
Zein menghela napas dalam-dalam. Jantungnya berdetak sangat kencang. Seperti ada seseorang yang mengejarnya. Padahal, yang mengejarnya adalah pikirannya sendiri. Keinginannya sendiri. Hingga dia bisa menjadi gila seperti ini.
"Ya Tuhan, tolong jangan biarkan aku jatuh cinta padanya. Tolong hapuskan rasa ini, Tuhan. Aku mohon!" ucap Zein sembari mengusap kasar air mukanya. Mencoba meredam detak jantung yang tidak beraturan itu. Zein sangat-sangat gugup. Terlebih apa yang dilihatnya tadi sungguh-sungguh membuatnya salah tingkah.
"Kenapa dia ceroboh sekali sih?" gerutu Zein kesal.
Zein kembali merebahkan tubuhnya. Mencoba melupakan apa yang menjadikan pikirannya gelisah seperti ini. Namun, semakin ia mencoba, rasanya bayangan itu semakin nyata ia rasakan.
Apa yang diinginkan Zein semakin kuat. Hingga rasanya tak sanggup mengendalikan dirinya.
Andai boleh jujur, apa yang pernah ia rasakan untuk Stella, tak segila dengan apa yang ia rasakan terhadap Vita. Ini sungguh menengangkan. Menggebu, tetapi tak mampu ia utarakan.
"Ya Tuhan!" ucap Zein. Masih dalam kegelisahan. Untuk melupakan rasa itu, pria ini berniat kembali ke teras kamarnya. Menikmati sejuknya angin malam. Siapa tahu angin tersebut bisa membantunya menghilangkan gelisah yang menyerang.
Zein memilih kursi di dekat kolam renang. Merebahkan tubuhnya di sana. Menatap bintang-bintang yang ada di angkasa. Pria ini tersenyum sendiri, sebab bintang itu terlihat mengemaskan seperti Vita. Seperti gadis yang membuatnya gila.
***
Di sudut ruang yang lain, ada Isabela yang sedang mengamuk karena Rehan memutuskan tali pertunangan mereka secara sepihak.
Gadis ini langsung menggedor pintu kamar Renata. Meminta gadis itu keluar.
"Renata!" teriak Isabela. Spontan seluruh penghuni rumah pun terkejut. Bingung dengan apa yang terjadi.
"Renata! Keluar kamu!" teriak Isabela lagi. Tak lama kedua orang tua Isabela pun keluar kamar dan mendatangi anak gadisnya yang sedang mengamuk dan menggedor pintu kamar keponakan mereka.
"Ada apa Bela, kenapa marah-marah begitu?" tanya ibunda Isabela.
Isabela masih belum mau menjawab. Gadis ini malah menangis emosi. Menangis kesal karena seseorang yang ia cari tak kunjung keluar dari kamar.
__ADS_1
"Di mana gadis perebut calon suamiku, Mama?" tanya Isabela dalam isak tangisnya.
"Gadis perebut calon suaminu gimana? Siapa sih? Apa sih maksudnya?" tanya Taka yang tak alain adalah ayahanda IsabelaIl. Sedangkan Isna yang tak lain adalah ibu kandung Isabela. Beliau terlihat bingung. Masih belum bisa mencerna kalimat yang diucapkan oleh putrinya.
"Dia Ma dia, Renata. Mana wanita penggoda itu?" tanya Isabela kesal, emosinya semakin memuncak. Semakin sulit untuk dikendalikan.
"Astaga Isabela! Jaga bicaramu! Kakakmu nggak mungkin seperti itu!" ucap Isna tak percaya.
"Mama selalu membela dia. Sebenarnya anak mama itu aku apa dia sih?" tanya Isabela lagi. Kali ini nada bicara gadis ini lebih tinggi. Isna sendiri tak menyangka jika sang putri bisa bicara dengan nada setinggi itu padanya.
"Bukan maksud membela, coba jelaskan dulu, apa yang sebenarnya terjadi?" balas Isna lagi. Isabela pun menghapus air matanya dan menceritakan apa yang menyebabkan dia marah.
"Astaga! Benarkah? Benarkah Renata seperti itu?" tanya Isna, sebenarnya wanita paruh baya ini tak percaya dengan apa yang ia dengar. Namun, Isabela tak mungkin berbohong.
"Papa bilang juga apa, Ma. Dasar wanita kurang ajar. Udah susah-susah kita tampung, dia malah nusuk dari belakang. Dasar wanita berhati busuk!" ucap Taka emosi.
Merasa mendapat pembelaan, akhirnya Isabela pun semakin berani. Diketuk nya lagi pintu kamar Renata. Berkali-kali mereka mengetuk, sampai akhirnya Renata pun keluar dari kamar. Masih menggunakan kimono dan rambut yang digulung dengan handuk.
"Sini kamu! Dasar wanita penggoda calon suami orang!" ucap Isabela sambil menarik tangan Renata dan membawanya ke ruang tamu.
"Penggoda calon suami orang gimana? Aku nggak ngerti, Bel!" ucap Renata berusaha mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Alah, jangan pura-pura lugu kamu. Kamu kan yang meminta mas Rehan buat ninggalin aku. Biar dia milih kamu. Biar dia nikahin kamu. Dasar kecentilan. Nggak nyadar ya kamu di sini tu cuma numpang!" ucap Isabela meremehkan.
Mendengar sang adik berbicara merendahkan, akhirnya Renata sadar, bagaimana mereka menganggapnya selama ini.
"Aku memang numpang di rumah ini, Bel. Tapi aku bukan pengemis!" ucap Renata tegas. Tentu saja dia tidak mau dianggap hanya menumpang. Karena di sini ia juga bekerja. Bekerja membuat roti setelah itu ia juga merangkap menjadi kasir. Tetapi gaji yang mereka berikan hanya separonya saja. Karena mereka beralasan bahwa Renata sudah mendapatkan tempat tinggal dan makan geratis.
"Oh ya, kamu bukan pengemis ya. Buktinya kamu mau makan bekas aku. Mau pakek baju bekas aku. Apa namanya kalau bukan pengemis. Dasar gembel, perebut calon suami orang. Gatel lu ya, dasar ganjen nggak jelas!" ucap Isabela lagi. Semakin pedas dan berani.
__ADS_1
Namun, Renata tak mau tinggal diam. Sebab ia memang sudah tak tahan hidup di rumah ini.
"Aku memang gembel, Bel. Tapi aku tak serendah itu!" jawab Renata berani.
"Udahlah Renata, kamu ngaku aja, kalau mau guna-gunain Rehan kan supaya dia milih kamu," ucap Isna memojokkan.
"Ya Tuhan, Bude. Renata bukan orang yang seperti itu. Demi Tuhan," ucap Renata dengan bibir gemetar.
"Alah, aku tahu semua rahasia keluargamu. Ibumu mau dapetin bapakmu juga diguna-guna dulu. Nggak menutup kemungkinan kalau kamu juga melakukan hal yang sama kan!" tuduh Isna lagi.
"Astaga Bude, apa maksud Bude bicara seperti itu. Ibu buka orang seperti itu Bude. Dia wanita baik-baik. Maaf jika saya tak Terima kalau Bude jelek-jelekin ibu," ucap Renata, masih setia dengan isak tangisnya.
"Halah, jangan sok polos kamu. Ayo katakan, kamu minta syarat ke mana? Biar Rehan jatuh cinta sama kamu?" cecar Isna lagi.
"Demi Tuhan, Bude. Renata nggak pernah berbuat serendah itu. Renata selalu bersama bahwa hidup mati dan rezeki itu adalah rahasia Tuhan, Bude. Begitupun dengan jodoh. Tak sedikitpun dalam benak Renata ingin membuat mas Rehan dari Isabela. Apa lagi Isabela udah Renata anggap sebagai adik sendiri. Mana mungkin Renata tega, Bude. Ya Allah, tuduhan Bude kejam sekali," jawab Renata. Gadis ini terlihat menatap sedih pada ketiga orang yang kini sedang menghakiminya.
"Sudah, Ma. Usir saja, ngapain sih nampung anak yang nggak tahu diuntung ini!" ucap Taka tega. Pada dasarnya Taka memang tak menyukai Renata. Baginya Renata adalah benalu yang harus disingkirkan. Namun ia belum belum menemukan cara untuk mengusir gadis itu dari rumahnya.
"Pakde nggak usah repot-repot usir saya. Tanpa Pakde minta, malam ini juga Renata akan keluar dari rumah ini," balas Renata tanpa berpikir panjang.
"Baguslah kalau begitu, tahu diri juga kamu!" ucap Taka, tak mau kalah pedas dengan yang lain.
Renata terlanjur sakit hati. Tanpa pamit akhirnya gadis ini pun memutuskan untuk meninggalkan rumah yang belum lama ia tempati. Sebenarnya rumah yang mereka tempati ini adalah rumah almarhum ibunya. Yang awalnya di sewa oleh mereka. Namun, entah bagaimana ceritanya, rumah ini malah menjadi milik mereka. Bahkan ketika Renata datang dan menanyakan rumah ini, mereka malah menertawakannya. Jelas-jelas sang ibu menulis di dalam surat wasiatnya, bahwa rumah ini adalah Renata. Tetapi mereka malah tidak mau mengakuinya.
Tak ada pilihan lain. Renata sudah muak diperlakukan tidak adil di rumah ini. Renata enggan hidup diantara orang-orang yang hanya menafaatkanya. Yang suka menghakiminya. Rwnata lelah.
Dengan perasaan kesal dan sumpah serapah yang ia simpan dalam hati, akhirnya Renata memilih pergi dari sini.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like komen n share ya ๐ Makasih๐