
Keesokan harinya, Lutfi dan Safira pun langsung terbang ke Amerika untuk melihat keadaan Zein.
Di dalam pesawat yang membawa mereka ke sana, terlihat air mata Safira mengucur dengan derasnya. Tentu saja ia tak kuasa menerima musibah yang di alami oleh sang kakak tercinta.
Bagaimana tidak? Kenapa selalu Zein yang menderita. Tidak adakah setitik kebahagiaan untuk pria itu.
"Sabar, Sayang. Percayalah abang akan baik-baik saja!" ucap Lutfi mencoba menenangkan sang istri.
"Kenapa harus abang? Kenapa selalu abang? Kenapa selalu dia yang sakit? Kenapa bukan aku saja?" ucap Safira sembari menangis sedih.
"Sstttt, mana boleh bilang begitu Manusia itu punya garis takdir sendiri-sendiri, Yang. Manusia itu punya nasib sendiri-sendiri. Meskipun kalian kembar, nggak akan ada yang tahu nasib kalian. Siapa tahu setelah kita sampai sana abang udah sadar. Terus sembuh! Kita berdoa aja, Yang. Semoga abang dapat sesuatu yang baik!" ucap Lutfi kembali mencoba membangkitkan semangat untuk sang istri.
"Bukan hanya kesehatannya yang aku khawatirkan, tetapi juga perihal hati. Kasihan abangku, mau sampai kapan dia begitu?" tanya Safira, kembali wanita cantik ini menyampaikan apa yang ia pikirkan.
"Eh, nggap boleh begitu. Kata Allah, jangan pernah campuri urusan jodoh. Karena itu adalah kuasaKu... iya kan. Kita yakin aja bahwa tulang rusuk abang sedang Otewe... Kita harus percaya bahwa abang pasti akan impertemukan dengan jodoh yang mencintai dirinya apa adanya. Yang mau menerima setiap kekurangan dan kelebihan abang apa adanya. Percayalah, Yang. Itu pasti aja terjadi!" tambah Lutfi.
Safira menghapus air matanya dan tersenyum. Mencoba memahami apa yang suaminya katakan. Mengamini kebaikan yang di harapkan oleh sang suami.
Tepat pukul empat dini hari, pesawat yang membawa Lutfi dan Safira pun landing dengan selamat di negara tersebut.
Tak menunggu waktu lagi, Lutfi dan Safira pun langsung pergi ke rumah sakit di mana Zein di rawat.
Benar apa yang disampaikan oleh sopir pribadi Zein. Bahwa pria itu memang terjatuh dan sempat tak sadarkan diri. Tetapi sekarang, pria itu telah tertidur pulas. Dan semua alat yang menancap di tubuhnya sudah tidak terpasang lagi. Pertanda Zein sudah melewati masa kritis.
"Syukurlah, aku lega, Mas!" ucap Safira sambil memeluk erat tubuh sang suami.
"Ya, Mas, juga lega, Sayang!" Lutfi membalas pelukan itu dan mengecup penuh cinta wanita yang ia cintai ini.
__ADS_1
"Makasih, Mas, kamu selalu ada untukku, untuk keluargaku, untuk abangku, pokoknya terima kasih banyak untuk semuanya. Aku mencintaimu, suamiku!" ucap Safira di sela-sela tangisnya.
"Sama-sama, Sayang! Abang belum bangun, apa nggak sebaiknya kita pulang dulu. Kamu istirahat. Nanti kita kembali ke sini!" ajak Lutfi.
Merasa apa yang di khawatirkan tidak terjadi, akhirnya Safira pun menyetujui ajakan tersebut.
***
Di dalam mobil yang membawa mereka ke apartemen milik, Zein. Lutfi terus memeluk erat pinggang sang istri. Sesekali ia juga mencium kening wanita yang saat ini telah terlelap manja di pelukannya.
Hati pria ini sedikit trenyuh melihat sang istri yang terlihat kelelahan. Lalu, sesampainya di parkiran apartemen ia pun membangunkan sang istri.
Beruntung, Lutfi tak susah membangunkan wanita cantik itu. Namun, tetap saja, namanya baru bangun tidur, tentu saja kesadaran dan kondisi tubuh wanita ini kurang stabil. Lutfi harus ekstra menjaganya.
Dengan kesabaran, Lutfi pun akhirnya bisa membawa istri manjanya itu ke dalam apartemen di mana dia dan Zein tinggal selama di negara ini.
"He em, sorry, ranjangnya kecil!" ucap Lutfi sambil membuka jaket dan bajunya.
Sedangkan Safira langsung duduk di ranjang dan memerhatikan apa yang suaminya lakukan. Sebenarnya Safira malu ketahuan memperhatikan pria itu, tapi sayang jika tidak di lihat. Tubuh Lutfi terlihat seksi dan menggemaskan. Entahlah, Safira hanya suka saja
"Kenapa, malu ya?" tanya Lutfi sembari mengambil handuk yang ada di dalam lemarinya pribadinya.
"Nggak lah, masak lihat suaminya nggak pakek baju aja kok malu. Biasa aja sih!" jawab Safira berbohong.
Lutfi hanya tersenyum mendengar jawaban tersebut. Tak ingin menimbulkan kesalahpahaman di antara mereka, Lutfi pun segera masuk ke dalam kamar mandi.
Sayangnya, apa yang dipikirkan Lutfi dengan apa yang ada di pikiran Safira, berbeda. Entah mengapa, saat ini, detik ini, Safira ingin memiliki kenangan yang indah di sini. Di kamar ini. Bersama suami tercinta.
__ADS_1
Melihat sang suami hendak melangkah ke kamar mandi, Safira pun mengikuti langkah pria itu. Tentu saja, apa yang dilakukan sang istri membuat Lutfi terheran-heran."Bunda mau pakai kamar mandi dulu?" tanya pria tampan ini.
"Nggak!"
"Lalu, ngapain ngikutin. Aku mau mandi lo, Bun," ucap Lutfi.
Safira tidak menjawab, namun.... ia malah membuka pintu kamar mandi itu terlebih dahulu. Lalu menarik lembut tangan sang suami dan membawa masuk pria tersebut ke dalam tempat yang sama-sama mereka inginkan.
"Bun, jangan nakal. Nanti kalo aku pengen gimana?" tanya Lutfi lembut, berbisik manja di telinga sang istri. Membuat Safira merinding.
"Lakukan apa yang kamu mau, Suamiku. Aku nggak akan menolak," jawab Safira, terdengar lirih. Namun, kalimat itu terdengar jelas di telinga Lutfi.
"Kamu yakin?" tanya Lutfi sembari mengelus lembut pipi sang istri.
Safira mengangguk, lalu ia pun melingkarkan tangannya ke leher sang suami.
Entah siapa yang memulai, nyatanya, saat ini bibir mereka telah menyatu. Saling membalas kecupan demi kecupan yang mereka ciptakan.
Tangan Lutfi tak tinggal diam. Sebab Ia merasa telah mendapatkan Surat Izin yang sah dari sang istri.
Dengan lembut, pria ini pun mulai melepaskan satu persatu kancing baju yang di kenakan sang istri. Bagitupun Safira, meski malu, meski takut, ia tetap tak memolakm. Sebab ia yakin bahwa dirinya adalah hak Lutfi. Hak pria ini.
Permainan mereka semakin panas mana kala air yang keluar dari shower mengguyur tubuh mereka. Lonjakan gairan semakin meningkat. Mata mereka beradu pandang, saling menikmati tubuh polos masing-masing. Sesekali mereka saling melempar senyum, lalu berciuman.
Tak ingin membuang waktu percuma, akhirnya Lutfi pun membopong sang istri dan membawanya ke atas ranjang. Dan terjadilah penyatuan Raga yang mereka inginkan. Tentu saja dengan cinta dan sertifikat halal yang mereka miliki.
Bersambung...
__ADS_1