
Entah mengapa? Melihat Naya tertidur pulas membuat jiwa keibuan Safira bangkit. Rasanya, ia tak ingin meninggalkan gadis cilik itu sendiri. Rasanya, Safira ingin selalu berada di samping gadis cantik ini. Andai dia tidak malu, mungkin saat ini, Safira sudah tidur di samping gadis cilik itu dan mendekapnya. Sayangnya, ketika ia melirik pemilik gadis manis ini, Safira sadar bahwa ini tidak boleh ia lakukan. Hanya berjaga-jaga saja. Takutnya, Lutfi berpikiran yang tidak-tidak tentangnya.
Tak ada perbincangan antara Lutfi dan Safira. Mereka sama-sama diam sembari menunggu pengasuh Naya datang untuk menjaga gadis cilik itu. Sehinggabisa gantian dengan Lutfi dan pria itu bisa istirahat.
"Fi, boleh aku meminta sesuatu darimu?" ucap Safira sembari menatap Lutfi serius.
"Minta aja, Bu. Memangnya apa yang anda itu inginkan dari saya," jawab Lutfi pasrah.
"Bolehkah aku di sini sebentar lagi. Aku masih ingin bersama dia!" pinta Safira pada ayah gadis cilik yang saat ini telah terlelap di ranjang pasien yang ada di depannya.
"Kalo itu terserah Ibu saja. Tapi apakah Ibu nggak capek, seharian udah bantu kita jagain Naya?" jawab Lutfi, sebenarnya ia bukan tak nyaman pada Safira. Tetapi tak nyaman pada keluarga wanita ini. Sebab, Lutfi sangat tahu, apa posisinya di rumah wanita ini tinggal.
"Entah kenapa aku nggak tega ninggalin dia, Fi. Kok aku ngrasa jatuh cinta sama putrimu ya. Kamu nggak marah kan, Fi?" Ternyata Safira sendiri juga kurang nyaman dengan apa yang ia rasakan.
"Saranku, sebaiknya Ibu jangan terlalu dekat dengan kami." Lutfi menundukkan kepalanya.
Sedangkan Safira mengerutkan kening, bingung.
"Tapi kenapa, Fi?" tanya Safira heran.
"Strata kita berbeda, Bu. Sebaiknya kita jaga batasan kita. Aku nggak ingin, suatu hari terjadi prasangka yang tidak baik di antara kita. Sebab aku yakin pasti suatu hari nanti akan ada imbas yang buruk soal kedekatan antara Ibu dan putriku," ucap Lutfi mengingatkan.
"Ya nggak lah, mana ada begitu. Aku kan jatuh cintanya sama putrimu. Bukan sama kamu. Lagian aku juga nggak mungkin kan suka sama kamu. Begitupun sebaliknya. Aku hanya suka sama putrimu, serius. Dia mengingatkanku pada seseorang. Lalu apa masalahnya. Sebaiknya otakmu mesti di upgrade deh Fi, biar nggak mikirin sesuatu yang nggak akan pernah terjadi. Mengerti!" jawab Safira kesal.
Sebenarnya bukan itu yang Lutfi maksud. Lutfi hanya tidak ingin orang-orang berpikir macam-macam tentang hubungan mereka. Bukan membahas masalah suka atau tidak suka.
__ADS_1
Lutfi hanya takut, Orang-orang akan berpikir bahwa dia memanfaatkan kedekatan wanita itu dengan putrinya. Demi kepentingan pribadinya. Hanya itu.
Namun, apalah itu yang penting mereka harus tetap jaga batasan. Lutfi hanya ingin bekerja tenang. Mencari uang untuk membesarkan putri semata wayangnya. Kalau bisa kembali mengumpulkan modal, untuk kembali membuka usahanya. Karena tujuannya itulah, Lutfi tidak ingin tercipta sesuatu yang nantinya akan menghalangi tujuannya.
"Baiklah! Antar aku pulang kalo begitu. Dasar bapak-bapak pelit. Mau deketin putrinya aja nggak boleh," ucap Safira merajuk. Tetapi, ia tak peduli. Tanpa izin Ia pun mencium gemas baby cantik yang telah terlelap itu. Kemudian Ia segera mengambil dua tas yang ia bawa ketika datang.
Sedangkan Lutfi hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Baginya, Safira terlalu ke kanak-kanakan. Karena susah sekali mencerna maksud kata yang ia sampaikan.
***
Di dalam rumah Juan dan Stella, suasana kekeluargaan terjalin di sini. Lamaran Luis untuk meminang Vita di terima. Pesta pertunangan akan diadakan minggu depan. Lalu foto prewed akan mereka adakan di Bali. Sebulan kemudian, mereka akan mengikrarkan sumpah pernikahan mereka di Batam. Sedangkan resepsi pernikahan akan mereka adakan di Jakarta.
Kesepakatan alur cerita Luis penyatuan cinta antara Vita dan Luis telah diambil. Tentu saja, senyum langsung merekah sempurna di bibir kedua calon mempelai.
Mendengar ledekan Juan, seluruh keluarga pun tertawa bahagia. Sebab inilah yang mereka inginkan. Menjalin cinta lalu di restui. Hanya itu. Agar perjalanan cinta mereka indah dan apa adanya.
Jamuan untuk tamu, akhirnya pun tiba. Sebagai tuan rumah yang baik, Stella pun segera beranjak dari tempat duduknya dan mengarahkan para asisten rumah tangganya untuk mempersiapkan hidangan tersebut.
Namun, di sela-sela tugasnya, Stella terlihat melamun. Wanita yang saat ini sedang hamil itu malah terlihat memikirkan sesuatu. Jujur, Stella masih memikirkan Zein yang saat ini bekerja pada Luis.
Bagaimana jadinya jika sampai Vita tahu kalau mantan bosnya itu, sekarang malah jadi pesuruh calon suaminya.
Roda dunia memang berputar. Bagaimana dan kapan kita ada dibawah, semua tergantung kecepatan apa yang telah kita raih. Semakin cepat kita sampai puncak, Tak menuntut kemungkinan, samakin cepat pula sampai ke bawah.
"Ayo, kenapa melamun. Kanget ya ketemu mantan tambah ganteng," canda Juan sembari mencolek dagu yang istri.
__ADS_1
"Dih, Papi. Apaan sih. Bukan itu. Eh, Pi... Papi ngrasa nggak ada yang lain dari Zein?" tanya Stella mulai berani mengungkapkan kecurigaannya.
"Lain kenapa?" tanya Juan, Pura-pura tak mengerti maksud sang istri.
"Entah kenapa aku lihat muka pria itu makin kusut ya. Kek, gimana gitu?" jawab Stella sesuai tangkapan matanya.
"Capek kali, Mam!" jawab Juan mencoba menghindar.
"Oh, ya udah kalo cuma capek. Tadi Papi ada ngobrol ama dia?" Stella kembali menatap sang suami. Mencari tahu apakah yang diucapkan Juan adalah sebuah kejujuran atau tidak.
"Dih, peduli!" ledek Juan.
"Bukan itu, Papi. Pedulinya kali ini versi lain. Jangan disamain peduli antara pria dan wanita. Tetapi sesama manusia. Begitu!" jawab Stella.
Juan menyunggingkan senyum, sebab menurutnya pemilihan kata yang disampaikan sang istri berputar-putar tak jelas. Tetapi dia paham dengan maksud ucapan tersebut.
"Mungkin dia pengen ketemu Liana kali, tapi nggak berani. Ini menurut Papi sih. Dia takut sama Mami kali," ucap Juan mencoba mengalihkan perhatian Stella.
Mendengar nama sang putri disebut dan disangkut pautkan dengan pria itu tentu saja Stella naik pitam.
"Dia, tidak akan pernah aku izinkan menyentuh putriku. Sampai kapanpun!" jawab Stella kesal. Tak ingin meneruskan perbincangan menjengkelkan ini, Stella pun memilih pergi. Sedangkan Juan tidak menyangka jika caranya mengalihkan perhatian wanita itu, malah membuatnya kena marah.
Bersambung...
Jangan lupa Like yaπ
__ADS_1