
Stella sedang merapikan pekerjaannya. Entah mengapa sejak kecelakan nya beberapa bulan yang lalu, Stella merasakan ada sesuatu yang lain dalam tubuhnya.
Wanita cantik ini gampang sekali lelah. Tapi bukan lelah biasa. Seperti lebih malas melakukan aktivitas.
Jika boleh, ia hanya ingin rebahan saja di ranjang sambil bermain handphone. Tetapi, sekali lagi, dia mana bisa begitu. Bukankah ia harus mencari kebutuhannya sendiri sekarang. Meskipun Stella tahu, jika uang susu dan belanja bulannya masih di kasih oleh Juan. Stella tahu itu. Namun ia tak berani pakai. Sebab, ia yakin jika Juan memantaunya.
Sekali ia menarik uang, maka habislah dia. Juan pasti akan tahu di mana dia berada saat ini.
Setali tiga uang dengan sang kakak. Vita pun sama. Hari ini dia malas sekali melakukan apapun. Terlebih, semalam ia mendengar kabar jika pria yang selama ini mengejar cintanya sedang menuju padanya. Ingin membuktikan kesungguhan cinta yang dia miliki. Dan Vita bingung harus bagaimana?
Kini gadis cantik bertubuh mungil itu pun malas pergi ke butik miliknya. Ia pun meminta sang kakak untuk pergi ke sana dan menjaganya.
"Kak!" panggil Vita manja. Mendatangi Stella yang saat itu sedang bermalas-malasan di atas ranjang.
"Heemmm," jawab Stella singkat.
"Kakak aja lah ke butik, Vita mau sembunyi," ucap gadis ini manja, seperti biasa. Ia pun langsung merebahkan tubuhnya di samping kakak tercintanya.
"Kakak juga lagi nggak mood ni kerja. Rasanya cuma pengen baring aja," jawab Stella, masih asik memainkan ponselnya.
"Kita malas gini, kapan kaya hah?" canda Vita sembari mencubit sprei kasur milik sang kakak.
"Iya juga ya, kita malas kek gini, bisa-bisa nggak bisa balik kampung," tambah Stella. Mereka pun terkekeh.
"Iya kakak, abang masih setia ngirim uang. La Vita, sapa yang mau kasih," timpal Vita sembari memanyunkan bibirnya.
Stella diam, sebab apa yang dikatakan sang adik adalah benar. Pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu masih setia mengirimkan nafkah lahir untuknya.
__ADS_1
"Kamu tahu bukan hanya itu yang Kakak mau. Kakak tidak hanya menginginkan nafkah lahir, Vit, tapi juga batin. Dan nafkah batin harus ada cinta di dalamnya. Sedangkan abangmu?" Terlihat butiran bening keluar dari sudut-sudut mata cantiknya.
Vita memiringkan tubuhnya dan menatap wanita yang kini sedang merana karena cinta itu.
"Kalo menurut Vita, sebaiknya Kakak konfirmasi lagi ke abang. Siapa tahu abang saat itu sedang bimbang. Maksud Vita nggak benar-benar meminta Kakak pergi," ucap Vita mengingatkan. Mencoba meluluhkan hati sang kakak, agar mau memperbaiki hubungan antara dirinya dan sang suami.
"Entahlah, Vit. Kalo boleh jujur Kakak rindu dengan abangmu. Terlebih jika Kakak sedang merasakan tak nyaman begini," jawab Stella sedih.
"Kakak lagi nggak enak badan?" tanya Vita.
"Nggak juga sih! Cuma rasanya malas aja mau ngapa-ngapain. Pengennya cuma di kamar sambil main game. Udah gitu doang," jawab Stella jujur. Sedangkan Vita hanya tersenyum. Sebab, baginya, Stella terkadang memang manja. Vita sangat hafal dengan sifat manja Stella.
"Kak!" ucap Vita mengejutkan.
"Hemm!" jawab Stella santai.
"Luis? Siapa?" tanya Stella, sepertinya wanita cantik ini lupa. Padahal Luis adalah kakak kelasnya ketika SMA.
"Luis itu loh ketua Osis di sekolah kakak pas SMA," jawab Vita mengingatkan.
"Ohhhh, yang itu. Kenapa emang?" balas Stella.
"Dia mau datang ke sini, Kak!" jawab Vita sedikit malas.
"Ke sini? Mau ngapain?" Stella melirik aneh ke arah sang adik.
"Dia itu .... " Vita tersenyum malu.
__ADS_1
"Dia itu apa? Kalian pacaran?" desak Stella spontan.
"Sebenarnya enggak sih, Kak. Beberapa kali dia nembak Vita, tapi Vita masih belum srek ama dia. Terus Vita tantangan, kalo beneran sayang sama Vita, dia ku suruh ke sini. Terus minta Vita ke ibu, ke Kakak. Karena Vita emang nggak mau pacaran. Eehhh, masak dianya seriusan. Besok dia ke sini Kak, gimana ini?" jawab Vita gugup.
Stella yang mendengar ucapan sang adik, tentu saja antusias. Bagaimana tidak? Ternyata diam-diam sang adik sudah ada yang melirik.
"Bagus dong, berarti dia serius sama kamu," jawab Stella dengan senyum bahagianya.
"Tapi jujur, Vita nggak ada rasa sama dia Kak," jawab Gadis ayu ini.
"Masalah rasa bisa berjalan seiring waktu. Yang penting kalian bisa saling menerima. Saling memahami. Pasti rasa itu akan tumbuh bersamaan rasa itu," jawab Stella menasehati. Karena, sejatinya, hubungannya dengan Juan juga seperti itu. Menikah dulu, baru saling jatuh cinta.
"Entahlah Kak, Vita pikir-pikir dulu. Udah ya, Vita mau ke butik. Kakak beneran nggak mau ke butik?" jawab Vita sedikit malas.
"Nggak lah, hari ini Kakak mau bermalas-malasan ria. Badan kakak sakit semua, serius," balas Stella sembari menaikkan selimutnya.
"Perasaan Kakak malas mulu deh, udah dapet belum?" Vita beranjak dari ranjang Stella.
"Dapet? Dapet apaan?" tanya Stella bingung.
"Dapet! Ya Dapet. Dapet tamu bulanan Kakak. Apa lagi?" jawab Vita sedikit kesal.
Stella menatap aneh ke arah sang adik. Sebab, sejak kakinya menginjakkan negara ini, belum sekalipun Stella mendapatkan tamu bulanan.
"Ye ... ditanyain malah bengong. Udah dapet belum? Biasanya kan kalo kita males begini kan mau dapet tamu. Kakak udah dapet belum? atau ini udah tanggalnya?" tanya Vita lagi.
Stella masih belum bisa menjawab pertanyaan sang adik. Sebab ia benar-benar melupakan perihal satu ini. Tak menunggu waktu lagi, ia pun segera beranjak dari pembaringan dan segera mencari tanggalan yang biasa ia gunakan untuk menghitung masa haidnya.
__ADS_1
Bersambung...