
"Cie, pasti pada keinget judul lagu. Bukan pas ditinggal mantan kawin doang yang bisa pakek judul itu ye kan. Emak juga bisa buat gambarin sakitnya hati Zein. Like like jan lupa🥰🥰"
****
Di dalam mobil, Zein masih merutuki dirinya sendiri yang tak mampu berbuat sesuatu. Rehan melirik sekilas pada tangan Zein yang membentuk Kepalan. Pria yang berprofesi sebagai asisten big bisa satu ini, pasti sudah paham betul bagaimana sifat pria yang ada di sampingnya ini. Kepalan yang terbentuk di tangan Zein adalah bentuk dari kekecewaan yang mendalam. Atau mungkin, malah rasa ini ingin menghabisi nyawa seseorang.
"Kendalikan dirimu, Bos. Jangan sampai Stella melihatmu sebelum bayinya lahir. Atau kamu akan lebih menyesal!" ucap Rehan kembali memperingakan.
Zein menoleh ke arah Rehan. Matanya menatap penuh pertanyaan. "Apa maksudnya Stella tak boleh melihatku sebelum dia melahirkan? Beri aku alasan, kamu pikir aku peduli!" jawab Zein ketus.
Rehan melirik sekilas pada pria yang tak paham dengan maksud dan tujuannya. Sampai di beri kode pun tak bisa menangkap dengan baik. "Percayalah padaku, jika terjadi sesuatu pada Stella dan bayinya, aku Pastikan kamu pasti lebih menyesal dari pada ini," jawab Rehan lagi berusaha meminta Zein untuk mengerti jalan pikirannya.
"Heh, kamu pikir aku peduli!" jawabnya lagi.
Astaga, ingin rasanya saat ini Rehan menurunkan pria bodoh ini di jalan. Biarkan saja dia sendirian. Merenungi kode-kode yang ia berikan.
__ADS_1
"Bos, apakah Bos ingat, tanggal berapa Juan dan Stella menikah. Atau bulan apa mereka menikah? Coba Bos hitung dengan jarak kelahiran bayinya!" akhirnya Rehan tak tahan lagi. Ia pun akhirnya menyampaikan dengan gamblang tentang apa yang ia pikirkan. Agar pria bodoh di sampingnya ini paham dengan apa yang sebenarnya ada di otaknya.
Seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan pelajaran matematika, Zein pun mulai menghitung jari-jarinya dan ia tercengang dengan hasil hitung yang ia dapatkan.
Zein terlihat shock. Jangan shock. Rasanya tulang sendinya serasa lemas. Jantungnya terasa teremas. Zein tertegun bingung. Hanya mampu meneguk air liur yang tersimpan di dalam tenggorokannya.
Di sisi lain ada Rehan yang terlihat menahan emosi ingin memukul kepala pria yang ada di depannya ini. Agar segera tersadar dari rasa shocknya.
"Apakah anda paham sekarang, Bos?" tanya Rehan.
Zein menatap Rehan. Meskipun bingung ia terlihat senang.
"Ini baru dugaanku, tapi aku tetap berharap, Bos bisa mengendalikan diri. Mau bagaimanapun, saat ini Stella sudah bersuami. Bukan hakmu lagi untuk mendekati. Terlebih suami Stella juga bukan orang sembarangan. Jangan gegabah. Aku berharap, Bos tetap memikirkan adab pertemanan kita," ucap Rehan lagi. Meskipun dalam hatinya geram, namun Rehan tetap berusaha bersikap adil. Pada dirinya sendiri, pada Zein terlebih pada Juan dan Stella.
Masalah ini memang rumit sangat rumit. Terpeleset sedikit, maka semua akan hancur tak tersisa. Rehan berjanji, Jika Zein tak bisa mengerti dan mengendalikan diri, maka dia tak segan menghajar pria bodoh ini.
__ADS_1
***
Di rumah sakit, terlihat Stella sedang menikmati prosesnya. Sesekali ia menangis. Mengaduh dan meremas tangan Juan yang tak pernah melepaskan gegamannya.
"Sabar ya, Mam yang kuat, istigfar yuk!" ajak Juan pelan. Stella pun menurut. Ia terlihat mengucapkan apa yang suaminya suruh.
Jika rasa sakit itu reda, Stella tersenyum dan meminta sang suami menciumnya. Stella merasa ciuman bibir Juan dapat memberinya kebahagiaan dan ketenangan yang luar biasa.
"Makasih, Pi," ucap Stella sembari tersenyum.
"Sama-sama, Sayang. Aku mencintaimu istriku. Sangat," jawab pria tampan ini. Menatap penuh kemesraan, kembali memberikan kecupan di bibir wanita ayu ini. Memperlakukannya seperti seorang ratu dengan cintanya. Dengan kasih sayangnya dan dengan segenap ketulusan yang ia miliki.
Terlihat senyum terus mengambang di bibir Juan dan Stella. Jika rasa sakit itu hilang maka mereka bercengkrama sambil sesekali berciuman. Juan juga terlihat telaten mengelap keringat yang ada di kening sang istri. Dengan sapu tangan miliknya tentunya. Namun, jika rasa sakit itu datang. Stella akan meringis menahan tangis dan Juan langsung sigap, menunjukan kasih sayangnya dengan mengusap pinggang Stella seperti biasa. Mengajaknya beristifar. Membacakan doa-doa yang ia bisa lalu meniupkan di kening sang istri. Agar persalinannya kali ini dipermudah. Selamet ibu dan bayinya tentunya.
Sayangnya, kemesraan itu tak melulu membuat seseorang yang melihatnya ikut bahagia.
__ADS_1
Di sudut hati yang lain ada sepasang mata yang sedang menangis. Dia lah Zein, hatinya berkata bahwa 'harusnya aku yang di sana dan bukan dia' anak yang hendak lahir adalah anaknya. Seharusnya dialah yang menemani wanita itu berjuang. Bukan Juan, yang hanya menjadi lelaki pengganti.
Bersambung...