
Malam itu, ketika Anti tak bisa menemukan keberadaan Stella. Wanita ini pun menghubungi Windi. Meminta bantuan pria itu untuk bantunya mencari sang putri. Anti yang menangis dan menceritakan detail kejadian yang menimpa Stella hingga Jovan murka dan melakukan kekerasan pada sang putri.
Di sini bukan hanya Anti yang shock. Ada seorang ibu satu lagi yang hatinya hancur. Yaitu Sera. Wanita yang mengandung dan melahirkan Stella, namun tidak diizinkan untuk menjaga, bahkan memberikan Asi pertamanya. Jovan memang bukan manusia. Entah terbuat dari apa hati pria itu.
Selepas mendengar apa yang di sampaikan Anti, seketika Sera berteriak, marah, tak sanggup lagi menyembunyikan identitas aslinya selama ini.
Sera memaki, menghujat pria tak punya hati itu di depan sang suami. Bukan hanya di depan sang suami. Sambungan telepon yang masih menyala membuat Anti juga ikut mendengarkan semua kebenaran itu.
"Brengsek! Jahanam kamu Jovan! Keparat! Awas kamu Jovan!" Sera berteriak marah. Tentu saja ekpresi tak terduga membuat Windi sang suami terpana.
"Sera! Sera! kamu ngomong apa?" ucap Windi mencoba menenangkan Sera yang marah besar waktu itu.
"Pria biadap itu memang pantas mati, mati!!!" teriak Sera lagi, dengan emosi yang sangat tinggi tentunya.
"Kita tahu, tapi kenapa kamu seemosi ini?" Windi menatap penuh tanya pada Sera. Bukan hanya Windi yang menetap Sera. Sera pun menatap pria ini dengan penuh amarah.
"Pria biadap itu memang pantas mati, Win. Aku tak akan melepaskannya. Sampai ke ujung dunia pun akan aku cari dia! aku bersumpah!" ucap Sera berani. Terlihat jelas bahwa Sera memiliki dendam pada Jovan. Amarah tak terbendung lagi. Memuncak menantang langit.
__ADS_1
"Sebenar, Sera. Seharusnya yang emosi seperti ini adalah aku. Kenapa kamu yang?" tanya Windi heran.
Sera tersenyum sinis. Melirik sang suami dengan lirikan sadis. Siap menghabisi siapapun yang melawannya sekarang.
"Apa kamu siap mendengar kebenaran ini, Win?" tantang Sera.
"Kebenaran apa maksudmu?" Windi masih bersikap tenang.
"Kebenaran tentang aku dan Stella serta pria bajingan itu," jawab Sera lirih, namun penuh penekanan.
"Jangan Berbelit-belit, Sera. Katakan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Windi masih terlihat menahan emosi.
"Aku pasti katakan, karena aku pun tak sanggup lagi menahan semua ini sendiri. Aku sudah tak ingin mengalah dengan iblis berwujud manusia itu," jawab Sera tegas. Wanita berambut ikal ini terlihat menghapus air mata kekecewaannya.
"Apakah kamu mantan kekasih Jovan, dan anak yang pernah kamu ceritakan itu adalah Stella?" tanya Windi serius.
Selamat menatap Windi. Jujur dari hatinya yang terdalam, ada rasa tak tega melukai perasaan pria baik hati ini. Namun, ia juga tak mungkin menyembunyikan aib ini seumur hidup mereka. Bukankah ini malah lebih menyakiti Windi.
__ADS_1
"Aku dan pria jahanam itu tak pernah berpacaran, Win. Pria itu melecehkan ku, memerkosaku, menipuku, memanfaatkan ku, melakukan apa yang dia mau. Dia mengancam akan melakukan hal yang sama pada Naya kalau aku sampai melaporkan ini pada polisi. Kamu tahu kan Naya adikku satu-satunya. Bukan hanya itu, dia juga akan menghabisi seluruh keluargaku jika aku berani mengusiknya dan...." tangis Sera pecah. Wanita ini menangis menjadi-jadi. Menumpahkan segala rasa sakit yang ia rasakan akibat ulah psikopat itu.
Sera menangis, sedangkan Windi duduk lemas, terdiam karena shock. Pikiran pria ini kacau. Segala prasangka buruk menghantuinya termasuk kemungkinan bahwa adiknya juga mengalami hal yang sama, seperti yang Sera alami dan itu adalah kesalahan terbesarnya. Karena dia lah yang memaksa Anti menikah dengan Jovan. Bahkan ia juga mengancam sang adik jika tak mau menikah dengan pria itu. Windi sendiri yang mengancam bukan Jovan.
"Apa kamu tahu Windi, setelah ia menikmati tubuhku. Pria itu mengurung ku setelah aku tahu aku mengandung Stella. Hampir setiap hari aku diperkosa kala dia datang. Berkali-kali aku pendarahan karena ulah bejatnya. Dan sehari setelah aku melahirkan Stella, dia membiusku dan membuangku di tengah hutan. Sekali lagi aku tak bisa berbuat apapun, karena putriku dalam gegamannya. Sebelum membuangku dia mengancam akan menghabisi Stella jika aku berani melawannya. Sekarang, jangan halangi aku untuk membalas apa yang pria jahanam itu lakukan padaku dan Stella. Aku tak akan mengampuninya!" Sera terlihat tak main-main. Wanita ini meremas ujung bajunya pertanda ia ingin meremas seseorang juga dan itu adalah Jovan.
Windi tak memedulikan apa yang Sera inginkan. Pikirannya hanya tertuju pada apa yang terjadi pada Anti dan Vita selama ini. Stella saja bisa mengalami nasih mengerikan seperti itu. Lalu bagai mana dengan dua wanita yang menjadi bagian dari tanggung jawabnya. Windi shock, tak sanggup lagi membayangkan jika kejadian yang ia takutkan menimpa sang adik kesayangannya.
"Apakah ini sebabnya Anti mengirim Vita sekolah keluar Negeri?" tanya Windi meraba-raba jalan pikiran adiknya. Sera menoleh dan menatap ke arah Windi yang saat ini terlihat sangat-sangat shock.
"Apakah ini maksud Anti, yang selalu bilang, agar Vita terhindar dari pergaulan bebas. Padahal... bukankah di sana lebih bebas. Apakah maksudnya agar Vita terhindar dari kekejaman Jovan?" tanya Windi pada dirinya sendiri. Shock, tentu saja ketakutan pu menghantuinya dan yang lebih parah, ia tak tahu apapun tentang apa yang terjadi pada adiknya.
Tak sanggup menahan serangan dadakan ini, akhirnya Windi tumbang. Pria ini kejang, lalu tak sadarkan diri.
Bersambung...
Jangan lupa like komen dan share ya. Please, jangan jadi silent readers. Komen kalian sangat berarti untuk Stella. Percayalah!!!!
__ADS_1