
Malam pun tiba, tanpa banyak bicara akhirnya Rehan memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya. Dengan penuh keyakinan pria ini pun menarik kopernya keluar kamar dan bersiap meninggalkan rumah ini. Rumah di mana ia di besarkan.
Si emak tidak mengizinkan Kania ikut dengannya. Karena mau bagaimanapun bocah cantik itu adalah hati si emak. Pengganti Rehan ketika Rehan pergi. Mana mungkin emak akan mengizinkan cucu kesayangannya pergi. Bagaimana jika nanti dia rindu? Sedangkan emak sendiri untuk bepergian sedikit sulit. Sebab ia sering mabuk kendaraan.
Emak hanya menatap sedih pada pria yang dilahirkannya itu. Bagaimana tidak? Pria itu terlihat sudah matang di usianya. Namun masih bersikukuh untuk sendiri. Oleh sebab itu, si emak sedikit khawatir. Khawatir jika di masa tuanya nanti, Rehan masih memutuskan untuk sendiri.
Rehan telah siap menghadapi apapun yang ada di depannya. Setelah berpamitan dengan si emak tersayang, ia pun keluar dari rumah tersebut dan berjalan menuju mobil CR-V yang selama ini selalu setia menemani ke mana pun ia pergi.
Sayangnya ketika hendak memasukkan barang-barangnya ke dalam bagasi, tiba-tiba Isabela datang.
"Mas mau ke mana?" tanya Isabela khawatir.
"Aku mau balik ke Jakarta," jawab Rehan ketus.
"Loh kok mendadak, Mas. Kan pertunangan kita bentar lagi," ucap Isabela.
"Sorry, Bel. Sepertinya aku nggak bisa nikahin kamu," jawab Rehan langsung pada intinya. Pada apa yang sebenarnya ia inginkan.
"Tapi kenapa, Mas? Aku kurang apa?" tanya Isabela. Suaranya terdengar dalam. Seperti suara itu mewakili apa yang ia takutkan.
"Kamu nggak kurang apapun, Bel. Tetapi hatiku tidak bisa mencintaimu. Aku tidak mau membohongi diriku sendiri. Begitupun untukmu, aku tidak ingin membohongimu, Bel. Hatiku ternyata tak sanggup menerima pernikahan ini," jawab Rehan tegas.
__ADS_1
Tak ayal, Isabela yang mendengar ucapan itu langsung shock. Rantang yang berisi malam malam untuk sang calon suami pun jatuh tanpa ia sengaja. Tubuh Isabela menggigil. Kaki gadis ini gemetar. Bukan cuma kakinya yang gemetar. Bibirnya pun sama.
Isabela menatap nanar pada pria yang kini telah menguasai hatinya itu. Berharap Rehan berubah pikiran.
"Apakah ini karena kak Renata? Mas menyukainya, iya?" desak Isabela marah.
"Aku menolak pernikahan ini bukan semata karena dia, Isabela. Tapi karena hatiku sendiri tak mampu menerimanya. Apa kamu mau menikah dengan pria yang tidak mencintaimu?" balas Rehan serius.
"Kamu jahat, Mas. Kenapa kamu nggak menolakku malam itu? Ketika pertemuan itu. Kenapa harus sekarang? Kenapa Mas?!" teriak Isabela dalam tangisnya.
"Maaf, Bel. Jujur awalnya aku hanya ingin menenangkan hati emakku. Aku tidak menyangka bahwa ternyata aku tak bisa," jawab Rehan jujur.
"Kamu jahat Mas, aku membencimu!" teriak gadis ini lagi. Kemudian gadis ini pun berlari keluar pekarangan rumah Rehan. Berniat meninggalkan tempat ini. Tempat di mana ia mendapatkan luka.
***
Berbeda dengan Rehan yang selalu yakin dengan keputusannya. Kini ada Zein yang tampak ragu dengan perasaannya. Pria ini terlihat bingung dengan apa yang ia rasakan untuk adik iparnya.
Mengapa rasa yang ia rasakan untuk Vita berbeda dengan apa yang ia rasakan untuk gadis lain? Mengapa Zein merasa, ia selalu ingin berdekatan dengan gadis itu? Ingin selalu melindungi gadis itu. Ingin selalu melihat senyum Vita di setiap kesempatan. Apa yang sebenarnya terjadi pada hatinya?
Zein berbaring termenung di atas ranjang hotel di mana ia menginap. Memikirkan apa yang sebenarnya diinginkan oleh hatinya. Mengapa sekarang bukan Stella yang menganggu pikirannya? Seperti malam-malam yang lalu. Kenapa sekarang berganti Vita? Gadis tomboy yang mirip dengan wanita yang dulu pernah mengisi hatinya.
__ADS_1
Bukan hanya itu yang membuat Zein bingung. Sedari tadi, pria ini ingin istirahat. Ingin memanjakan tubuhnya. Ingin melupakan semua permasalahan yang ada di dalam hidupnya. Ingin melepaskan penatnya. Dengan tidur. Dengan masuk ke alam mimpi. Dengan bermanja dengan waktu sengangnya.
Namun sayang, keinginannya itu tak jua terwujud. Matanya malah terbuka lebar. Mengajaknya berselancar dengan angan yang menurutnya tidak masuk akal. Membayangkan Vita. Membayangkan senyum manja gadis itu.
"Haiist, aku ini kenapa sih?" tanya Zein kesal pada dirinya sendiri. Aneh saja! Kenapa dia menginginkan gadis itu? Apa istimewanya? Mengingat Zein adalah pria kolot yang pemilih.
"Nggak, nggak, aku nggak boleh begini. Enak aja! Apa-apaan, gila aja kalau aku sampai suka gadis aneh begitu. Zein ayolah, sadarlah, Bro. Dia adikmu, jangan macam-macam Zein. Kamu bisa digantung keluarganya nanti," ucap Zein untuk dirinya sendiri. Melarang perasaannya sendiri agar tidak terlalu berani melangkah. Sebab ia tahu bahwa jalan yang akan ia lalui untuk memulai dengan Vita, pasti tak akan mudah. Zein yakin jika rasa yang ia miliki pasti akan menyakiti semua orang. Terutama keluarga Vita.
Zein benar-benar gamang dengan perasaannya. Hatinya ingin. Namun pikirannya takut. Pikirannya melarang. Pikirannya menantang.
Untuk menghilangkan rasa yang kini membelengunya, Zein pun memilih keluar kamar. Menikmati angin malam di teras kamar hotelnya.
Sayangnya, ketika ia membuka pintu, bukan ketenangan yang ia dapatkan. Melainkan gemuruh antara senang dan takut. Bagaimana tidak? Di depan matanya saat ini ia melihat gadis yang selalu menganggu pikirannya sedang bermain air di kolam renang yang ada di tempat tersebut. Vita berenang di depan matanya. Begitu cantik dan seksi dengan baju renang two pieces berwarna ungu.
Bukan cuma baju renangnya yang membuat gadis ini terlihat seksi dan menawan. Tubuhnya yang ideal, dengan rambut hitam legam alami serta cahaya tamaram malam juga menjadi penambah gadis itu terlihat sangat manis.
Zein diam terpaku. Bingung, antara lanjut atau pergi dari tempat ini. Jika lanjut, ia takut nanti dia sendiri tak mampu menjaga hatinya. Tak mampu menjaga pandangannya. Namun jika pergi, nanti dia rugi.
Semenit kemudian terlihat Vita hendak naik ke atas. Lalu dengan cepat Zein pun membuka kembali pintu kamar. Agar Vita tak menyadari keberadaannya. Namun, liciknya, pria ini malah mengintip di balik jendela kamar. Menikmati pemandangan indah itu diam-diam. Zein memang pengecut yang licik.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tetap like komen dan share yaπππ Makasih...