
Meninggalkan Vita hanya bersama Renata ternyata bukan pilihan yang tepat. Nyatanya saat ini, Renata kebingungan mencari Vita karena wanita itu tidak ada di tempat.
Renata tadi, hanya meninggalkannya ke toilet sebentar, lalu, setelah kembali, Vita sudah tidak ada. Renata sudah mencarinya ke mana-mana. Tetapi tetap tidak ada. Ponsel, tas dan barang-barang pribadi milik Vita masih ada di tempat. Lalu, ke mana dia?
Renata tak mau disalahkan. Ia pun segera menghubungi Rehan, untuk memastikan, apakah Vita ada bersama mereka atau tidak.
"Dia nggak ada di sini, Ta. Serius!" jawab Rehan gugup.
"Lalu ke mana dia, Mas. Tas beserta isinya masih ada di sini. Ke mana ya kira-kira?" tanya Renata ketakutan.
"Toilet mungkin? atau ke tempat dokter.... Aduh, atau di mana ya?" Rehan ikutan gugup.
Zein dan Juan tak banyak bertanya, setelah mendapat kabar bahwa Vita tidak ada di kamar Luis, ketiga sahabat ini pun langsung menduga bahwa bisa saja Vita di culik oleh Dena. Sebab hanya nenek sihir itulah yang berpotensi menyakiti Vita.
"Oma Dena!" pekik Juan menduga-duga.
"Sama, Jun. Aku juga berpikir demikian. Jangan-jangan dia diculik sama wanita psikopat itu. Astaghfirullah," jawab Rehan.
Rehan dan Juan memiliki pemikiran yang sama. Tak ada orang lain yang punya niat untuk menyakiti Vita selain wanita jahat itu. Mereka pun segera beranjak dari tempat itu, agar tidak terlambat menyelamatkan Vita.
"Kalian lagi bahas apa sih?" tanya Zein sembari berlari mengikuti Juan dan juga Rehan.
"Nanti kita jelasin ke mobil. Ayo cepat, sebelum kita terlambat," ucap Juan sambil terus berlari untuk mencari mobilnya.
__ADS_1
Sesampainya di mobil, ketiga sahabat itu langsung naik. Dan beruntung, di depan rumah sakit macet, Rehan pun berinisiatif turun, mencari dan memeriksa satu persatu, mobil yang dan di sana. Barang kali, Vita ada di dalam salah satu mobil.
Zein tidak tinggal diam, ia pun mengikuti apa yang Rehan lakukan. Sedangkan Juan, tetap standbay di dalam mobil. Kalau- kalau mereka melihat mobil yang mencurigakan, bisa langsung tancap gas.
Di menit berikutnya, Zein mendapati mobil yang menurutnya mencurigakan. Dengan cepat, ia pun mengkode Rehan. Memfoto plat nomer mobil itu dan segera berlari mengejar mobil tersebut.
Sayangnya kemacetan telah terurai, Zein kalah cepat. Mobil itu sudah meluncur melesat bak angin. Zein tak tingal diam, ia pun segera berlari menuju ke arah Reham. Memberi tahun sang sahabat dan mengajak sahabatnya itu berlari menuju mobil Juan.
"Cepat, Re. Aku curiga mobil ini yang membawa, Vita. Aku sempat melihat bayangan wanita diapit oleh beberapa pria," ucap Zein menyampaikan kecurigaannya.
Benar saja, hasil jepretan ponsel Zein juga menunjukkan sesuatu yang sesuai dengan apa yang Zein ucapkan. Mereka langsung Bersemangat mengejar mobil tersebut, karena mereka tak mau, Vita kenapa-napa.
"Re, minta bantuan polisi. Siapa tahu kita bisa membuktikan pada hukum siapa yang sebenarnya rubah di sini. Supaya kita tidak repot-repot mencari bukti nanti," ucap Juan sembari terus fokus pada jalanan yang ada di depannya.
"Kamu benar, Re. Biar mampus tu nenek-nenek sihir. Salah orang dia kalo mau ngejebak kita. Dia sendiri sekarang yang kejebak dengan otak jahatnya. Mampus!" jawab Rehan geram.
"Tunggu, tunggu. Sebenarnya kalian ngomongin apa sih?" tanya Zein bingung.
Lalu, untuk meredakan kebingungan sang sahabat. Mau tak mau, Rehan pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Mengetahui wanita yang dicintai hendak difitnah dan disakiti, tentu saja membuat jiwa Zein meronta. Emosinya meledak seketika. "Brengsek! Dasar wanita Penyihir gila. Psikopat edyan. Lihat saja kalo sampai dia berani menyentuh Vita ku, akan ku lenyapkan dia saat itu juga!" ancam Zein, sepertinya pria ini tidak menyadari apa yang ia ucapkan. Membuat Juan dan Rehan hanya bisa saling menatap aneh.
Tak ingin membahas sesuatu yang bisa memperkeruh suasana, Juan dan Rehan memilih diam. Memilih membahas hal lain.
__ADS_1
"Gimana Re? Polisi siap bantu kita?" tanya Juan.
"Siap, Jun. Mereka sedang melacak posisi mobil itu sekarang. Semoga bisa segera ketemu. Kita tinggal nunggu hasilnya saja," Rehan melirik Zein dari kaca spion. Terlihat, Zein gelisah. Pria ini terlihat tidak tenang. Namun Rehan enggan bertanya. Sebab ia tahu, Zein sedang dalam keadaan takut yang luar biasa.
***
Sepertinya Dena tidak menyadari bahwa ia salah pilih lawan. Dia tidak tahu bagaimana kuatnya ketika seorang Juan yang pemberani dan cerdik, Rehan yang dewasa dan teliti, serta Zein yang kolot dan tak takut mati, bersatu.
Jangankan untuk seorang Dena, wanita yang tidak punya hati. Orang-orang yang biasanya berani bermain api dengan mereka di perusahaan saja habis.
Bukan hanya mereka bertiga, sekarang Sera, wanita yang telah menganggap Vita sebagai putri kandungnya itu juga sudah turun tangan. Sera bersama beberapa polisi, kini juga sedang menuju ke tempat dia berada.
Emosi wanita paruh baya itu telah memuncak. Tak ada ampun lagi jika sudah begini.
Semalam ia tidak bisa ikut ke rumah sakit karena Anti tiba-tiba kejang. Stella tak mungkin mengurusnya sendiri. Apa lagi dia belum lama melahirkan.
Sekarang, masalah di rumah sudah bisa ia atasi. Dia penasaran, karena telah berani menjatuhkan tangannya pada Vita.
Dia, yang selama ini menjaga gadis itu saja, tidak pernah, walau hanya sekedar marah. La ini, berani sekali dia menjatuh kan tangan. Dia pikir siapa dia? batin Sera geram.
Mobil yang membawanya menuju sang anak angkat, telah sampai di sebuah rumah kosong yang jauh dari pemukiman.
Di sana terparkir beberapa mobil. Yang salah satunya ia tahu, bahwa mobil itu adalah milik menantuanya, si Juan. Berarti benar, Vita ada di sini. Diculik oleh nenek sihir itu.
__ADS_1
Sungguh, di sisi lain, Sera merasa sedikit kecolongan. Andai dia tahu, kalo Dena jahat dan memang dari awal tidak menyetujui keponakannya menikah dengan cucunya, Sera pasti akan mati-matian melarang Vita meneruskan hubungan ini dengan pria itu.
Bersambung...