
Stella tak bisa tidur memikirkan kenyataan yang kini membelunggu keluarganya. Wanita ini takut, jika adiknya akan mengambil keputusan yang salah. Stella takut kalau Vita akan lebih memilih hidup bersama Zein. Yang nyata-nyata bukan pria yang baik menurut kriteria keluarganya.
Bukan hanya itu, Stella juga yakin jika seluruh keluarga pasti menentang rasa cinta yang Zein dan Vita miliki. Terlebih, Vita sudah menerima lamaran pria lain. Stella hanya takut Vita goyah.
"Tidurlah, Mam. Jangan siksa dirimu. Kasihan baby kita!" ajak Juan seraya menarik sang istri ke dalam pelukannya.
"Apa Mami salah jika memperjelas masalah ini dengan Vita, Pi? Mami hanya ingin memastikan keinginan Vita." Stella menyambut pelukan sang suami dan menyembunyikan wajahnya di dada pria yang sangat dicintainya itu.
"Sebenarnya Papi sudah curiga ketika Zein kecelakaan waktu itu. Rehan juga. Tetapi, menurut Papi mereka berdua sama-sama dewasa. Sama-sama bisa menjaga batasan, Mam. Mereka sama-sama tahu, jika cinta mereka tak mungkin mendapatkan restu. Itu sebabnya mereka masih menyimpan rapi perasaan masing-masing. Mereka menghargaimu, Mam. Menghargai ibu dan tante Sera. Mereka menghargai kita. Jika boleh jujur, Papi salut dengan cinta mereka, Mam. Mami tahukan gimana rasanya cinta, tapi tak bisa bersama, tak bisa memiliki," ucap Juan sedih.
Stella diam seribu bahasa. Rasanya ia begitu egois jika nyatanya dialah penghalang cinta itu. Tetapi, sungguh, Stella juga tak rela jika Vita hidup bersama pria yang pernah menghancurkan hidupnya.
Dalam hati, wanita ini berjanji untuk meluruskan masalah ini, jika Vita pulang nanti. Apapun jawaban yang akan ia dengar nanti, Stella berharap Vita tak membuatnya semua orang kecewa.
***
Semalam suntuk Vita dan Zein duduk berdampingan. Namun tidak ada perbincangan berarti di antara mereka.
Mereka sama-sama menjaga batasan. Vita tahu saat ini dan seterusnya, ada hati yang harus ia jaga. Begitupun sebaliknya. Zein juga harus tetap menjaga sikap dan hasratnya untuk memeluk gadis itu. Gadis yang sanggup membuatnya gelisah selama ini. Gadis yang nyatanya bisa membuat jiwanya merindu.
__ADS_1
"Fira belum sadar, apa sebaiknya Abang anterin kamu pulang. Kamu istirahat dulu. Kan dua hari lagi kamu ada acara. Abang nggak mau kamu kelelahan," ucap Zein mengingatkan.
Vita menatap pria itu. Lagi-lagi hatinya membenci. Sebab Zein masih saja tidak peka. Jika sebenarnya dia tidak suka jika pria ini mengajaknya membahas hubungan antara dirinya dan Luis.
"Kok diam, ayo!" ajak Zein lagi.
Vita tak menjawab sepatah katapun. Namun, ia beranjak dari tempat duduknya. Menuruti perintah pria itu. Meskipun sebenarnya ia ingin berlama-lama di sini. Bersama pria ini. Sebelum Luis nantinya memilikinya.
Selepas berpamitan dengan Laskar dan Laila, Vita dan Zein pun berjalan beriringan menuju mobil milik keluarga Zein. Di sana sudah ada Lutfi yang diam-diam ternyata tidak pulang. Masih setia menunggu tuan putrinya bangun dari kejauhan. Sebab Lutfi tahu batasan. Tak mungkin baginya menunggu gadis yang ia khawatirka itu di dalam ruangan yang terlarang untuknya.
"Fi, tolong anterin kita ke rumah dia ya!" pinta Zein.
"Baik, Bang!" jawab Lutfi.
Lutfi melajukan kendaraannya dengan sangat tenang. Sedangkan dua sejoli yang ada di belakangnya hanya saling melirik, Kadang-kadang juga saling lempar senyum. Membuat Lutfi sedikit curiga. Tapi, sekali lagi, ini bukan ranahnya untuk ikut campur. Lutfi memilih berbicara sendiri dengan batinnya.
"Maaf, Bang. Sepertinya di depan macet. Kita lewat jalan tikus saja, apa boleh?" tanya Lutfi memecah keheningan.
"Boleh lah, yang penting cepet. Soalnya aku mesti balik ni. Fira udah sadar," jawab Zein.
__ADS_1
Spontan Lutfi tersenyum bahagia. Sedangkan Vita bersorak gembira sangking bahagianya ia langsung memeluk Zein.
Zein yang tak siap dengan pelukan itu tentu saja hanya pasrah. Pasrah menerima apapun yang ingin Vita lakukan terhadap tubuhnya. Ya seperti itulah Zein. Bukan pria yang suka mencari kesempatan. Zein selalu sukses menjaga imejnya selama ini.
"Maaf, Bang!" ucap Vita, ketika ia menyadari kesalahannya.
Pelan namun pasti Vita pun menjauhkan tubuhnya. Sayangnya, sebelum tubuh Vita terlepas, mobil terguncang. Lutfi menginjak rem terlalu mendadak. Sebab ia tidak melihat ada polisi tidur di depan. Pikiran Lutfi terlalu terpusat pada wanita yang ia tunggu kabarnya itu telah tersadar dan Lutfi bahagia.
Sedangkan Vita dan Zein yang tak fokus tentu saja ikut terguncang. Spontan Zein langsung memeluk tubuh Vita. Vita pun sama, langsung merangkul kembali leher Zein. Diguncangan kedua lebih keras. Kali ini tanpa sengaja, bibir mereka menyatu, spontan keduanya sama-sama terkejut.
Sedetik berlalu, mereka pun menyadari kesalahan tak sengaja ini. Dengan cepat Vita pun beringsut kembali ke tempat duduknya.
"Lutfi! Kamu apa-apa sih?" tanya Zein sedikit dengan nada tinggi.
"Maap, Bang. Saya nggak lihat ada polisi tidur tadi. Maap Bang maap ya. Non maap ya," jawab Lutfi gugup. Namun ingin tertawa, sebab ia tahu apa yang terjadi di belakang ketika mobil yang ia kendarai terguncang.
"Jangan begitu lagi, yang fokus!" pinta Zein tegas.
"Iya Bang, iya. Maap Bang, sekali lagi maap," jawab Lutfi sembari menyembunyikan senyumannya.
__ADS_1
Sedangkan Zein dan Vita, mereka terlihat rikuh. Mau tak mau, untuk menutupi ketidaknyamanan ini mereka pun memilih membuang pandangan ke luar jendela.
Bersambung...