PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Galau


__ADS_3

Vita tak bisa menolak ajakan sang sahabat untuk bertemu. Kini, gadis cantik ini sudah berada di depan rumah sang kakak, menunggu sang sahabat menjemputnya, tentu saja untuk melepas rindu.


Lima menit kemudian, akhirnya mobil Pajero Sport warna hitam menghampirinya. Vita yakin itu adalah sang sahabat, tak lain.


Benar saja, mobil yang menghampirinya ternyata adalah mobil yang ia tunggu.


Mobil milik Safira. Yang tak lain adalah sahabat serta mantan kekasih sang kakak ipar.


Namun, terlepas dari itu semua, Vita tetap bersikap biasa. Berusaha menepis masalah-masalah yang pernah menghinggapi mereka. Vita sendiri bisa mengerti, kenapa Safira bisa goyah ketika bertemu dengan sang mantan? Karena ia sendiri bisa merasakan, bahwa melupakan seseorang yang pernah hadir di benak kita itu sangat sulit. Sangat-sangat sulit.


Zein begitu intens menyerang ingatannya. Padahal, ia sendiri telah memiliki kekasih.


"Hay!" sapa Vita ketika membuka pintu penumpang bagian belakang.


"Hayyy! Emmm kangen!" sambut Safira dengan senyum bahagianya.


"Sama, aku puuunnnnn!" jawab Vita semangat.


Gadis cantik itu pun segera masuk ke mobil dan mereka kembali bercengkerama. Sayangnya, keasikan mereka terpotong, gara-gara mata Vita tak sengaja menangkap pengemudi yang mengemudikan mobil yang ia tumpangi.


Mata Vita tak berkedip. Dia terpesona. Membuat Safira menepuk pundaknya heran.


"Kenapa?" tanya Safira lirih.


"Sopirmu iki?" tanya Vita spontan.


"He em, kenapa?" balas Safira heran.


"Asem, pantesan nggak balik kerja. La di sini sopir guantenge poll e ..." celetuk Vita dengan candaan khasnya.

__ADS_1


"Hussst ... jaga mata jaga! dia suami orang, jangan macam-macam!" balas Safira, sok tahu. Sedangkan Lutfi hanya diam dan terus berkonsentrasi pada jalanan yang ada di depannya.


"Owalah, aku telat rupanya. Eh, Mas, Abang sopir, punya kembaran nggak!" goda Vita sembari cengengesan.


"Astaga, Vita!" potong Safira sedikit membentak. Mungkin dia malu.


"Ih, apaan sih? Siapa suruh dia ganteng. Abang punya kembaran nggak, Bang?" tanya Vita lagi. Masih dengan candaan yang menggerakkan.


"Maaf, Non. Tidak," jawab Lutfi sopan.


"Ya Tuhaaannnnnn! Sama kamu dia panggil Non, sama aku dia panggil ibu. Bener-bener kamu ya Lutfi," ucap Safira marah.


Vita terkekeh. Lucu saja mendengar protes tak bermutu sangat sahabat.


"Nggak usah ketawa, ni sopir emang ngeselin. Seriusan dia manggil aku ibu, kek aku ni ibunya aja," ucap Safira ketus.


Spontan Safira melotot kesal. Matanya langsung tertuju pada spion di mana ia bisa melihat mata pria tampan ini. Tak sengaja, Lutfi pun saat itu juga menatap spion tersebut, hingga pandangan mereka tak sengaja bertemu.


"Lu candanya keterlaluan, Vit. Dia itu suami orang. Mana bisa sih aku jadi ibu dari anak-anaknya. Ngawur kamu!" Safira terlihat kesal.


"Cuma canda doang, Wak. Astaga! Dah ah, jangan canda lagi. Gimana kerjaan lu di Manado, lancar?" tanya Vita sembari merayu manja.


Safira tak mungkin marah terus. Ia pun menjawab pertanyaan sang sahabat dengan apa yang sebenarnya ia alami.


"Sebelumbya gue mau minta maaf dulu ama lu, Vit. Karena sempat bikin rumah tangga kakak lu jadi bermasalah," ucap Safira, terdengar melo, tapi Vita bisa menangkap kesungguhan dan ketulusan hati Safira, tentang niatnya meminta maaf.


"Iya, mereka udah baikan kok. Sekarang kakak lagi hamil anak kedua," jawab Vita dengan senyum bahagianya.


Mendengar kabar bahagia itu, Safira ikutan antusias.

__ADS_1


"Benarkah? Alhamdulillah Ya Allah. Ikut seneng Vit. Serius! Jadi pengen hamil!" jawab Safira spontan.


Vita sendiri terkejut. Tak menyangka kalau reaksi Safira akan seperti ini. Vita pikir Safira akan marah. Akan cemburu, lalu memaki sang kakak. Nyatanya tidak, wanita ini ikut bahagia dengan kabar bahagia yang ia bawa.


"Pengen hamil? Kawin makanya!" ledek Vita sembari tertawa lirih.


"Jodohnya belum di dekatkan, Wak. Cariin dong!" Safira melirik gemas pada sang sahabat.


"Cariin! gue mana tahu selera elu." Vita merapikan rambutnya.


"Selera gue yang ganteng, baik hati, tidak sombong, rajin bekerja dan suka menabung. Itu aja," balas Safira, ikutan terkekeh.


"Ya elah, yang model begitu nyari di mana ya?" Vita kembali terkekeh. Sedangkan Safira mencuri pandang pada Lutfi. Lagi-lagi di saat Safira mencuri pandang, ia pun ikutan menatap spion itu. Mereka terlihat sedang berkomunikasi dengan tatapan mata. Dan entah apa yang sedang mereka rasakan. Sampai saat ini, mereka masih berusaha memahami keinginan hati masing-masing.


Tak terasa, mobil yang mereka kendarai pun akhirnya sampai di kediaman mewah milik keluarga Safira.


Vita yang tahu bagaimana keseharian sang sahabat di Sydney dulu, sampai tak menyangka, jika Safira ternyata anak orang berada.


"Ini rumah elu, Wak?" tanya Vita kagum.


"Bukan, Wak. Ini rumah nyokap bokap. Kalo gue, belum punya apa-apa. Do'ain ya, biar bisa punya kek mereka," jawab Safira merendah.


"Alah, Wak! Elu nggak usah kerja juga udah bisa makan kenyang. Tinggal duduk manis, makanan datang sendiri." Vita terkekeh.


"Mana bisa begitu, elu kayak nggak kenal bokap gue aja. Tapi, lu bener juga sih, Wak. Sekarang gue punya abang, mau jajan tinggal minta aja ama dia," jawab Safira, ikutan terkekeh.


Mendengar kata abang dari mulut Safira, Seketika ingatan Vita langsung tertuju pada pria itu. Pria yang membuatnya resah beberapa hari ini. Ingin rasanya Vita menceritakan apa yang ia rasakan dengan sang sahabat, namun ia takut. Mengingat orang yang hendak ia ceritakan adalah dia, adik dari sang pria tersebut.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2