PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Memahami Keinginan Hati


__ADS_3

Mungkin, saat ini telah terjadi peperangan di dalam batin Vita. Antara rasa penasaran dan pemahaman akan rasa yang tiba-tiba muncul tanpa ia duga. Untuk pria itu, pria yang beberapa bulan yang lalu Vita kagumi. Sang mantan kakak ipar.


Vita sudah berusaha move on dari rasa yang pernah membelitnya beberapa bulan yang lalu. Dengan berusaha mengantinya dengan rasa yang baru. Namun, ini bukan kuasa Vita untuk mengubahnya. Pada kenyataannya rasa itu masih ada. Masih tersisa hingga saat ini.


Gadis ayu ini termenung dalam diam. Memikirkan dan memahami apa yang sebenarnya terjadi pada hatinya. Kenapa gejolak ini terasa amat lain? Kenapa ada rasa ketidakrelaan berpaling dari pria itu? Padahal belum pernah terjadi apa-apa di antara mereka.


Sekedar tabrakan kecupan tak mungkin ia artikan macam-macam. Namun, pada kenyataannya kejadian itu membuat Vita tak bisa bernapas lega. Terlebih saat ini ia telah membangun sebuah komitmen dengen seseorang. Seorang pria yang dengan tulus mencintainya.


"Ya Tuhan! Kenapa rasa ini datang lagi. Bukankah aku telah memohon ke Pada-Mu untuk menghapusnya. Tuhan, tolong jangan goyahkan hatiku. Izinkan aku tetap menatap Luis, aku mohon!" pinta Vita dalam doanya. Tak lupa gadis ini juga meminta agar Tuhan memberikan jodoh terbaik untuk Zein. Agar ada yang menemani hari-hari pria itu di kemudian hari. Agar hatinya bisa tenang. Jika melihat Zein bahagia.


Entah mengapa Vita menginginkan itu. Menginginkan kebahagiaan pria itu. Padahal, dulu dia sangat membenci Zein karena kebodohannya. Tetapi, seiring berjalannya waktu, mengenal Zein adalah sesuatu yang unik. Sehingga menghadirkan rasa lain di dalam pikirannya.


Jujur, Vita sendiri masih dilema dengan perasannya. Keinginan pikiran dan suara hatinya berbeda. Vita berusaha keras agar tetap waras. Tetapi hatinya, mendesaknya untuk tetap mengajaknya memikirkan pria itu.


"Ya Tuhan, apa ini. Mengapa Engkau biarkan aku berada di dalam situasi yang sangat sulit seperti ini. Tolong Izinkan aku memilih dia yang ada dipikiranku, Tuhan. Tolong hapuskan dia yang sekarang memiliki hatiku! Aku tidak ingin menyakiti siapapun, Tuhan. Baik Luis, Kakak, ataupun dia." Vita tak kuasa lagi menahan kemelut yang saat ini menyerang hati dan pikirannya. Sehingg air mata yang seharian ini berusaha ia tahan, akhirnya keluar dengan sendirinya. Rasa sesak tiba-tiba menyerang. Entahlah, pada kenyataannya Vita telah tenggelam dalam rasanya. Rasa yang sebenarnya tidak ia inginkan. Namun, berhasil melilitnya.

__ADS_1


***


Di sini bukan hanya Vita yang dilanda kegalauan yang sangat luar biasa. Ada Zein yang juga merasakan hal yang sama.


Rasa tak rela jika Vita bersama bosnya membuat pria ini hampir gila.


Mengapa harus dipertemukan lagi, jika pada akhirnya ini membuat hatinya hancur? Mengapa Tuhan mengizinkan nya bertemu dengan gadis itu lagi, jika pada akhirnya ia harus menghadapi kenyataan yang teramat menyakitkan.


Zein berpikir, perasaannya selama ini hanyalah kebetulan saja. Maksudnya, kebetulan karena gadis itu sangat mirip dengan sang mantan istri. Meskipun hanya wajah dan senyuman, sedikit tutur kata juga terdengar mirip. Zein berpikir, kekagumannya hanyalah main-main. Sesaat, dan kemudian menghilang.


Nyatanya tidak, hatinya tergores ketika ia melihat gadis itu dimiliki pria lain. Terl bih orang itu adalah bos sekaligus sahabat dekatnya.


"Eh, tumben main. Nggak diomelin nanti ama calon bini?" tanya Zein sembari meneguk minuman beralkohol rendah itu.


"Udah izin, mau ketemu elu. Mumpung elu di Jakarta. Habis ini elu bakalan sibuk kan?" jawab Rehan dengan candaan seperti biasa.

__ADS_1


"Iya, sekarang dunia bukan milikku lagi, Re. Semua sudah berubah. Aku sekarang berada di posisimu ketika kamu kerja padaku," balas Zein sembari tersenyum kecut.


"Hilih, mana bisa di sampain. Aku sama kamu neda jauh, Bro. Bagai langit dan bumi, tahu nggak. Aku kerja sama kamu gajinya cuma berapa juta, la kamu kerja ama Luis gajinya ribuan dolar, bahkan puluhan ribu," jawab Rehan sembari terkekeh.


"Apa artinya uang kalo hati kita nggak bahagia, Re?" celetuk Zein tanpa sengaja.


Rehan mengerutkan kening heran. Sebab pria yang ada di depannya seperti bukan Zein yang ia kenal. Zein yang ini lebih melo dan terbawa perasaan. Tidak seperti Zein yang biasanya selalu logis.


"Maksudnya?" tanya Rehan heran.


"Nggak ada maksud. Udah nggak usah dipikirin. Oiyaa, sekarang kamu kerja si mana? Ikut siapa?" tanya Zein pada Rehan.


"Jualan baju join ama Renata. Lagi belajar bangun bisnis sendiri, Bro. Do'ain berhasil ya!" pinta Rehan dengan senyum khasnya tentunya.


"Tentu saja aku do'ain. Do'ain aku juga ya. Biar bisa dapat ketenangan batin!" jawab Zein sedikit bercanda.

__ADS_1


Rehan kembali merasakan keanehan di sini. Entah kenapa? Pria ini merasa, pria yang saat ini ada di depannya bukan seperti Zein yang ia kenal selama ini. Ini sungguh berbeda. Gaya bicaranya memakai hati. Buka lagi logika yang ia banggakan selama ini.


Bersambung....


__ADS_2