
Lutfi masih santai membawa mobilnya. Karena Zein memintanya tidak usah terburu-buru. Waktu mereka masih panjang. Pesawat yang harusnya terbang jam sembilan malam, ternyata ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan. Jadi mereka bisa santai mengobrol.
"Kamu berapa ber sodara, Fi? ayah ibu masih ada kan?" tanya Zein tiba-tiba.
"Saya anak tunggal, Bang. Ibu sama ayah cerai. Ibu udah nikah lagi. Kalo bapak masih betah menjomblo sampai sekarang." Lutfi terkekeh.
"Oh, sorry. Udah lama pisah. Kenapa nggak mau nikah lagi?" tanya Zein penasaran.
"Wah, kalo soal itu saya nggak tahu, Bang. Ayah sama ibu pisah pada Lutfi kelas enam SD kalo nggak salah. Tapi kalo di tanya masalahnya, aku nggak tahu. Karena aku memang nggak ingin tahu. Ayah cuma bilang, pria sejati tak akan cengeng perihal cinta. Pria sejati adalah karang. Kuat meskipun badai menerjang. Melankolis banget bapak Lutfi ni. Kadang-kadang pengen tertawa kalo ngobrol sama beliau ni," ucap Lutfi. Dia memang selalu bersemangat jika diajak menceritakan pria yang berjuang sendiri membesarkannya ini.
"Ayahmu bener banget, Fi Kita nggak boleh kalah dengan rasa. Kita kan laki-laki," jawab Zein. Padahal Lutfi tahu, jika pria di sampingnya ini sedang menipu hati.
Lutfi diam sesaat. Lalu ia pun membuka obrolan mereka lagi.
"Saya belum bilang ke bapak kalo saya mau ikut Abang ke Ujung Pandang. Takutnya beliau nggak kasih. Dia bisa oleng kalo nggak ketemu Naya, Bang!" ucap Lutfi.
"Ya kamu bilang dulu. Kalo nggak bawa aja ayahmu ke sana," usul Zein.
"Kerjaan beliau gimana, Bang. Susah nanti kalo ada yang mau kawin," jawab Lutfi. Benar saja, ayahnya adalah salah satu petugas KUA.
"Kawin? Ngapain orang kawin cari bapak lu, ha?" tanya Zein, sedikit ngegas tapi malah terkesan lugu.
"Buka kawin itu, Bang. Menikah maksud saya. Menikah! Kan ayah yang harus tanda tangan. Ayah tu laku tanda tangannya buat orang-orang yang menikah Bang. Mahal tanda tanganya. Nggak ada tanda tangan beliau, surat nikah kita nggak laku," jawab Lutfi, sembari bercanda.
"Bisa aja, kamu." Zein malah menatap aneh pada calon asistennya ini. Sebab ia tak tahu apa pekerjaan ayah Lutfi.
__ADS_1
Tak ingin ambil pusing dengan silsilah keluarga Lutfi, Zein pun mencari topik pembicaraan lain.
"Fi, aku penasaran, gimana kamu bisa kenal Fira. Kan kata mama kalian kenal sebelum kamu kerja apa papa?" tanya Zein kepo.
"Sebenarnya kita ketemunya pas saya udah kerja ama om sih, Bang. Cuma kami sama-sama belum tahu, kalo saya kerja sama om dan dia itu malah putrinya om. Adek abang tu mainnya di club. Pas saya ketemu dia sedang mabuk. Lalu dikejar sama beberapa kawanan preman," jawab Lutfi jujur.
"Benarkah?" tanya Zein tak percaya.
"Serius! Untung tak sengaja saya lewat. Ya udah ku bawa aja gadis nakal itu. Menyebalkan sekali!" jawab Lutfi sedikit geram. Seperti tak suka dengan kelakuan Safira. Membuat Zein penasaran dengan isi pikiran Lutfi tentang adiknya.
"Fi, aku tanya sama kamu, sebagai lelaki. Kenapa kamu marah dengan Fira, yang suka mabuk? Harusnya kamu cuekin aja. Ngapain pusing-pusing marah!" Jujur Zein penasaran dengan alur cerita antara Fira dan Lutfi. Kenapa mereka terlihat peduli namun saling membenci.
Lutfi diam. Sebab ia tak tahu jawaban atas pertanyaan yang Zein ajukan.
Lutfi menatap sekilas pada Zein. Lalu ia pun menjawab, "Nggak, mana ada. Saya sama bu Fira nggak ada rasa apa-apa. Kami baik-baik saja. Tidak ada istilah seperti itu. Serius, Bang!" jawab pria tampan ini. Gugup, rikuh sesekali ia juga terbatuk seperti sedang berusaha menetralkan perasaannya. Membuat Zein tertawa.
"Kalo seseorang ada rasa itu ya begitu, Fi. Ditanyain gugup. Padahal cuma ditanya, nggak sampai diinterogasi yang mengintimidasi. Kek kamu gini, Fi. Udahlah, ngaku aja, kamu sayang ya sama adikku. Kami keluarga nggak pa-pa kok Fi. Papa mama juga dukung, apa lagi aku, langsung kusambut hubungan kalian dengan tangan terbuka. Karena sejatinya, cinta itu harus diwujudkan. Jangan dipendam Fi, sakit. Sangat sakit!" ucap Zein. Terdengar benar, namun melo di akhir. Entahlah, mungkin saat ini Zein sedang berusaha mengeluarkan rasa yang ada di dalam pikirannya. Agar sedikit keluar. Agar dia merasa sedikit lega.
"Abang sendiri gimana? Kenapa Abang nggak coba mengejar cinta Abang? Malah mau menghindar begini?" balas Lutfi tak mau kalah.
Zein tersenyum kecut. Ia mengakui bahwa apa yang dikatakan Lutfi adalah benar. Namun, ia tetap tak ingin goyah dengan pendiriannya. Baginya saat ini, keputusan yang ia ambil adalah keputusan terbaik untuk semua orang.
"Terkadang ada sesuatu yang lebih penting dari perasaan yang kita rasakan, Fi. Ada sesuatu yang harus kita kedepankan. Sulit memang, tapi kita nggak punya pilihan lain selain mengalah." Zein mengambil ponselnya, berusaha mengalihkan perhatian Lutfi. Akan sesuatu yang mereka bahas saat ini.
"Apapun itu, Bang. Saya harap Abang bisa menemukan bidadari hati Abang yang sesungguhnya," ucap Lutfi, mencoba memberi dukungan moril terhadap kakak dari gadis yang saat ini sedang bermusuhan dengannya.
__ADS_1
***
Di dalam kamar, Juan kembali memikirkan pembicaraannya dengan adik iparnya.
Jujur, Juan salut dengan pemikiran dewasa sang adik ipar. Gadis itu nyatanya berhasil menipu hatinya sendiri. Memanipulasi keadaan demi kebahagiaan dan ketenangan keluarganya. Sungguh pengorbanan yang besar. Sebenarnya Juan kasihan dengan kisah Zein dan Vita. Kasihan keduanya. Sebab dipertemukan dalam waktu yang tidak tepat.
"Papi kenapa, melamun terus?" tanya Stella tiba-tiba datang dari belakang. Juan yang sedikit melamun pun sedikit terkejut.
"Nggak ada, Mam. Sini!" jawab Juan sembari munarik tangan sang istri dan membawa wanita hamil itu ke dalam pangkuannya.
"Mami sekarang berat, Pi. Masak masih dipangku," ucap Stella malu-malu.
"Berat badanmu tak seberapa dibanding perngorbananmu yang mau mengandung dan melahirkan keturunanku, Mam. Jadi jangan bilang begitu. Aku mencintaimu," ucap Juan manja. Dicoleknya hidung mancung Stella yang tersenyum manis di pangkuannya.
"Pi, tadi Papi ngobrol ya sama Vita?" tanya Stella.
"Ya, Papi bersyukur, gadis tomboy itu ternyata sangat dewasa. Semoga pernikahannya dengan Luis bisa memberinya kebahagiaan. Sehingga bisa melupakan sosok yang kini ada di hatinya. Vita sedang berjuang, Mam. Kita harus mendukungnya. Jangan membuatnya semakin terpuruk. Dia putih seseorang yang mensuportnya. Mengerti serta memahami dirinya. Agar dia tak merasa sendiri," ucap Juan.
Stella mengangguk mengerti.
Tak ingin terus menerus tenggelam dalam masalah yang kini ada. Stella pun memeluk sang suami. Memaksa pria itu menyayanginya. Seperti biasa seperti malam-malam sebelumnya. Stella tak ingin kalah dengan Berliana yang selalu di manja oleh Juan. Ia pun ingin dimanja.
Dengan penuh kelembutan, Stella pun mulai menuntun sang suami untuk meluapkan cinta yang ada di hati. Mewujudkannya cinta mereka di atas permadani tempat di mana mereka biasa memadu kasih. Juan tersenyum, sebab ia juga menginginkan ini. Entahlah, bagaimanapun keadaan fisik sang istri. Bagi Juan, bidadarinya ini adalah wanita terseksi di dunia ini.
Bersambung....
__ADS_1