PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
CURIGA


__ADS_3

Stella diam membisu. Hanya menatap bergantian kedua wanita yang asik bercengkrama di depannya. Begitu akrab dan menggemaskan. Terlihat sangat bahagia. Namun, tidak dengan Stella. Ingatan wanita ini berputar-putar. Berusaha keras mengingat kembali, di mana ia pernah melihat wanita yang kini sedang bercanda gurau dengan sang adik itu.


"Kak kok bengong, kenapa?" tanya Vita sembari berbisik.


"Ah, nggak ... yuk jalan, itu mobilnya!" ajak Stella sembari menunjuk mobil yang akan membawa mereka pulang.


"Eh, kenalan dulu. Ini sahabat yang Vita ceritain, namanya Safira. Safira, ini kakakku, Stella. Cantik kan?" ucap Vita. Safira hanya tersenyum.


Safira! Spontan Stella pun ingat, bahwa mantan kekasih sang suami juga bernama Safira. Mungkinkah? batin Stella bergejolak. Namun, ia tetap berusaha menutupi itu. Stella tak ingin jika adiknya mencurigai tingkahnya.


Stella dan Safira saling berjabat tangan. Berkenalan, saling mengucap nama dan tak lupa mereka juga saling melempar senyum.


"Dah, yuk ke mobil, yuk! Nggak sabar ni pengen ketemu cewek cantik. Dia ikut nggak kak?" Vita mulai menggandeng kedua tangan wanita yang ia sayangi ini.


"Enggak dia di rumahlah. Papinya mana kasih kalau diajak jalan terus. Kamu kayak nggak tahu abangmu aja!" jawab Stella, sembari memanyunkan bibirnya.


"Abang ma, kelewat posesif," gerutu Vita. Sedangkan Safira dan Stella hanya tersenyum.


Suasana sedikit canggung. Stella dengan anginnya yang terus mencari tahu apakah benar, wanita yang ada di ada di belakang kursinya ini adalah mantan kekasih sang suami. Ataukah mereka hanya mirip saja. Sebab, kabar yang ia Terima, Safira sudah berpulang dengan bayinya. Di malam kecelakaan itu. Ingin rasanya Stella bertanya, namun takut menyinggung.


Setumpuk tanya pun mulai menguasai pikiran wanita ayu ini. Bagaimana jika benar, bahwa wanita yang dilihatnya saat ini adalah mantan kekasih sang suami? Bagaimana jika benar, bahwa Safira yang ini adalah wanita itu? Apakah nantinya sang suami akan kembali pada wanita ini dan menceraikannya? Atau, tetap membersamainya namun juga menginginkan Safira.


Wajar jika Stella resah. Mau bagaimanapun kebersamaan yang terjalin antara dirinya dan Juan juga karena suatu hal. Stella tak mungkin melarang Juan untuk kembali pada Safira, jika benar wanita ini adalah dia. Stella tak ingin membuat susah Juan. Stella terlalu mencintai pria itu, ia hanya ingin melihat Juan bahagia dengan pemilik hatinya.

__ADS_1


"Kok kalian diam-diaman sih, ke rival aja. Aneh deh!" canda Vita, dengan senyum manisnya seperti biasa.


"Kamu ini! Kamu sendiri gimana? Kenapa nggak resign-resign?" balas Stella sedikit kesal.


"Tenang, Kak. Bang Zein sudah Vita kendalikan. Berani macam-macam nanti Vita pites, pokoknya Kakak tenang aja. Semua pasti aman!" jawab Vita semangat.


"Hemm, serah, yang penting kalau kontraknya selesai, jangan perpanjang lagi! Mending kamu kerja aja ama abangmu di Batam sana!" jawab Stella sedikit menilik spion untuk melihat ekpresi Safira ketika mendengar kata Batam.


Benar saja, wajah Safira seketika berubah. Membuat Stella yakin jika wanita yang ada di belakang kursinya adalah wanita itu.


"Batam! Tapi Kak, nggak enak aku sama abang," balas Vita cemberut.


"Kawin aja kalau gitu!" Stella mulai kesal. Vita selalu banyak alasan jika sudah memiliki pilihan.


Mendengar ucapan sang kakak yang memintanya untuk menikah, tentu saja sukses membuat Vita sedikit tak nyaman.


"Husss, sembarangan kamu!" potong Vita. Spontan Safira menutup mulutnya.


"Lupa! Maaf!" balas Safira malu.


Stella yang mendengar candaan mereka hanya diam. Meskipun hatinya sedikit tidak suka. Mau bagaimanapun ia dan Zein pernah memiliki kenangan yang sangat menyakitkan. Mana mungkin dia akan mengizinkan Vita terjatuh ke dalam pelukan pria yang menurutnya sangat jahat itu.


Suasana menjadi canggung. Safira malah merasa tak nyaman. Begitupun dengan Vita. Mau bagaimanapun membicarakan Zein di depan Stella sangat tidak baik, meskipun itu hanya sebuah candaan.

__ADS_1


Untuk mengurangi rasa canggung itu, akhirnya Stella memutuskan untuk mencari tahu siapa sebenarnya Safira. Apakah benar bahwa dia adalah wanita itu?


"Fira baru pindah apa gimana ini? Kok bawa banyak barang?" tanya Stella mulai mencari tahu.


"Iya, Kak, Mbak, eh!" jawab Safira gugup.


"Panggil aja, Ste. Kayaknya kita seumuran," balas Stella. Safira tersenyum, padahal dia tahu jika Stella dan dirinya lebih tuaan dirinya.


"Oke baiklah. Iya ni, aku dapat promosi di tempat kerja yang baru. Tapi masih satu menejemen," jawab Safira jujur.


"Oh, jadi maksudnya pindah tempat doang, begitu?" tambah Stella.


"Iya, bener begitu. Do'ain ya Ste, betah!" pinta Safira.


"Pasti, nanti kalau libur mainlah ke Batam. Sama Vita tu, biar kita semakin akrab!" ajak Stella, masih dengan mode memancing. Sedangkan Vita hanya menatap sang sahabat. Sebab ia tahu, tempat itu adalah tempat paling menakutkan untuk Safira.


"Insya Allah, Ste. Kalau ada waktu dan kesempatan, nanti aku main!" jawab Safira. Tak nyaman juga jika langsung menolak. Mau bagaimanapun Stella tak ada hubungannya dengan masa lalunya, bukankah begitu?


Ingin rasanya Stella melanjutkan pertanyaannya. Namun, ketika melihat wajah Safira sedikit muram, Stella jadi merasa kasihan. Tak tega melanjutkan ucapannya.


Stella tahu, setiap manusia punya perjalanan hidupnya masing-masing. Pun dengan Safira. Mungkin dia punya sesuatu yang menakutkan di sana. Di kota itu.


Memikirkan hal itu, membuat Stella merasa sedikit khawatir. Ia takut jika apa yang terlintas di dalam pikirannya menjadi kenyataan. Namun ia tetap percaya pada Juan, bahwa pria itu pasti bisa mengambil keputusan yang tidak akan memberatkan siapapun. Begitupun dengan hubungan yang pernah terjalin, antara dirinya dan masa lalunya.

__ADS_1


Bersambung....


Makasih yang masih setia, maaf jika masih ada typo ๐Ÿฅฐ Happy Reading โ˜บ


__ADS_2