel miliknya.
Namun, namanya hati, meskipun tidak pernah bertemu dan berkirim kabar, tetap saja, rindu itu ada.
Luis masih berusaha menguasai debaran jantungnya. Sembari menatap gadis ayu yang berdiri anggun di depan matanya. Membuat Vita tersipu. Jiwa iseng gadis ini pun bangkit.
"Luis kan?" tanya Vita basa-basi. Sedikit mengejutkan sang pria.
Luis tersadar dari lamunan. Dengan cepat pria tampan ini mengulurkan tangannya. Sebagai tanda sambutan atas pertemuan pertama mereka.
"Eh iya, ini aku," jawab Luis malu-malu.
"Hehe, kirain lain. Habis beda!" canda Vita dengan senyuman manisnya.
"Jahat kamu, Vit. Baru juga tiga tahun kita nggak ketemu. Udah lupa aja ama aku," balas Luis dengan candaan khasnya.
"Nggak, aku nggak lupa kok! Habis kamu makin tinggi," balas Vita sembari mempratikkan cara mengujur tinggi dengan tangannya. Tak lupa, ia juga mempersembahkan senyuman termanisnya.
Luis pun membalas candaan Vita dengan senyum malu-malu.
"Masak sih? bisa aja kamu," jawab Luis, tak kalah malu.
"Serius, eh mau masuk dulu nggak?" tanya Vita, terlihat salah tingkah.
"Emang ada siapa di dalam?" tanya Luis.
"Ada ibu sama kakak sih, keponakan juga. Tapi mereka udah pada berhibernasi." Vita terkekeh.
"Oh, ya udah aku masuknya kapan-kapan aja, ya. Udah jalan, yuk!" ajak Luis.
Vita mengangguk tanda setuju.
__ADS_1
"Eh, tapi udah pamitan belum?" tanya pria berkulit putih ini.
"Udah. Ibu sama kakak udah tahu kok, kalo aku jalan ama kamu," jawab Vita jujur.
"Oke, yuk!" ajak Luis lagi. Lalu, tanpa ragu, pria tampan ini pun menggandeng sang pujaan hati. Mengajaknya melangkah menuju mobil.
Dengan hati-hati, Luis membukakan pintu untuk Vita. Dari pancaran sinar mata itu, terlihat jelas bahwa pria ini sangat-sangat mencintai Vita.
Luis masuk ke mobil dan duduk tampan di kursi kemudi. Kemudian tanpa banyak basa-basi ia pun segera melajukan kendaraannya.
Di dalam mobil, mereka saling melempar senyum tanpa alasan. Entah itu karena malu atau karena senang karena rindu yang menumpuk selama ini, telah teruraikan.
"Kirain kamu nggak sungguh-sungguh loh mau datang ke Belanda!" ucap Vita memulai perbincangan mereka.
"Beneran lah, masak aku boong," jawab Luis singkat.
"Oiya, kapan sampai? Ke sini memang ada kerjaan atau?" tanya Vita.
"Nggak ada sih, aku memang sengaja pengen ketemu kamu," jawab Luis jujur.
"Kamu memang istimewa Vita. Bagiku kamu istimewa." Luis melirik sekilas ke arah sang pujaan hati. Membuat Vita tersipu.
"Jangan begitu! nanti kekasihmu marah loh!" ucap Vita memperingatkan.
"Kekasih? Kekasih siapa?" tanya Luis santai.
"Ya kekasihmu lah, Pak. Siapa lagi?" jawab Vita.
Luis hanya melirik manja. Sedangkan Vita tersipu. Untuk menyembunyikan rasa malunya, Vita pub membuang pandangannya ke luar jendela.
Setengah jam berkendara, akhirnya mereka pun sampai ketempat tujuan. Sebuah restoran mewah yang ada di kota tersebut.
Zein sengaja memesankan ruangan yang berada di lantai paling atas. Agar lebih romantis. Menurutnya. Tetapi benar juga, ketinggian suatu tempat untuk menyatakan cinta juga dinilai memberikan kesan tersendiri. Entahlah, sensasinya berbeda saja.
__ADS_1
"Kita cuma mau makan kan? Ngapain ke sini?" tanya Vita pura-pura lugu.
Luis menghentikan langkahnya dan menarik pinggang gadis yang ia cintai ini. Lalu dengan berani ia pun menatap mesra mata itu dan menjawab. "Sudah kubilang kan kalo kamu istimewa." Luis tersenyum. Sedangkan Vita berdebar. Tertegun. Tak tahu bagaimana harus menjawab.
"Yuk! Jangan bengong dong!" ajak Luis lembut. Dengan penuh kasih sayang, ia pun membimbing sang ke kasih hati ke meja makan yang sudah direservasi atas nama mereka.
"Luis!" panggil Vita pelan. Gadis ini sangat-sangat terpesona dengan ruangan di mana dia berada saat ini. Vita tak menyangka ternyata ruangan itu begitu indah. Sangat-sangat romantis.
"Heeemmm!" jawab Luis lembut.
"Kita nggak salah tempat kan?" tanya Vita, kali ini dia tidak pura-pura. Tetapi benar-benar tidak menyangka.
"Tidak Vita! Ini memang untukmu! Aku ingin tempat ini jadi saksi," jawab Luis apa adanya.
"Saksi? Saksi apa?" tanya gadis ini lugu.
"Sebagai saksi kalo pada kenyataannya hatiku milikmu. Maukah kamu menjadi bidadari dunia akhiratku?" Luis menatap intens mata sang gadis. Sedangkan Vita pun membalas tatapan mata itu. Mereka saling menatap. Hati mereka saling berbicara lewat tatapan mata itu.
"Aku harus jawab apa, Luis?" tanya Vita lembut.
"Yes or no, Honey! Hanya itu!" jawab Luis langsung pada intinya. Ya begitulah Luis, langsung to the poin. Tak pernah main-main. Ia adalah pria yang tak suka membuang-buang waktu percuma.
"Kamu pemaksa Luis, aku membencimu," jawab Vita, terlihat gadis ini tersenyum malu-malu.
"Kali ini aku memang memaksa, Honey. Karena aku tak ingin kehilangan dirimu lagi," jawab Luis jujur.
Sungguh, saat ini Vita benar-benar merasa sangat istimewa. Luis jauh-jauh datang dari Paris ke Belanda hanya untuk menemuinya. Hanya untuk membuktikan bahwa pria itu mencintainya. Jika begini, mana mungkin Vita tega menolaknya. Vita hanya tak mau menyakiti pria yang begitu tulus mencintainya.
"Apakah ini suatu paksaan, Luis?" tanya Vita sembari memainkan kancing-kencing kemeja pria tampan ini.
"Kalo aku jawab jujur, iya. Ini paksaan. Aku mau kamu menerimaku, Vit. Menerimaku dengan hatimu," jawab Luis.
Terdengar mesra. Sangat indah. Vita pun tak punya alasan untuk menolaknya. Dengan hati berbuga, gadis ini pun ikhlas menerima Luis sebagai calon suaminya. Dengan komitmen dan segala peraturan yang telah mereka sepakati.
__ADS_1
Bersambung.....