PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Lempar Batu Sembunyi Tangan


__ADS_3

Suara teriakkan dan tangis semakin terdengar kencang. Beberapa kali juga terdengar jeritan. Suasana di aula itu terlihat sangat mencekam


Juan, Rehan dan juga Lutfi tertegun lemas. Bagaimana tidak? Ini adalah pemandangan yang sangat tidak mereka inginkan.


Mata mereka serasa tertusuk ketika melihat sepasang kaki, di tengah-tengah kerumunan orang-orang yang sedang menangis itu.


Dengan cepat, Juan pun segera menerobos masuk di antara orang-orang itu.


"Ada apa ini?" tanya Juan pada mereka.


Namun, tak ada satupun yang menjawab, karena mereka semua sibuk menangis. Sibuk gugup. Sibuk ketakutan.


Bukan hanya Juan yang bertanya. Rehan dan Lutfi pun sama. Mereka bertanya, tetapi tidak ada yang mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Suasana bertambah ricuh ketika pria yang mereka tangisi kejang dan mengeluarkan busa dari mulutnya.


"Luiss ... tidak Luiss ... tidak ... aku mohon bangun, Sayang... Luisss...!" teriak Vita di sela-sela tangisannya. Bukan hanya Vita yang menangis, di samping Vita ada juga Stella yang ikut menagis dan mengangguk nama Luis. Beberapa teman dan kerabat juga ada di samping Vita.


Namun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Masya Allah, Luis kenapa Vit?" tanya Juan langsung ikut memangku kepala Luis.


"Tidak tahu, Bang. Vita tadi tinggal ke toilet sama Kakak. Tahu, tahu, pas balik dia jatuh. Kira Vita dia pura-pura, pas Vita sentuh dia begini!" Vita kembali menangis dan terus berusaha menyadarkan sang suami.


"Ahhh, bohong kamu, kamu pasti sengaja kan bikin cucuku begini!" bentak Dena marah.

__ADS_1


"Tidak Oma, demi Tuhan!" jawab Vita diselingi tangisan ketakutan yang luar biasa.


"Rehan, cepat telpon ambulan!" teriak Juan sambil memangku Luis dan terus berusaha menyadarkan pria ini. Memeriksa denyut nadi Luis juga.


"Cepat, Re! Denyut nadinya sangat cepat!" teriak Juan lagi, pria ini juga telihat gugup dan takut. entahlah, semua orang yang melihat kejadian ini, ikut tegang dan takut.


"Sudah, Jun. Safira sudah menghubungi ambulan. Mereka sedang menuju kemari. Mohon maaf, tolong kasih jalan!" pinta Rehan sembari meminta para tamu undangan untuk menjauh. Sedangkan Lutfi sendiri siaga di samping Juan.


Tamu yang datang pun langsung menjauh dari korban. Agar sang korban tidak bertambah sesak.


Beruntung, ambulans yang mereka tunggu pun datang. Juan langsung ikut masuk ke dalam ambulan. Sedangkan Lutfi dan Rehan yang membawa pihak keluarga.


Di dalam mobil, suasana kembali tegang. Mana kalau Oma Dena marah besar terhadap Vita. Bahkan wanita tua itu menjambak dan merusak tatanan rambut Vita. Sampai Rehan dan Safira kewalahan melerai nya.


"Oma, saya mohon jangan anarkis seperti ini!" Pinta Rehan sambil memeluk Vita. Mencoba melindungi adik ipar sahabatnya ini dari amukan wanita tua aneh ini.


"Tidak Oma, Vita nggak begitu!" jawab Vita, masih bertahan dengan tangisan kesedihannya.


"Heh, kamu pikir aku percaya sama kamu. Aku udah bilang berkali-kali pada Luis untuk membatalkan pernikahan ini. Karena aku tahu. Kamu dan keluargamu iti bagaimana. Kalian itu benalu, dasar benalu." Dena kembali berusaha menyerang Vita. Bahkan dia menjambak rambut Rehan, agar Rehan jangan membela Vita.


"Minggir kamu pria gila. Biarkan aku mencekik gadis durhaka ini!" pinta Dena gemas.


"Lutfi, tolong lebih cepat!" bentak Rehan kesal. Padahal sebenarnya Lutfi sudah menginjak pedal gasnya lebih kencang.


Dena diam sejenak. Namun dia masih berusaha mencari celah untuk menyerang Vita. Dan, di saat Rehan sedikit lengah, Dena pun kembali memukul kepala Vita. Beruntung Safira tanggap. Dengan cepat, wanita ini pun menangkis tangan Dena, hingga wanita itu meringis kesakitan.

__ADS_1


"Oma! Oma jangan begini!" pinta Safira berusaha membela sang sahabat. Sebab ia tahu, Vita mana mungkin berbuat demikian. Dia kenal betul bagaimana Vita. Sedangkan Vita sendiri tidak kuasa membalas. Sebab, pikirannya bercampur aduk tak karu-karuan. Vita seperti mati rasa.


"Kamu tahu apa soal wanita ****** ini, ha?" tanya Dena kesal.


"Oma jangan asal ngomong ya, sebelum anda kenal dengan Vita, saya yang lebih dulu kenal dengan dia. Kami satu kos dulu, kami satu kerjaan. Jadi saya tahu bagaimana dia." Safira tak terima sungguh-sungguh tak terima. Seharusnya di saat seperti ini, Dena harusnya berempati terhadap Vita. Bukan malah menyerangnya.


Dena tak menjawab ucapan pembelaan yang di lakukan oleh Safira. Menurutnya tak ada gunanya. Yang penting baginya saat ini Luis selamat. Jika tidak, maka Dena tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Dia pasti akan menyesal seumur hidup.


Bukan hanya itu, wanita ini juga sedang mencari cara agar apa yang ia lakukan tidak terbaca oleh pihak kepolisian. Untuk meluruskn niatnya itu, ia sudah menyuruh anak buahnya untuk memaksa pelayan yang memasukkan obat itu, mau bekerja sama denganya, agar bisa memanipulasi kasus ini.


Dena melirik ponselnya. Membaca pesan yang tertera di layar utama. Pesan itu ngatakan bahwa pelayan tersebut menyetujui perintahnya. Dena pun tersenyum dalam hati, karena sebentar lagi dia akan menang.


***


Sesampainya di rumah sakit, Luis langsung mendapatkan perawatan. Beruntung, nyawanya masih bisa tertolong.


Namun, kabar buruknya, meskipun nantinya Luis bisa sadar. Ada kemungkinan dia cacat seumur hidupnya. Sebab kadar obat yang dia minum sangat tinggi dan sangat berbahaya untuk saraf dan ototnya.


"Sedasyat itukah racun itu, Dok?" tanya Juan serius.


"Ya!" jawab dokter sambil menjelaskan jenis obat dan efek samping obat yng telah masuk ke dalam tubuh Luis.


"Ya Tuhan! Saya tidak tahu harus bagaimana, Dok. Adakah cara agar dia bisa kembali normal, Dok?" tanya Juan lagi.


Sang dokter belum berani menjawab. Karena dia juga harus melihat perkembangan kasus ini. Dokter baru bisa menjawab dan memastikan setelah Luis sadar.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa, like komen dan votenya yes... makasih😘


__ADS_2