PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Chapter 1 (Lutfi n Safira)


__ADS_3

Empat bulan kemudian....


Senyum mengembang sempurna di bibir wanita bernama Safira Ana ini. Karena hari ini, sang suami dijadwalkan kembali dari Amerika, setelah menemani sang kakak ipar berobat di sana.


Lutfi diizinkan pulang, karena besok adalah ulang tahun sang putri. Ia sengaja meminta pada ibu dan ayah mertuanya untuk mengizinkannya pulang ke Indonesia. Lutfi ingin merayakan ulang tahun pertama sang putri. Karena baginya, ulang tahun pertama sang putri sangat penting baginya.


Tepat pukul 4.30 sore waktu setempat, pesawat yang membawa pria tampan itu akhirnya mendarat sempurna.


Senyum kembali mengembang di bibir Safira. Karena beberapa menit dari sekarang, dia akan melihat pria itu. Pria yang ia cintai. Pria yang ia rindukan.


Bersyukur, itu adalah kata pertama yang Safira ucapkan ketika melihat sang suami melambaikan tangan untuknya.


Mereka berdua terlihat saling melempar senyum. Rasanya bahagia sekali. Sungguh.


"Assalamu'alaikum, Istriku. Assalamu'alaikum cantinya, Ayah! Kok dia bobo,Bun?" sapa Lutfi pada kedua wanita yang sangat ia rindukan itu.


"Waalaikum salam. Iya, ini jam dia bobo memang." Safira tersenyum malu-malu. Begitupun dengan Lutfi. Kedua sejoli ini tampak malu-malu.


"Cuma berdua saja kah, Bun?" tanya Lutfi, membuka obrolan.


"Iya, mama papa kan lagi ke Ujung Pandang. Lagi urus bisnis abang. Kamu kok kurusan, jarang makan ya?" tanya Safira sambil berjalan ke arah mobil miliknya.


"Gimana nggak kurus, Bun? Jauh dari istri. Nggak enak makan, Bun," jawab Lutfi jujur.


"Masak, boong ah. Cewek-cewek sana kan lebih seksi dari Bunda. Harusnya kamu lebih semangat dong," jawab Safira.


"Seksi tapi dilarang menikmati sama aja, Bun. Mending tertutup gini, tapi halal," jawab Lutfi cerdas.


Safira tidak menjawab, sebab ia tahu arah pembicaraan sang suami.


"Eh, tadi nyetir sendiri, Bun?" tanya Lutfi tak menyangka.


"Iya... tapi nggak usah takut. Naya aman kok. Dia juga udah biasa berkendara cuma berdua doang aman Bunda. Kan dia punya kursi khusus," jawab Safira sambil menuju kursi kemudi.


"Oh, hati-hati, Bun. Aku nggak mau kalian kenapa-napa. Udah, Bunda duduk sini aja. Biar aku yang bawa," ucap Lutfi meminta.

__ADS_1


"Kamu capek, Mas. Udah Bunda aja yang bawa. Nggak pa-pa," ucap Safira.


Lutfi pun menurut.


Di dalam mobil, gejolak jiwa Lutfi kembali timbul. Ingin rasanya ia mencium bibir cantik istrinya itu. Namun, ia takut, Safira akan menolak. Lutfi takut malu.


"Bun!"


"Heemm!"


"Selama aku nggak ada di rumah, kamu ngapain aja?" tanya Lutfi lembut. Bukan bermaksud mengintimidasi. Hanya saja, dari pada mereka diam-diaman.


"Ngapain ya? Paling main sama Naya. Balesin chat costumer. Memeriksa rekapan penjualan toko abang. Terus belanja bahan baku buat bikin tas. Cek yayasan abang. Gitu aja paling." Safira masih fokus pada kemudi dan jalanan yang ada di depannya. Sedangkan Lutfi dengan tenang memangku Naya yang kini masih terlelap.


"Bun!"


"Heemm!"


"Kamu cantik!"


"Makasih!" Safira tersenyum.


"Aku tahu. Kalo aku nggak cantik, mana mungkin kamu mau, Pak?" canda Safira.


"Biarpun kamu nggak cantik, aku tetep mau kok Bun. Kamu tuh seperti warteg bagiku!" Lutfi kembali melirik sang istri. Sedangkan Safira cuma mengerutkan kening. Aneh saja mendengar ucapan sang suami.


"Warteg? Kenapa Warteg. Nggak ada yang lebih keren kah?" tanya Safira sedikit cemberut.


"Iya Bun, kamu tu bagiku seperti Warteg. Sederhana tapi istimewa. Kamu luar bisa, Bun," jawab Lutfi dengan senyum tertulusnya.


"Hilih gombal!" Safira tersenyum, namun menahan tawa.


"Beneran, Bun. Aku rela lo Bun, jadi atmosfer di hidup kamu. Biar nggak ada meteor yang berani nyakitin kamu," tambah Lutfi lagi.


Kali ini Safira sedikit terkejut dengan ucapan Lutfi. Entah dapat dari mana itu kata-kata. Kayak bukan Lutfi yang dia kenal.

__ADS_1


"Udah ah, gombal banget deh. Besok acara ultah adek. Bunda mau berpartisipasi ikut donasi. Mas mau ikutan nggak?" tanya Safira.


"Boleh, ambil aja uangnya sesuai yang Bunda mau." Lutfi kembali melirik sang istri.


"Makasih!"


"Kembali kasih!"


Safira membalas lirikan Lutfi lalu ia pun tersenyum heran.


"Kamu kenapa sih, Mas? Salah makan?" tanya Safira.


"Nggak? Aku baik-baik saja! Bunda kan mau donasi ke panti. Kalo aku donasi ke Bunda boleh nggak?" tanya Lutfi. Safira melirik aneh ke arah sang suami. Sebab Lutfi begitu aneh menurutnya.


"Donasi ke Bunda? Donasi apaan?" tanya Safira lugu.


"Donasi benih cinta kita, Bun. Boleh ya?" jawab Lutfi dengan senyum merayunya.


Safira kembali melirik aneh . Lutfi pinter banget mainin perasaan Safira saat ini. Lutfi benar-benar keterlaluan. Sampai Safira terheran-heran.


"Eehemmm, astaghfirullah... sudah ya Mas, jangan halu. Habis ini, sampai rumah, sebaiknya Mas mandi, terus makan, habis itu bobo. Kayaknya Mas bener-bener lelah deh. Sampai ngawur bicaranya," ucap Safira berusaha tidak tertawa. Meskipun sebenarnya ia sangat ingin tertawa.


"Kamu memang benar, Bun. Aku memang lelah, sangat lelah. Lelah menahan rindu ini, pengen segera teralurkan," jawab Lutfi lagi.


Lagi-lagi jawaban Lutfi sukses membuat Safira tersenyum menahan tawa. Ingin rasanya membalas. Namun, lidah wanita ayu ini serasa kelu.


"Dasar gila. Ada-ada jawabnya. Bapak kamu udah stres Naya. Sebaiknya kita hati-hati," ucap Safira ketus. Terlihat jelas bahwa saat ini dia sedang mencoba menolak perasaan bahagia atas rayuan yang Lutfi lontarkan.


"Bagaimana aku nggak gila, Bun? Kalo nyatanya napas aja susah," jawab Lutfi sok lugu.


"Kamu napas susah? Kenapa, Mas? Mas sakit?" Safira terlihat khawatir.


"Nggak! Ya gimana mau lega, Bun. Kalo separo napasku ada di kamu," jawab Lutfi lagi, tanpa dosa, tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Kali ini, Safira hanya diam sambil menahan tawa. Ternyata suaminya pinter banget ngegombal. Astaga! Sumpah, andai nggak lagi nyetir, Lutfi pasti habis dipukuli oleh Safira. Tentu saja pukulan cinta. Sebab Safira teramat sangat gemas.

__ADS_1


Awal pertemuan yang baik, Lutfi... lanjutkan🥰🥰🥰


Bersambung...


__ADS_2