
Tak ingin terlalu larut dalam pertengkaran yang tidak bermutu, Lutfi pun memilih pergi ke kamar belakang. Kamar yang biasa ia gunakan ketika masih menjadi sopir pribadi keluarga ini, tentu saja untuk membersihkan diri. Karena pesawat yang akan membawanya ke Makassar akan terbang tepat pukul 9.40 waktu setempat. Sedangkan Safira menangis di kamar pribadinya. Karena, menurutnya, Lutfi sangat keterlaluan. Sama sekali tidak mau mengerti dirinya.
Tidak mau mengerti rasa takut yang menekannya selama ini.
"Dasar jahat! Pria nggak peka!" umpat Safira kesal. Beberapa kali ia terlihat menghapus kasar air matanya. Lalu kembali menangis. Tenggelamkan dalam pikirannya sendiri. Terhanyut dalam rasa takut yang selama ini ia sembunyikan.
Beberapa menit kemudian, Safira masih asik tengelam dalam pemikiran-pemikiran yang menyalahkan Lutfi.
Namun, pemikiran itu buyar mana kala pengasuh Naya mengetuk pintu kamarnya.
"Ada apa, Sus?" tanya Safira ketika pengasuh itu terlihat rapi dari biasanya.
"Maaf, Bu. Saya di minta bapak buat ngambil baju-baju adik," ucap pengasuh Naya.
Safira mengerutkan kening bingung. Sebab menurutnya pengasuh Naya aneh. "Mengambil baju adek, emang di kamarnya nggak ada?" tanya Safira masih dengan pemikiran heran.
"Ada, Bu. Tapi kurang, kata bapak suruh bawa semua baju adek," jawab pengasuh itu lagi.
Tentu saja jawaban itu semakin membuat Safira heran dan bingung. Ada apa ini? Mungkinkah pria nggak peka itu mau bawa Naya ke Makasar? tanya batin.
Seketika, Safira pun membuka lebar pintu kamar dan berlari mencari pria yang berani menantangnya itu.
__ADS_1
"Lutfi, aku mau bicara!" ucap Safira dengan nada ketus. Sama seperti sebelum merek menikah.
Dengan santai, Lutfi pun menyerahkan Naya kepada pengasuhnya dan menarik tangan sang istri, mengajaknya masuk ke dalam kamar.
"Ihhh, lepasin!" Safira menarik kasar tangannya. Marah, kesal, sebel, geram, semua rasa itu bercampur jadi satu.
"Kamu tu maunya apa sih?" tanya Lutfi ikutan tak sabar.
Safira menatap nanar pada mata sang suami. Berharap Lutfi bisa mengerti apa yang ia pikirkan. Berharap Lutfi paham kerisauan yang ia rasakan.
"Kenapa diam?" tanya Lutfi kesal.
"Tu kan, aku lagi yang salah! Kamu tu kenapa sih, Ra? Aku ngegas dikit kamu nangis. Aku lembut kamu nggak ngerti-ngerti. Astaghfirullah Safira, aku mesti gimana ngadepin kamu?" Lutfi berkacak pinggang kesal. Menatap sekilas pada istrinya, yang menurutnya manja tapi tak tahu tempat.
"Jangan nangis, hapus air matamu. Aku nggak akan termakan oleh air mata buayamu itu." Lutfi kembali kesal. Sebab pada kenyatannya ia tak tega melihat air mata menetes dari mata wanita yang ia cintai itu.
Safira menurut, ia pun menghapus air matanya. Namun, ia tetap tak mau mundur dengn tujuannya. Ia tetap ingin Lutfi menuruti inginnya.
"Jangan pergi!" pinta Safira. Lirih tapi serius.
Lutfi tersenyum sinis. Selalu saja seperti itu. Padahal, kenyatannya tidak seperti apa yang selalu ia tunjukkan di media sosial. Bikin kesel saja.
__ADS_1
"Katakan padaku? Apa yang mengharuskan aku tetap tinggal?" tanya Lutfi, kali ini Lutfi enggan mengalah. Karena, Safira sungguh keterlaluan. Dia sama sekali tidak mengerti perasannya. Inginnya. Bahkan kenyataannya Safira juga belum bisa menerima dirinya sebagai suami, baik segi hati, pikiran, maupun fisik.
Safira tak mampu menjawab. Sebab ia tak memiliki jawaban atas pertanyaan Lutfi.
"Kamu nggak bisa jawab kan? Maka Sudahlah, nggak ada gunanya kita berdebat. Toh kita sudah sama-sama tahu porsi masing-masing. Kamu mau menikah denganku hanya untuk Naya kan. Oke baik, tidak masalah. Selama kamu nyaman dengan Naya, fine. Aku nggak akan mengusik kebersamaan kalian. Tentang kita, biarlah kita tetap seperti ini. Aku sudah cukup tahu tentang ekspetasimu terhadap pernikahan ini. Jadi kamu tenang saja. Aku, Lutfi, akan tetap jaga batasan, Ra. Sampai kamu bosan dengan Naya. Dan mengembalikan gadisku itu kepadaku. Puas!" Lutfi melirik kesal pada Safira.
Sedangkan wanita itu hanya menunduk lesu. Bingung, tak tahu harus menjawab apa.
Lelah menghadapi wanita yang tahu apa maunya ini, Lutfi pun berpamitan. "Sebaiknya aku pergi, Ra. Penerbanganku sebentar lagi. Aku pinjam Naya beberapa hari. Aku juga kangen sama dia. Aku harap kamu mengerti!" ucap Lutfi. Lalu ia pun memilih untuk meninggalkan kamar ini. Meninggalkan rumah ini.
Lutfi bukan pergi tanpa alasan. Ia meninggakan Safira dengan maksud agar wanita itu mau berpikir. Bahwa sebuah pernikahan bukanlah mainan. Pernikahan adalah penyatuan dua jiwa, dua raga. Lalu, kalau dia menyangkal itu, bagaiaman sebuah hubungan di sebut pernikahan. Bukankah itu konyol.
Lutfi pergi meninggalkan Safira juga memiliki sebuah harapan. Semoga sang istri bisa menyadari, bahwa sebenarnya mereka saling membutuhkan. Saling membutuhkan untuk menyembuhkan. Menyembuhkan akan luka kehilangan. Menyembuhkan luka akan kekecewaan.
Menyembuhkan luka akan derita cinta.
Namun, ego yang dimiliki sang istri terlalu tinggi. Sehingga Lutfi tak punya jalan lain, selain memberi pelajaran lebih keras pada sang istri.
Bersambung....
Like komen n Vote kalian adalah reward buat saya. makasih🥰🥰🥰
__ADS_1