
Juan mengecup kening sang wanita pemilik hati dengan cinta terbaik yang ia miliki. Pun dengan Stella. Ia pun menerima perlakuan istimewa itu dengan hati ikhlas tanpa paksaan. Dengan hati bernunga penuh kebahagiaan.
"Terima kasih istriku. Aku mencintaimu," ucap Juan usai mengecup kening sang istri.
Stella tersenyum, wanita ayu ini juga mengelus pipi sang suami. Sedangkan tangan satunya masih merangkul leher pria yang telah berhasil bertahta manja di hatinya saat ini. Rasanya nyaman saja berada di posisi seperti ini. Saling memiliki tanpa ada penghalang lagi.
Juan memainkan hidung dang istri dengan hidungnya. Manja. Sesekali ia juga mengecup bibir mungil itu. Entahlah, Juan hanya gemas saja. Lalu sedetik kemudian ia ingat sesuatu. Tadi sesuatu yang keluar dari miliknya tanpa sengaja ia semburkan ke dalam rahim Stella. Juan tertegun kaget. Takut kalau-kalau? Stella hamil.
Untuk mengurangi rasa takutnya, Juan pun bertanya, sembari tersenyum dengan candaannya, "Apakah Mami sudah siap hamil lagi?" canda Juan.
Stella langsung mengangguk. Wanita cantik ini ternyata tidak keberatan jika memang harus mengandung lagi. Stella ikhlas jika harus mengandung dalam waktu dekat. Itu tidak masalah baginya.
"Oke! Jika itu tak masalah untuk Mami. Papi lega. Tetapi putri kita masih terlalu kecil Mam. Jarak kelahiran terlalu dekat bukannya tidak bagus bagimu ya, Mam?" Jujur Juan diselimuti rasa takut, tetapi tak dipungkiri jika ia bahagia dengan jawaban Stella. Pria ini hanya tak ingin menyakiti Stella. Karena mereka sama-sama tahu jika Stella baru beberapa bulan melahirkan.
"Tak apa, Pi. Bukankah itu udah kewajiban Mami mengandung dan melahirkan bukti cinta kita," jawab Stella lembut. Kini binar cinta tampak jelas di kedua mata dia insan yang sedang dimabuk asmara ini. Mereka terlihat kembali menyatukan bibir. Berciuman penuh kasih sayang.
"Papi ingin punya banyak anak, Mam. Apa Mami nggak keberatan?" tanya Juan lagi.
__ADS_1
"Tentu saja tidak, suka-suka Papi aja," jawab Stella lirih. Tentu saja jawaban wanita ayu ini adalah kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ternyata Stella benar-benar ingin membuktikan bahwa dia bisa menjadi istri yang siap untuk membahagiakan sang suami.
Juan menaikan selimut yang menutupi mereka berdua. Lalu ditariknya pelan wanita cantik ini agar masuk ke dalam dekapannya.
"Papi bahagia, Mam," ucap Juan jujur.
"Kenapa?" tanya Stella.
"Karena kita telah menjadi sepasang suami istri sepenuhnya. Papi bahagia karena sekarang Papi yakin, jika cinta Mami hanya untuk Papi," jawab Juan apa adanya. Tanpa menutupi apapun.
"Seharian ini Mami berpikir keras, Pi. Mami nggak ingin membohongi hati Mami. Ataupun hati Papi. Itu sebabnya Mami diam. Karena pikiran Mami serasa penuh. Penuh dengan berbagai pertanyaan yang mengganjal," ucap Stella jujur. Juan diam. Menunggu apa yang hendak Stella ungkapkan.
"Papi sudah tahu bagaimana Mami. Mami nggak usah merasa nggak enak. Papi baik-baik saja istriku," balas Juan sesuai dengan isi hatinya.
Suasana hening sesaat. Stella memejamkan mata dan mulai menikmati aroma tubuh Juan yang sangat ia suka. Di sudut hati yang lain, sebenarnya Juan ingin mengungkapkan apa yang ia ketahui tentang Stella. Namun, sekali lagi ia ingat pesan Sera jika wanita itu sendirilah yang akan menceritakan yang sebenarnya.
Tentang dirinya. Tentang Stella dan tentang bagaimana keadaan keluarganya sekarang. Hanya saja Juan kasihan jika Stella menunggu terlalu lama.
__ADS_1
"Pi!" ucap Stella.
"Heemm," Juan mengeratkan pelukannya.
"Mami kangen ibu." Stella menatap Juan. Seketika Juan ingat pesan Sera agar ia menjaga Stella. Jangan sampai Stella mengetahui bahwa saat ini Anti dalam keadaan belum bisa ditemui.
"Nanti kalau dedek udah kuat diajak jalan, mari kita ajak dia datang ke tempat omanya, oke," jawab Juan.
"Tapi Mami nggak ingin ketemu ayah," tambah Stella jujur.
"Tak apa, nanti kita bisa janjian di rumah tante Sera," balas Juan. Stella mengangguk tanda menyetujui. Kemudian Juan kembali mengeratkan pelukannya dan mengecup kening wanita ayu ini. Mengajaknya pergi ke alam mimpi. Sebab lelah dan penat telah menyerang mereka.
***
Kebahagiaan yang Stella dan Juan rasakan saat ini bukanlah tanpa pengorbanan. Mereka berdua sama-sama berjuang dari nol untuk mau saling mengisi. Mau saling mengenal dan mempertahankan. Sangat berbeda dengan hubungan Zein dan Stella dulu. Mereka memang cinta tetapi sayang, cinta itu dikelilingi dengan ego sehingga tidak bertahan lama.
Nasib buruk yang menimpa Zein kali ini, ternyata bersumber dari kekecewaan seorang wanita yang merasa di tipu oleh ibu kandung Zein. Yaitu Widya. Wanita itu sudah meminjamkan sejumlah uang kepada Widya untuk melunasi hutang-hutangnya di sebuah rumah judi. Widya berjanji pada wanita tersebut untuk menjodohkannya dengan sang putra. Tetapi setelah ia menyerahkan sejumlah uang, Widya tak kunjung menepati janji. Akhinya wanita tersebut murka dan mencari cara sendiri untuk membawa Zein ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Bersambung....
Like dan komen kalian selalu ku nantiπππ