
"Jodoh itu ada di depan mata, namun hanya Allah-lah yang mampu menunjukkannya. Bener kan Re?" saut Juan tiba-tiba. Sedikit mengagetkan Stella dan Rehan. Sebab mereka takut apa yang mereka bicarakan di dengar oleh Juan.
"Kamu benar, Bro. Cuma kenapa aku nggak dapet mutiara sepertimu ya. Nemunya apes mulu," canda Rehan terkekeh.
"Nggaklah, kan belum aja. Oia Ngomong-ngomong kamu nginep apa mau langsung balik ke Jakarta?" tanya Juan.
"Balik Jakarta langsung Bro, besok pagi mumpung si bos lagi di Jepang aku mau nengokin anak dulu di kampung," jawab Rehan jujur.
"Oh, baguslah. Jangan kerja terus. Anak juga butuh kamu, bapaknya. Oia udah berapa tahun Kania?" Juan kembali duduk di samping Stella.
"Tahun ini lima tahun, udah kelas A sekarang." Rehan menundukkan kepalanya. Seakan dia sedang menyembunyikan sesuatu, seperti Rindu pada gadis kecilnya mungkin.
"Mam, kemarin Mami lihat baju-baju cantik-cantik di mana ya Mam. Mau dong Mam beliin beberapa buat Kania!" pinta Juan.
"Ada di online shop. Boleh nanti Mami pilihin. Minta alamatnya aja, Pi. Langsung dikirim dari tokonya," balas Stella terlihat antusias menanggapi keinginan sang suami.
"Gitu juga boleh, Mam. Mami emang best," puji Juan seraya mencolek manja dagu Stella. Lagi-lagi Rehan hanya bisa menahan napas dalam-dalam. Sahabatnya ini memang tak bisa mengendalikan cinta mereka. Akhirnya Rehan pun gerah.
"Nggak usah repot-repot, Bro." Rehan menghentikan ucapannya, sebab Juan masih terlihat bercanda dengan Stella. Membuat Rehan geram.
__ADS_1
"Kalian bisa nggak sih, mesranya itu disimpan di lemari rumah saja. Kalian nggak nyadar ya sedari tadi aku pengen memaki kalian. Parah kalian, parah!" umpat Rehan kesal.
Juan bukannya kasihan, pria ini malah tertawa seakan tak memiliki dosa. Sedangkan Rehan masih menahan amarahnya.
"Dih, Papi," tegur Stella pelan sembari menepuk pundak sang suami.
"Apa, Mam?" Juan masih terkekeh.
"Udah ketawanya, kasihan kawan Papi tu," bisik Stella sambil menatap Rehan geli. Entah mengapa melihat wajah Rehan yang memang menahan amarah padanya sukses membuat Juan terpingkal-pingkal.
"Kamu ma bener-bener, Bro. Jahat, sumpah!" tambah Rehan. Semakin Rehan kesal semakin Juan tak bisa mengendalikan tawanya. Pria ini masih saja terkekeh. Padahal Stella sudah mengingatkan.
Rehan yang merasa punya kesempatan untuk melanjutkan perbincangan mereka, segera membuka suaranya.
"Ste, benarkah di hatimu sudah tak ada maaf lagi untuk kami?" tanya Rehan serius.
"Kalau untukmu, kita nggak pernah punya masalah, Re. Kalau pun ada itu antara aku dan dia. Tak ada hubungannya denganmu," jawab Stella simpel.
"Apa kamu siap, Ste? Jika Juan tahu jika mantan suamimu adalah sahabatnya?" Juan menatap intens mata Stella. Mencoba mencari kejujuran dari manik wanita cantik itu.
__ADS_1
Stella mengunggingkan senyum sinis. Seakan dia sudah siap dengan segala resiko yang akan ia hadapi.
"Ste, apakah ini Stella yang aku kenal baik hati dan mudah memaafkan?" Jujur Rehan sangat heran dengan Stella yang ternyata memiliki hati yang keras dan tak mudah memaafkan seperti Stella yang ia kenal dulu.
"Cintaku padanya tidak main-main Re, Aku mencintainya sangat mencintainya .... Dulu. Lalu, setelah aku tahu sebatas apa cintanya padaku, aku nggak mau bodoh mencintai, Re. Aku hanya membalas apa yang ia berikan padaku. Cukup tahu bagaimana dia memperlakukan aku dan aku pun bisa berbuat yang sama. Jadi jangan berpikir bahwa aku dengannya main-main. Aku serius, aku sayang padanya, tapi sekali lagi itu dulu. Sejak talak itu dijatuhkan, aku sudah men-setting ulang perasaanku. Meriset ulang hatiku, bahwa cintaku, sayangku, terlalu berharga untuk pria seperti itu!" jawab Stella tegas.
"Semudah itukah Ste?" tanya Rehan.
"Ya kenapa tidak? Bukankah dia lebih mudah membuangku dari pada apa yang telah kami perjuangkan selama ini. Sudahlah, Re. Dia hanya masa laluku. Aku tak ada hubungannya lagi dengannya. Semua sudah berakhir, sekarang aku punya hati yang harus aku jaga dan aku mencintainya seperti dia mencintaiku. Aku dengan Juan tak pura-pura. Kami saling mencintai, seperti yang kamu lihat. Jadi aku harap kamu mengerti." Stella menatap berani pada Rehan, pertanda ia tak memang main-main dengan ucapannya dan Stella berharap, Rehan bisa bersikap dewasa dengan masalah ini.
Ingin Rehan bertanya, apakah ia siap bertemu Zein. Namun, sayang Juan sudah kembali di tengah-tengah mereka.
"Gimana, Mam. Baju yang Papi minta. Udah ada belum?" tanya Juan, tiba-tiba sudah ada di belakangnya.
"Udah, Pi. Ini," jawab Stella seraya menyerahkan ponselnya pada sang suami.
Juan pun mulai melihat dan meminta Rehan untuk memilih. Mereka berdua terlihat antusias melihat baju-baju itu. Seperti foto-foto baju itu adalah sesuatu yang menyenangkan. "Dasar bapak-bapak aneh, kayak nggak pernah lihat baju-baju lucu aja," gerutu Stella merasa aneh.
Bersambung....
__ADS_1