
Malam itu juga, Lutfi pun merapikan barang-barangnya. Mencari kantong plastik bekas untuk baju kotornya dan handuk bekas pakai milik Safira. Dan ia berjanji akan mengembalikan setelah selesai di-loundry nanti.
"Ra, nanti handuknya aku balikin kalo udah bersih ya," ucap Lutfi ketika berpamitan hendak pergi.
Safira diam, karena ia tak tahu harus berbuat apa. Dia tahu telah melukai harga diri Lutfi. Dia tahu di salah. Tapi dia memang belum siap menjadi istri lahir batin pria itu. Dia belum siap secara batin untuk mengikat hubungan ke jenjang yang lebih jauh. Safira belum bisa menyerahkan raganya untuk Lutfi. Safira takut hamil. Lalu ditinggalkan. Safira takut. Sangat-sangat takut.
Entahlah! Entah sampai kapan Safira akan begini. Dia hanya masih belum bisa. Itu saja.
"Nayanya aku bawa ya, Ra. Soalnya aku kangen!" ucap Lutfi meminta izin.
Lagi-lagi Safira tidak kuasa menjawab. Sebab ia kewalahan menahan air matanya. Agar air mata itu tidak terjatuh. Agar Lutfi tidak tahu, bahwa dia juga terluka soal ini. Ia juga tertekan dengan hubungan yang belum bisa ia pahami ini. Baik secara hati, secara emosi, ataupun secara ragawi.
Taksi yang dipesan Lutfi dengan menggunakan salah satu aplikasi terkini pun akhirnya sampai dan menunggunya di depan rumah Safira.
Sambil menggendong sang putri dan membawa barang-barang mereka, Lutfi pun pergi. Pergi dengan membawa sejuta luka di hatinya. Luka ditolak. Luka terhina. Luka diremehkan. Sungguh harga diri pria ini serasa terhempas entah ke mana.
Ahhh.... sudahlah. Lutfi tak tahu harus berucap apa. Sebab luka yang ia rasakan teramat sangat perih.
__ADS_1
Berpisah jarak, mungkin hanya itulah jalan terbaik untuk mereka saat ini. Agar menyadari arti kebersamaan. Agar menyadari arti dari sebuah pernikahan.
Selama Lutfi berada di Amerika, jujur, Safira rindu. Namun, ia merasa nyaman dengan keadaan ini.
Tidak memikirkan keinginan Lutfi untuk bersatu secara fisik. Tidak harus melayani Lutfi secara batin. Entahlah, Safira hanya menginginkan hubungan seperti itu. Terpisah jarak, terpisah fisik, tapi saling memiliki. Terlebih Naya ada bersamanya. Itu sudah merupakan zona ternyaman bagi Safira.
Namun tidak dengan Lutfi. Pria ini adalah pria normal yang menginginkan ikatan pernikahan ya sebenar-benarnya ikatan pernikahan.
Lutfi memantapkan hati untuk menjauh. Membiasakan lagi, hidupnya tanpa wanita. Membiasakan hatinya lagi, tanpa cinta. Bukan hanya untuknya, tapi juga untuk baby Naya, Lutfi harus berpikir kemungkinan memisahkan Naya dari wanita yang selama ini terlanjur memberinya kenyamanan.
Baru beberapa langkah Lutfi hendak keluar dari kamar meyakinkan ini, tiba-tiba saja sang putri menangis. Menangis tak mau pergi. Menangis tak mau berpisah dengan Safira.
Sayangnya, Naya bukan hanya menangis tapi juga meronta. Meronta tak ingin jauh dari Safira. Sedangkan Safira sendiri juga tidak tega, ia pun segera berlari menghadang Lutfi.
"Sini, biar aku tidurin dulu. Nanti bawanya pas bobo, biar nggak rewel," ucap Safira. Ucapan yang cukup mencekik leher kalau menurut Lutfi. Meskipun ucapan itu terdengar lembut, tetapi mengandung makan bahwa dia diusir secara halus. Dia diizinkan pergi meninggalkan rumah ini. Dia benar-benar tidak diinginkan.
Lalu, jika kejadiannya jadi seperti ini, untuk apa tadi dijemput. Untuk apa selama ini dia mengirim pesan yang merujuk pada rasa cinta. Kalau kenyataan yang ia dapatkan tidak sesuai dengan realita yang Lutfi alami.
__ADS_1
Terpaksa Lutfi menuruti ucapan Safira. Duduk menunggu di ruang tamu dan membiarkan Safira menunabobokan sang putri.
Kalut, ya saat ini pikiran Lutfi serasa seperti itu. Dilema, sudah pasti. Jika akhir pernikahan ini adalah perpisahan, lalu bagaimana dengan Naya nanti.
Tidak mungkin baginya meninggalkan Naya untuk Safira.
"Pikirkan nanti, kamu pasti bisa Lutfi. Jangan berkecil hati seperti itu! Bukankah kamu pernah merasakan sendiri. Lalu apa yang kamu takutkan?" gumam Lutfi mencoba menguatkan diri sendiri.
Sambil menunggu waktu, Lutfi pun mengambil ponselnya dan membaca setiap pesan yang pernah Safira kirim untuknya.
Jujur, Lutfi juga takut salah mengartikan pesan itu. Lutfi takut, dia terlalu Baper dengan pesan-pesan tersebut. Lutfi takut, dia terlalu percaya diri bahwa Safira juga mencintainya.
Untuk mengatasi kebingungan itu, Lutfi pun menghapus semua pesan yang pernah Safira kirim. Dan berniat menghadapi realita yang ada, menghadapi apa yang ada di depan mata. Tanpa mengharapkan sesuatu yang tidak tercipta untuknya.
Hampir satu jam Lutfi menunggu, namun tak ada kabar, apakah Naya sudah tidur apa belum. Namun Lutfi masih mencoba bersabar. Tidak mencoba mencari tahu. Karena dia tak mau dianggap tak sabar.
Jenuh, sudah pasti. Mata pun mulai penat. Kepala mulai pusing. Terlebih Lutfi juga lapar. Untuk menghilangkan rasa itu, Lutfi pun memilih memejamkan mata.
__ADS_1
Bersambung....