PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Merepotkan tapi Bikin Happy


__ADS_3

Apa yang ditakutkan Lutfi benar terjadi. Baru lima belas menit merek berkendara, Lutfi merasakan tubuh sang istri jatuh ke pundaknya. Lalu tak lama kemudian, tubuh wanita itu melepas. Lutfi menduga bahwa wanita galak itu pasti tertidur.


Tak mau ambil resiko, akhirnya pria tampan ini pun memarkirkan motornya. Setelah itu Lutfi melepas jaket yang ia kenakan untuk mengikat tubuh wanita galak ini dengan tubuhnya agar tak terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


"Dasar susah dibilangin," gerutu Lutfi sambil tersenyum lucu.


Sebenarnya bukan kali ini saja Safira tertidur ketika berkendara bersamanya. Namun, malam ini menurutnya yang paling berkesan. Sebab Lutfi merasa bebas mau menyentuh atau mendekatkan tubuh mereka. Karena mulai malam ini mereka adalah pasangan halal. Safira adalah miliknya. Haknya. Secara agama dan hukum. Jadi mereka sah jika bersentuan. Benarkan?


Selesai mengikat tubuh sang istri, Lutfi pun mulai lagi melakukan kendaraannya. Kali ini lebih pelan dari yang pertama. Dalam pikiran Lutfi, yang peting mereka selamat sampai tujuan.


Lima belas menit berlalu, akhirnya mereka pun sampai di rumah kontrakan milik Lutfi. Sepi, mungkin Naya dan pengasuhnya sudah tidur.


Lutfi pun memarkirkan kendaraannya di tempat biasanya. Pelan-pelan, ia membuka ikatan jaketnya. Setelah itu ia pun turun dengan hati-hati. Agar sang istri tidak terkejut dan bangun.


Tak menunggu waktu lagi, ia pun segera menggendong wanita barbar ini di atas punggungnya. Lalu membawanya ke kamar pribadinya.


"Dasar tukang merepotkan. Awas saja besok kalo sampai marah-marah nggak jelas !" umpat Lutfi lagi. Lalu ia pun segera menyalakan pendingin ruangan dan menyelimuti tubuh sang istri dengan selimut miliknya.


Lutfi menatap intens wajah wanita ayu itu. Nyatanya wanita yang selalu bersikap tak sopan padanya itu ternyata memiliki wajah yang sangat cantik. Manis dan menggemaskan. Manja dan kadang-kadang menyebalkan. Namun, sifat-sifat menjengkelkan itulah yang membuat Lutfi kadang-kadang rindu


Diam-diam Lutfi menyukai sifat-sifat itu.


Sekali lagi, entah mengapa, menatap wajah Safira darah kelelakian Lutfi muncul. Ingin rasanya ia menikmati bibir merah cerry milik wanita yang terlelap manja ini.


Tak mau kehilangan momen berharga ini, akhirnya Lutfi pun mewujudkan keinginanannya itu. Pertama ia mengecup kening Safira. Harum, batin Lutfi. Lalu ia pun menyibak rambut wanita ayu ini. Mengecup kembali kening wanita yang beberapa jam yang lalu ia nikahi itu. Senang, seperti itulah rasa yang terpendam oleh bapak satu anak ini.

__ADS_1


Safira masih diam, bergeming, tak memperlihatkan reaksi apapun. Masih terlelap dalam mimpi. Merasa situasi menguntungkan baginya, maka Lutfi pun kembali melancarkan aksinya dengan menghirup harum aroma pipi mulus Safira. Kedua pipi mulus dan hidung mancung Safita tak luput dari kecupannya.


Lutfi tersenyum menang. Merasa kondisi masih aman terkendali, Lutfi pun melanjutkan kenakalan nya. Mengecup bibir manis yang ia inginkan itu.


Setelah puas dengan kenakalannya, barulah ia pergi ke kamar Naya, untuk mengambil gadis cilik itu dan membawanya ke kamarnya seperti malam-malam sebelumnya.


Di dalam kamar, wanita itu masih terlelap dalam mimpi. Lutfi tak ingin menganggu. Ia pun langsung membaringkan baby Naya di samping wanita cantik itu.


Segaja, membaringkan Naya di lengan wanita itu. Lalu, memiringkan tubuh sang istri. Agar memeluk Naya. Supaya, ketika terbangun besok, Safira tidak menggumpatinya pelit lagi.


Selepas itu Lutfi memilih membersihkan diri.


***


Keesokan harinya....


Namun ketika ia memegang kening


Serasa ada sesuatu yang dingin menempel di sana. Safira pun membuka matanya pelan sembari mengangkat benda dingin yang ada di keningnya.


Terkejut, sudah pasti. Bagaimana tidak? yang menempel di keningnya adalah handuk kecil, basah. Safira pun mengingat, sebenarnya apa yang terjadi padanya.


Safira bertambah bingung ketika ia melihat ada seorang gadis cilik yang sedang mengoceh sendiri dengan mainannya. Safira tersenyum. Seketika ia sadar, bahwa saat ini dia sedang tidak ada di rumah tetapi berada di rumah pria yang menikahinya semalam. Safira langsung mencium dan mendekap gemas gadis cilik itu.


Namun, aksinya mendapat teguran dari Lutfi membuat Safira sedikit kesal.

__ADS_1


"Jangan cium-cium! Kamu lagi sakit. Nanti nular lagi!" ucap Lutfi sembari melipat sajadah yang ia gunakan untuk sholat subuh.


Safira langsung membalikkan badan dan menatap penuh permusuhan pada pria menyebalkan ini.


"Eh, aku sakit? Enggak!" jawab Safira berkilah.


"Nggak sakit apa! Coba dipegang keningnya," jawab Lutfi, lalu tanpa izin ia pun duduk di sebelah sang istri.


Tentu saja, apa yang Lutfi, sanggup membuat Safira salah tingkah. Bagaimana tidak? saat ini dia sedang telentang, lalu ada pria tampan nan wangi duduk di sampingnya. Mencelupkan handuk ke dalam ember berisi air, lalu memerasnya. Menempelkan handuk itu di atas keningnya. Bukankah itu keadaan yang cukup mendebarkan?


"Kamu jauh ah, jangan deket-deket!" pinta Safira sambil mendorong paha Lutfi.


"Kalo aku menjauh, siapa yang bakal ngompres kamu. Badannya panas gitu, udah gitu ngigau nggak jelas. Bikin orang nggak bisa tidur aja!" jawab Lutfi sedikit menggerutu.


Seketika Safira pun diam. Namun, tetap melirik, menantang. Tak terima jika sang musuh menang.


"Apa lirik-lirik. Dasar tukang merepotkan. Dibilangin bandel!" ucap Lutfi sembari memasang kompres di kening sang istri.


"Aku nggak bandel dih! Nanti minum obat juga sembuh!" jawab Safira tak mau kalah.


"Masalahnya bukan itu, kamu nggak kasihan bocah cilik di samping kamu itu ha? Dia nggak bisa bobo gara-gara kamu ngigau. Untung dia nggak rewel!" balas Lutfi.


"Kalo dia nggak tidur, berarti kamu juga nggak tidur dong?" tanya Safira.


Lutfi tak menjawab. Ia memilih beranjak dari tempat duduknya dan mengganti pakaian saat ini, menjadi pakaian rumah. Sedangkan Safira hanya memerhatikan sang suami. Safira senang. Entah mengapa ia senang. Bahagia saja bisa melihat Lutfi sedekat ini. Bisa melihat aktivitas pria itu di pagi hari. Ya, tak di pungkiri bahwa Safira suka dengan suasana paginya hari ini.

__ADS_1


Bersambung ....


Like like like, jangan lupa😍😍😍


__ADS_2