
Sesampainya di kediaman Isabela, tanpa sengaja Rehan mendengar semua perbincangan mereka. Dari awal hingga akhir. Hati Rehan teriris perih. Bagaimana tidak? Keluarga tersebut menghina kekasihnya. Menyakiti hati wanita yang ia cintai.
Bukan Rehan tidak berani melawan mereka. Tetapi Rehan masih punya etika. Bagaimanapun, dia belum berhak ikut campur urusan keluarga itu. Rehan masih berusaha menjaga batasannya. Meskipun jujur, ia tidak bisa terima perlakuan mereka terhadap Renata.
Namun, diam-diam ada rasa bangga di hati pria tampan ini. Sebab sang kekasih begitu berani membela diri. Tidak pasrah ketika diincak. Tetap menegakkan kepalanya. Dan menyakinkan mereka bahwa dia masih memiliki harga diri.
Rehan masih memerhatikan. Bahkan ketika Renata dengan tegas memutuskan untuk keluar dari rumah ini. Bukan hanya itu, Rehan juga menyaksikan senyum sinis mereka. Senyum itu terlihat licik. Sepertinya mereka terlihat menang dengan keputusan Renata meninggalkan rumah ini.
Kali ini Rehan tak tinggal diam. Tanpa permisi pria ini pun langsung masuk ke dalam rumah tersebut. Tanpa basa-basi, Rehan pun mengucapkan kalimat yang mungkin membuat telinga mereka memanas.
"Oh, jadi kalian menjadikan masalah ini sebagai alat untuk mengusir Renata dari rumah yang sebenarnya adalah haknya!" ucap Rehan.
Seketika ketiga orang tersebut pun membalikkan tubuh. Namun, seseorang yang telah mati mata hatinya, tetap saja enggan peduli dengan apa yang Rehan katakan.
"Siapa kamu berani ikut campur urusan keluarga kami?" tanya Taka dengan penuh emosi. Bahkan mata pria ini melotot pada Rehan. Sayangnya apa yang pria lakukan, sedikitpun tak membuat nyali Rehan menciut.
"Aku adalah calon suami Renata. Yang berarti mulai saat ini, Renata adalah tanggung jawabku. Apapun masalah yang calon istriku alami, berarti aku pun ikut merasakan. Silakan anda tertawa sekarang, tapi ingat aku tidak akan tinggal diam!" jawab Rehan tegas. Sejak Renata menceritakan apa yang ia alami di rumah ini, jujur Rehan sangat gerah dengan perangai mereka. Ingin sekali Rehan membantu Renata. setidaknya mencarikan wanita malang ini pengacara, agar bisa mengambil haknya.
"Kamu pikir kami takut. Kami punya banyak kenalan. Silakan mau sampai mana, sini aku jabanin!" tantang Taka lagi. Sedangkan Isabela dan juga Isna hanya tersenyum sinis pada Rehan.
Beberapa menit kemudian, ketika mendengar suara gaduh-gaduh, Renata pun cepat-cepat keluar kamarnya. Sekalian ia juga membawa tas berisi baju-bajunya.
"Mas Rehan! Ngapain di sini?" tanya Renata bingung. Bukan hanya bingung, gadis ini juga terkejut.
__ADS_1
"Dia mau menjemput jalangnyalah apa lagi!" celetuk Isabela.
"Jaga ya mulut kamu, wanitaku jauh lebih mulia dibanding kamu!" balas Rehan kesal.
Melihat sang kekasih mulai kesal, Renata pun segera menggandeng Rehan dan mengajaknya keluar rumah.
"Udah Mas, jangan diladenin! Percuma!" ucap Renata.
"Sebentar, Sayang. Biar Mas selesaikan masalah ini sekarang. Agar mereka nyadar bahwa rumah yang mereka tempati bukanlah hak mereka!" ucap Rehan berani. Sebab ia tahu bagaimana cerita rumah ini berasal. Bukan hanya Renata yang cerita, bahkan emaknya juga pernah menyampaikan hal yang sama kepadanya. Perihal rumah ini.
"Mas, udahlah. Biarkan saja mereka. Toh Renata juga nggak butuh-butuh amat. Renata sebarang kara, nggak butuh hunian sebesar ini juga," jawab Renata sembari menahan Rehan agar tidak emosi.
"Tidak boleh begitu, Sayang. Namanya hak adalah hak. Namanya kewajiban adalah kewajiban. Ngapain kamu jadi pelangi untuk orang yang buta seperti mereka. Sudah ditolong malah nginjek. Dasar benalu!" ucap Rehan kesal.
Terang saja, mendengar ucapan Rehan sudah pasti telinga ketiga manusia itu pasti berdengung dan serasa panas. Tapi Rehan tak peduli. Sebab itu adalah tujuannya. Membuat mereka marah. Kesal dan nyadar diri.
"Mas, aku bilang juga apa. Percuma ngomong sama orang yang tuli. Udah mendingan kita pergi aja. Jangan buang-buang tenaga!" pinta Renata lembut.
Namun, emosi sudah merasuki hati Rehan. Pria ini sudah berniat. Berniat untuk meluruskan sebuah kebenaran. Baginya, orang tua Isabela harus sadar diri. Itu saja.
"Sebentar, Sayang. Aku tahu mereka adalah orang berpendidikan. Namun egois dan tak tahu malu." Rehan menarik Renata agar berdiri di belakangnya. Lalu ia pun melanjutkan ucapannya.
"Ingat baik-baik, sekarang Renata tidak sendirian. Ada aku yang siap membelanya. Ada aku yang selalu ada untuknya. Aku beri kalian waktu satu bulan untuk memberikan hak yang dimiliki oleh Renata. Jika tidak, amri kita selesaikan ini di pengadilan. Ingat baik-baik ucapanku. Kali ini aku tidak main-main!" ucap Rehan serius. Ketegaaan sebagai seorang pria berpengalaman tentu saja tak semudah itu dia gentar. Meskipun berkali-kali Renata melarang. Namun, Rehan sudah berjanji. Berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan gentar menghadapi manusia-manusia serakah seperti mereka.
__ADS_1
Selepas mengucapkan apa yang ada di otaknya Akhirnya Rehan pun menggandeng sang Kekasih dan membawa wanita ini keluar dari rumah itu. Tanpa kata, tanpa banyak bicara, Renata hanya diam dan menuruti apa yang Rehan mau. Sebab, Rehan sangat menyeramkan jika marah.
Rehan membukakan pintu penumpang paling depan untuk sang kekasih. Setelah itu ia pun bersiap ke kursi kemudi dan mulai melajukan kendaraannya dengan tenang.
"Sabar, Mas. Jangan terbawa emosi!" ucap Renata mengingatkan.
"Nggak, Yang. Aku baik-baik saja. Tapi mereka harus tetap diberi pelajaran. Biar nyadar diri!" jawab Rehan lembut. Sepertinya Rehan sudah kembali menjadi Rehan yang ia kenal. Lemah lembut dan penuh perhatian.
"Percuma, Mas. Mereka itu batu," ucap Renata lagi.
"Kita lihat nanti, Yang. Seberapa besar nyali mereka menghadapi kita!" jawab Rehan yakin.
Jika sudah begini, tak ada alasan bagi Renata untuk melawan. Dengan keyakinan hatinya, Renata pun memilih diam dan menurut dengan apa yang Rehan pikirkan. Renata Yakin jika Rehan juga menginginkan yang terbaik untuknya.
***
Rehan begitu tegas mengambil langkah apapun. Tapi tidak dengan pria satu ini. Dia adalah Zein. Zein memilih memendam perasaannya cinta yang ia rasakan untuk Vita. Sebab ia tahu untuk memiliki kekasih hatinya itu sungguh tidak mungkin. Kurang pemisah antara mereka sungguh curam. Berani melangkah berarti dia harus siap masuk ke dalam lubang penderitaan.
Zein masih setia merenungi keinginan hatinya. Ingin rasanya ia melupakan rasa yang membelenggunya. Namun, hatinya terus meronta. Tak rela. Tak rela jika Vita, gadis itu pada akhirnya menjadi milik orang lain.
"Ya Tuhan, inikah hukuman terberatmu. Mengapa Engkau hadirkan cinta ini, jika pada kenyataannya Engkau tak izinkan aku untuk memilikinya? Sakit Tuhan. Kumohon hapuskan lah cinta ini dari hatiku!" ucap Zein memohon pada sang Pemilik Hidup. Berharap doanya terkabul. Agar ia bisa hidup tenang.
Tak terasa butir bening menyembul dari sudut matanya. Ternyata mencintai tanpa bisa memiliki adalah sesakit-sakitnya rasa. Dan kini Zein mengalaminya.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like komen dan share ya... π₯°π