PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Masih Gengsi


__ADS_3

Sesampainya di rumah kontrakan Lutfi. Safira dan juga bapak dari bocah cantik itu segera berlari. Sebab, mereka tak sabar, tangisan Naya nyatanya sanggup membuat mereka gugup.


Tangisan kesakitan bocah itu serasa cambuk bagi hati Lutfi ataupun Safira. Karena mereka berdua sama-sama menyayangi gadis cilik itu.


"Hati-hati, Bu, licin. Saya belum sempat mengepel!" ucap Lutfi memperingatkan. Maklum rintik hujan tadi sore masih menyisakan genangan air yang ada di teras rumah duda satu anak tersebut. Terang saja ia belum sempat membersihkan, kan dia kerja. Safira juga tahu itu.


"Nggak pa-pa. Aku akan hati-hati," jawab Safira sambil mengangkat tinggi gaun pesta yang ia kenakan. Lutfi langsung tanggap. Ia pun membantu sang tuan putri untuk mengangkat gaun tersebut agar tidak terkena air.


Andai ada yang menyadari keserasian mereka. Mungkin semua akan bilang, 'Sudahlah kalian serasi, menikah saja,' Sayangnya pikiran seperti itu sama sekali belum terlintas di benak Safira maupun Lutfi. Mereka nyaman dengan posisi mereka saat ini. Mereka nyaman dengan pertemanan yang kadang menimbulkan pertengkaran ini. Ya, mereka memang nyaman dengan kondisi mereka seperti itu.


Sesampainya di ruang tamu. Terlihat wanita paruh baya yang biasa Lutfi panggil 'Bude' itu sedang berusaha mendiamkan sang baby. Namun, sepertinya ia kewalahan. Dengan cepat Safira pun memberikan tas tangan yang ia gengam kepada Lutfi. Lalu, tak menunggu waktu lagi, ia pun langsung mendekati Naya dan membujuk bayi cantik tersebut.


"Tayangnya, Tante. Sini manis, sama Tante ya. Kenapa sih? Sakit ya, ha?" tanya Safira pada gadis yang masih saja terus menangis ini.


"Cup tayang cup, duh manisnya Tante," ucap Safira membari terus menimang bocah cantik ini.


"Fi, punya kompres yang instan nggak?" tanya Safira pada ayah sang bayi.


"Kayaknya habis, Bu," jawab Lutfi. Gugup, sebab ia tahu, Safira pasti akan marah padanya.


"Oh, ya udah, siapin air hangat sama handuk kecil aja, Fi. Buat ngompres kening sama ketiaknya," pinta Safira. Kali ini wanita ini lebih tenang. Tidak barbar seperti biasa.

__ADS_1


Lutfi tak membantah, ia pun langsung melaksankan apa yang tuan putrinya p pintahkan. Mengambil baskom berisi air hangat dan juga handuk kecil seperti yang Safira mau. Lalu menyerahkan barang-barang itu pada Safira.


"Astaga! Ribet banget ni gaun." Safira terlihat kerepotan dengan gaun super panjangnya.


Lutfi ingin tertawa. Tapi takut Safira mengamuk.


"Fi, boleh aku pinjam kemeja, kaos, atau apalah. Yang penting bisa gantiin baju ribet ini!" pinta Safira. Lutfi sedikit bengong. Aneh saja. Seorang tuan putri seperti Safira mau memakai baju miliknya. Bukan hanya itu, wanita ini juga mau repot-repot mengurus bayinya. Tentu saja, kenyataan ini membuat bapak satu anak ini bertanya-tanya. Mungkinkah, Safira memang tulus pada Naya. Ataukah dia seperti ini karena ingin menguasai bayinya. Ahhhh, Lutfi tak tahu harus bagaimana bersikap. Namun, sekali lagi, dia tak bisa menolak. Jika dalam situasi seperti ini dia berani membantah, alhasil, macan betina ini tak akan membiarkannya lolos begitu saja. Lutfi yakin itu.


"Fiii, dih! Malah bengong. Cepat pinjaman aku baju, kamu nggak kasihan aku kerepotan dengan baju ini?" tanya Safira, dengan nada sedikit tinggi tentunya.


"Eh, iya-iya. Maaf!" jawabnya gugup. Lalu tanpa berucap apapun pria ini pun langsung masuk ke dalam kamar dan mencarikan wanita galak itu baju terbaik miliknya. Ia pun tak ingin mendapat masalah, perihal baju.


"Ini, Bu!" ucap Lutfi sembari menyerahkan kaos berwarna abu-abu pada wanita cantik ini.


"Uhhhh, tayangnya Tante. Bentar ya, Tante ganti baju dulu! Nanti Tante gendong. Oke manis," ucap Safira. Sayangnya, Naya seakan tak peduli. Gadis cilik ini hanya ingin Safira. Tak ingin ditinggal, walaupun hanya untuk mengganti pakaian.


Akhirnya mau tak mau, Safira pun membawa bocah cantik itu ke dalam kamar Lutfi. Membawanya ganti baju. Namun, sebelumnya ia sudah meminta izin dulu pada yang punya kamar. Dan dengan segala kerendahan hatinya, Lutfi pun mengizinkan Safira masuk ke dalam kamar miliknya.


Ini adalah kali kedua Safira masuk ke dalam kamar milik pria menjengkelkan itu. Meskipun kali ini suasananya berbeda, tetap saja, kejadian menjengkelkan itu masih terlintas jelas di benak wanita ayu ini. Anehnya, kini kejadian itu tak membuat Safira marah. Justru dia senang. Entah apa alasan dia merasa senang. Dia hanya senang, itu saja.


Safira tersenyum malu, ketika ia ingat Lutfi hanya cuek saat ia berpamitan pulang. Dengan angkuhnya pria itu membiarkannya pergi. Sombong, arogan dan menyebalkan, itulah kesan pertama kali ia ketemu pria ini. Namun, segalanya berubah ketika merek sering bertemu. Sering bertengkar. Tapi juga sering berbagi pengalaman. Terlebih perihal Naya. Safira sangat suka jika Lutfi mengajaknya membicarakan Naya. Entahlah, Safira seperti mengingat bayinya.

__ADS_1


Mungkin jika bayinya itu masih hidup. Mungkin akan menggemaskan seperti Naya. Mungkin akan memberinya kebahagiaan seperti Naya.


Sedetik kemudian, Safira mengingat kembali ketika ia berpamitan, Lutfi hanya memejamkan matanya. Seakan tak mendengar dia berpamitan. Membuat Safira kembali kesal, "Dasar pria jahat!" umpat Safira manja. Tersenyum lagi, lalu dia malu sendiri.


Apa lagi, saat ini, baju yang ia kenakan adalah baju milik pria itu. Wanginya Safira suka. Beberapa kali ia mencium baju beraroma maskulin itu. Enak, Safira sudah lama tak mencium aroma laki-laki. Jujur, sebagai wanita normal, ia rindu aroma seperti ini.


"Ih, apaan sih, ngapain aku cium-cium kaos pria jelek itu. Ih, nanti aku jatuh cinta lagi. Amit amit amit amit!" ucapnya seraya melipat gaun yang telah terlepas dari tubuhnya.


Tak ingin membuat Naya menunggunya terlalu lama, Safira pun segara menaruh baju itu di ranjang pria menyebalkan itu, baginya. Setelah itu, ia segera menggulung rambut panjangnya dan menghampiri Naya yang setia menunggunya di ranjang. Mereka berdua sama-sama tersenyum.


Dengan penuh kasih sayang, Safira langsung menyamankan posisi Naya. Membaringkan gadis cilik itu di tengah-tengah ranjang. Menjaganya dengan menyusun beberapa bantal.


Safira tak peduli, meskipun nantinya Lutfi akan kesal dan marah padanya. Yang jelas malam ini Naya adalah miliknya..


Untuk mewujudkan itu, Safira pun ikut berbaring di sisi gadis cilik ini. Menciuminya. Mengajaknya bercengkrama. Memeriksa suhu tubuh sang bayi.


Naya sudah tak rewel lagi. Sebab suhu tubuhnya sudah turun. Lalu dengan kasih sayangnya, Safira pun mengelus kening gadis cilik ini. Sampai ia terlelap.


Safira tersenyum bahagia. Entahlah, melihat bayi menggemaskan ini terlelap dalam pelukannya adalah impian Safira. Dan impian itu terwujud. Safira tersenyum bahagia.


Malam semakin larut, kantuk pun menghampiri wanita cantik ini. Sekali lagi, ia tak peduli. Tak peduli jika nantinya Lutfi marah karena tidur di ranjangnya tanpa izin. Yang jelas, malam ini ia hanya ingin bersama Naya. Memiliki gadis itu sepenuhnya. Tanpa diganggu oleh siapapun. Termasuk ayah gadis ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2