PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Permintaan Hati


__ADS_3

Ucapan Zein membuat Vita tak sanggup lagi berkata-kata. Gadis ini memilih diam seribu bahasa. Kadang-kadang ia juga melirik, mencuri pandang. Nyatanya, senyuman pria gagah itu menghadirkan ketenangan dalam jiwanya.


Bukan hanya ketenangan, Vita juga tak mau munafik. Ia juga punya keinginan untuk mencium bibir pria itu. Entah mengapa, dua kali bibir mereka bertemu, dua kali juga Vita gelisah karenanya. Pokoknya, kesan tentang bibir itu sangat berbeda dengan milik pria yang memiliki hubungan nyata dengannya. Entahlah, kenapa malah yang semu yang berkesan. Vita hanya bisa memendam itu. Ya, hanya itu yang bisa ia lakukan.


Mereka memang duduk berdampingan sejak ijab qobul antara Safira dan Lutfi diikrarkan. Namun, tak ada pembicaraan penting di antara mereka. Mereka memilih diam dan kadang-kadang juga saling lirik.


Sayangnya lirikan mereka tak semesra biasanya. Mungkin pembicaraan sebelum ini yang mempengaruhi hubungan mereka saat ini. Ungkapan samar itu ternyata bisa membuat hubungan mereka menjadi canggung.


"Kamu tadi nyetir sendiri?" tanya Zein ketika semua tamu undangan menikmati hidangan mereka. Sehingga tak ada satu pasang mata pun yang tertarik melihat mereka.


"Ya," jawab Vita pelan.


"Tadi Fira yang telpon kamu suruh ke sana, apa bagaimana?" tanya Zein lagi.


"Iya, Fira minta Vita cariin pengacara. Eh, nggak tahunya pas sampai sana malah om sama tante udah kasih keputusan. Udah gitu malah jadi penonton, mereka berdua adu argumen!" jawab Vita jujur.


"Jodoh, siapa yang tahu!" jawab Zein singkat.


"Abang benar! Sekuat apapun kita berusaha. Sehebat apapun kita berjuang. Secinta apapun kita, kalo nggak jodoh juga nggak bakalan bareng. Vita percaya itu!" balas Vita dengan senyum tulusnya.


"Itu pinter, ngapa tadi ngomong nggak jelas." Zein melirik Vita. Begitupun dengan gadis itu.


"Entahlah, Bang!" Vita meremas kedua tangannya. Seperti dia sedang gugup saat ini.


"Jangan buat dirimu terlalu masuk dalam kebimbangan. Bukankah kamu sudah memilih." Zein menundukkan kepala, mencoba menyembunyikan apa yang ia rasakan saat ini.


"Bagaimana denganmu, Bang? Sampai kapan Abang akan menyakiti diri Abang sendiri?" tanya Vita sedih.

__ADS_1


"Abang tidak menyakiti diri Abang sendiri, Dek! Siapa bilang, kamu ngawur ya!" jawab Zein, kali ini dia berani mengangkat wajahnya dan menghadiahkan senyum tertulus yang ia miliki.


"Vita tahu alasan Abang nggak dateng ke pertunangan Vita dan Luis. Abang jangan bohong lagi!" desak Vita serius.


Zein malah tersenyum dan mengacak rambut gadis sok tahu ini. Lalu ia pun kembali memilih menghindar. Zein tidak ingin, setelah pembicaraan mereka, Vita jadi goyah. Vita labil dan akhirnya apa yang telah menjadi rencana keluarga menjadi berantakan dan sia-sia. Ujung-ujungnya, nanti dia yang disalahkan.


Zein tak mau berada di situasi seperti itu lagi. Situasi di mana ia selalu berada dalam peran antagonis, yang selalu menghadirkan kebencian di antara hati orang-orang yang ada di sekitarnya.


***


Malam semakin larut, para tamu undangan sudah pulang ke rumah masing-masing. Tanpa terkecuali Vita. Gadis itu sudah berpamitan sejak selesai menyantap hidangan dan juga memberi ucapan selamat kepada sang sahabat.


Kini tinggalah Lutfi dan juga Safira yang saling diam-diaman.


Safira cuek dengan sang suami. Sedangkan Lutfi hanya duduk diam, tak tahu harus berbuat apa. Sebab saat ini, dia berada di dalam kamar nona barbar itu.


Lutfi menatap sang istri. Ingin mengatakan sesuatu. Tapi ragu, takut wanita barbar ini akan menjawab permintaan dengan suara tinggi. Lutfi hanya takut menimbulkan perkara.


Sedangkan Safira, tetap saja asik dengan pengering rambut dan beberapa skincare miliknya. Melakukan rutinitas sebelum tidur. Tanpa peduli, bahwa saat ini ada seorang pria yang telah sah menjadi imamnya.


Terlalu lama dicuekin, Lutfi pun akhirnya tak tahan. Dengan penuh keberanian, Lutfi pun mengutarakan keinginannya untuk pulang. Untuk melihat keadaan Naya. Sebab ia tahu, Naya masih tak enak badan. Karena tumbuh gigi.


"Maaf, Ra! Bolehkah aku pulang?" tanya Lutfi hati-hati. Takut menyinggung ego wanita ini.


Safira masih saja diam. Ia hanya menatap sang suami dari cermin yang ada di depannya. Tanpa menjawab sepatah katapun.


"Kamu tahu kan, kalo Naya lagi nggak enak badan. Aku nggak bisa ninggalin dia lama-lama, Ra!" ucap Lutfi lagi.

__ADS_1


Safira bangkit dari tempatnya duduk saat ini. Kemudian ia pun menjawab.


"Kamu mandi aja, ganti bajumu. Biar Naya aku yang urus. Kamu nggak usah sekhawatir itu," jawab Safira seraya memakai jaket yang ada di ranjang. Kemudian ia pun mengambilkan selembar jaket dan juga baju ganti Lutfi.


"Kamu mau ke mana malam-malam gini, Ra. Yang bener aja kalo kamu mau jemput Naya ke rumah. Sama siapa?" cecar Lutfi takut.


"Ternyata kamu itu cerewet juga ya. Pandai banget ngomel," jawab Safira sambil melangkah pergi. Namun, Lutfi bukanlah pria yang suka menggantung masalah. Ia pun menarik lembut tangan Safira untuk menghentikan langkah wanita tersebut.


"Jangan kebiasaan pergi ninggalin masalah, Ra! Selesaikan dulu. Jawab yang bener dulu kalo suami nanya!" ucap Lutfi. Masih dengan suara lembut. Tujuannya tetap sama, agar Safira tidak meninggikan suaranya.


"Kamu tahu aku sangat membenci situasi ini. Jadi jangan paksa aku untuk berbicara. Biarkan aku diam. Biarkan aku memenangkan hatiku. Tolong jangan tanyain aku terus. Kepalaku ingin meledak memikirkan pernikahan bodoh ini, Fi!" jawab Safira, matanya terlihat berkaca-kaca. Tergambar jelas bahwa hati wanita itu sangat-sangat terluka. Lutfi bisa merasakan kepedihan itu. Sebab, sejatinya ia juga merasakan hal yang sama.


"Jangan kamu pikir aku tidak merasakan apa yang kamu rasakan, Ra! Aku pun sama. Aku juga merasa ini adalah beban untukku. Karena tanpa sengaja aku telah menyakitimu. Maafkan aku!" balas Lutfi, mencoba mengalah. Agar masalah di antara mereka tidak menggantung lagi. Kalau bisa, ia ingin masalah ini selesai malam ini.


Safira menghela napas dalam-dalam. Lalu ia pun kembali meminta pada Lutfi untuk sedikit mengerti dirinya.


"Fi, tolong lepaskan aku!" pinta Safira lirih. Seperti permintaan itu begitu tulus.


Lutfi pun melepaskan pegangan tangannya. Tanpa berucap apapun. Tetapi, keanehan terjadi di sini. Lutfi sudah melepaskan genggaman tangannya. Namun Safira tak kunjung pergi.


"Bukan melepaskan genggaman tanganmu, tapi.... " Safira menatap lekat pada sang suami


"Tapi apa, Ra?" tanya Lutfi penasaran.


"Tolong lepaskan aku dari ikatan pernikahan ini!" jawab Safira serius.


Sungguh, hati Lutfi serasa teremas. Bagaimana tidak? Ini adalah malam pengantin mereka, tapi dengan tatapan sendu, sang istri memohon padanya. Meminta padanya untuk melepaskan ikatan suci pernikahan ini. Tentu saja Lutfi bingung, bagaimana harus menjawab permintaan menyakitkan sang istri.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2