PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Benar-benar di Pisahkan


__ADS_3

Vita masih belum bisa dimintai keterangan oleh siapapun. Baik itu dari pihak keluarga atau pihak Kepolisian. Wanita ini terlihat shock. Sangat-sangat shock.


Bagaimana tidak? Suaminya masih belum sadarkan diri. Ditambah sekarang, pria yang ia cintai juga bernasib sama. Vita tidak tahu harus berbuat apa.


"Vit, makan dulu yuk. Biar kamu kuat, biar punya tenaga!" ajak Stella sembari menyodorkan sepiring nasi dan lauk untuk sang adik.


"Bagaimana aku bisa makan, Kak? Belum ada yang memberi tahu aku, bagaimana kabar Bang Zein sekarang!" jawab Vita sembari menangis sedih.


"Abangmu dan Rehan udah nyasul ke tempat di mana Zein di rawat. Semoga mereka pulang dengan membawa berita baik untuk kita. Berdoalah supaya dia baik-baik saja. Jangan putus doa, ya," ucap Stella berusaha membuat adiknya mengerti.


"Ini semua gara-gara Vita. Oma Dena memang benar, kalo Vita itu pembawa sial. Vita wanita pembawa sial, Kak," ucap Vita menyesal. Tangis kembali pecah, mana kala bayangan kejadian yang terjadi pada Luis dan Zein terpangpang nyata di pelupuk matanya.


"Nggak boleh ngomong begitu. Tuhan sudah menggariskan semua. Percayalah! Semua akan baik-baik saja. Sekarang kita makan. Kamu harus kuat, supaya bisa menjaga Luis. Oke!" ucap Stella sembari menyiapkan sesendok nasi dan lauk ke mulut samg adik. Tetapi Vita masih belum mau. Dia terus menolak dan menolak. Hingga Stella pun memilih mengalah.


***


Stella bingung, harus bagaimana lagi mencari cara untuk membujuk sang adik agar mau makan. Agar tubuhnya tidak semakin lemah.


Melihat sang putri hanya melamun di meja makan, Sera pun mendekati putri kesayanganya itu.


"Ada apa hayoo? Kenapa melamun?" tanya Sera sambil mengelus pundak sang putri.


"Ste bingung Ma! Ini sudah hari ke tiga sejak Zein kena musibah. Tapi Vita masih belum mau makan. Bahkan masih belum mau keluar kamar. Dia keluar kamar kalo pas ke rumah sakit doang," jawab Stella jujur.


"Sabar, namanya juga lagi di selimuti rasa bersalah. Itu wajar. Nanti mama coba bantu bujuk dia," ucap Sera berjanji.


Stella tersenyum. Setidaknya masih ada yang mau membantunya untuk membujuk sang adik yang saat ini sedang dirundung duka itu.

__ADS_1


Beberapa jam berlalu, setelah berbicara dengan Stella, Sera pun memberanikan diri masuk ke dalam kamar sang keponakan.


Dengan penuh kelembutan, Sera pun mendekati Vita dan bertanya, "Vita oke?"


Vita hanya mengangguk. Namun sedetik kemudian, dia menagis.


"Tante tahu jika ini sangat berat untukmu. Tapi, kamu juga harus kuat. Luis sangat membutuhkanmu," ucap Sera menasehati.


Andai tante tahu ini bukan hanya perihal dia, apakah tante juga akan berkata seperti itu? tanya Vita dalam hati.


Ya, memang benar. Apa yang ada di pikiran Vita saat ini memang bukan hanya Luis. Tetapi juga ada Zein. Keselamatan pria itu juga menjadi ganjalan di hatinya. Ia takut Zein cacat. Vita takut Zein tidak bisa bangun lagi. Vita takut Zein tidak selamat. Dan jika itu sampai terjadi, maka Vita tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri. Sebab apa yang terjadi pada Zein saat ini, adalah karenanya.


"Tante keluar dulu, nanti kalo ada apa-apa kamu boleh panggil, Tante oke! Jangan lupa makan. Makan itu penting buat kasih kita tenaga. Kamu masih muda Vita, jangan merusak tubuhnlmu dengan tidak makan. Ingat, kamu punya tanggung jawab menjaga Luis. Kamu punya kewajiban mengabdikan hidupmu untuk pria itu. Karena dia adalah pilihanmu, Vita mengerti ka" ucap Sera mengingatkan.


Vita mengangguk pelan.


Baginya, ujian hidup harus dihadapi. Ujian hidup harus dijalani. Tidak ada kata menyerah untuk itu. Tidak ada kata tidak bisa. Semua pasti terlewati, asalkan kita yakin.


Sera keluar kamar Vita setelah mengutarakan apa yang ia ingin utarakan. Sera berharap, keponakannya itu segera bangkit dan bisa berpikir realistis.


***


Di sisi lain, Juan dan Rehan memutuskan untuk menyusul Zein ke Singapura.


Tentu saja untuk memastikan keadaan sahabat mereka itu.


Juan dan Rehan tidak mau dianggap tidak bertanggung jawab. Bukan hanya itu, ini semua juga terdorong oleh rasa kemanusiaan yang tumbuh di dalam diri mereka. Rasa kasih sayang yang besar, itulah yang mendorong mereka sampai ke negara di mana Zein di rawat.

__ADS_1


Sayangnya, kedua orang tua Zein tidak mengizinkan mereka untuk menjenguk sang sahabat. Dengan kasar, Laskar oun mengusir mereka.


"Untuk apa kalian datang ke sini, ha? Masih belum puas membuat putraku belakang seperti itu. Ingat, jika sampai Zein tidak selamat. Maka aku akan menuntut kalian semua. Mengerti!" Laskar menatap kedua sahabat itu dengan tatapan penuh kebencian.


Bukan hanya menatap, Laskar juga menunjuk mereka. Seakan meraka telah melakukan kesalahan yang sangat fatal.


"Tapi Om, ini adalah musibah. Sungguh, kami juga tidak tahu kalo hal buruk ini akan terjadi pada Zein. Kami mohon, Om. Tolong, sekali saja izinkan kami bertemu dengan Zein!" pinta Juan memohon.


"Musibah kamu bilang? Denger ya, Aku sangat menyayangi putraku. Aku tidak rela siapapun memanfaatkan nya. Mengambil keuntungan darinya. Termasuk kalian!" ucap Laskar, kasar, seperti biasa. Juan sudah tak kaget dengan perangai egois Laskar. Tetapi ini demi Zein, demi Vita. Juan tak ingin mengalah.


"Om, kami mohon!" ucap Rehan membantu.


"Sekali tidak ya tidak! Lebih baik kalian segera pergi. Atau aku panggil kan satpam?" tanya Laskar tegas.


Kali ini pria ini tidak ingin kalah dengan rengekan Rehan dan Juan. Ia telah mengambil keputusan dan itu artinya adalah final.


Laskar tak ingin berbicara pada kedua anak muda ini, ia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Juan dan Rehan di depan kamar rawat Zein.


Kecewa, sudah pasti. Bagaimana tidak? Mereka sudah mengorbankan waktu uang bahkan tenaga, hanya untuk melihat kedaan sang sahabat. Tetapi dengan begitu angkuhnya, mereka di tolak. Bukankah ini adalah sesuatu yang sangat menyakitkan?


"Sudahlah, Jun! Lain kali kita kembali. Mungkin Om Laskar masih belum bisa membaca ketulusan kita," ucap Rehan sembari mengajak Juan balik arah.


"Kamu benar, Re! Aku lebih mengenalnya di banding kamu. Dia sudah tua tapi sikapnya masih sama. Masih egois. Masih tidak mau mengerti orang lain. Heran aku," jawab Juan kesal.


Rehan tersenyum kecut. Sebab apa yang dikatakan sang sahabat adalah kenyataan. Pria tua itu memang memiliki sikap demikian. Sebenarnya jika diingat lagi, tanpa dia sadari, dia juga telah menyakiti hati putranya. Dia pasti menyakiti hati Zein. Karena telah membatasi ruang gerak sang putra.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2