
"Boleh Kakak tahu alasan kenapa oma Dena berubah pikiran dan malah menolak pernikahan kalian?" tanya Stella hati-hati.
Vita mengangkat wajahnya dan menjawab, "Beliau tidak setuju karena mengetahui silsilah keluarga kita, Kak. Ayah yang dipenjara, ibu yang mengalami gangguan mental dan perekonomian keluarga kita yang tak setara dengan mereka." Pandangan Vita kembali tertuju pada karpet bulu yang ia injak itu.
"Kenapa kamu baru cerita sekarang, Vit? Kenapa tidak pas kamu tahu kenyataan itu? Lalu bagaimana keputusan kalian?" Stella terlihat sangat khawatir.
"Jangankan untuk menceritakannya. Menerima kenyataan ini saja, rasanya susah sekali untuk kami." Vita mengelap air mata yang mulai nampak di sudut matanya.
"Kakak tahu, kamu adalah gadis yang kuat. Kamu bisa melewati apapun. Tetapi, untuk pernikahan tanpa restu, rasanya sulit sekali bagi Kakak untuk melepaskanmu, Vit," ucap Stella jujur. Stella berkata demikian karena ia pernah mengalami perceraian. Dan perceraian itu adalah hal yang sangat menyakitkan.
"Beliau tidak langsung membatalkan pernikahan ini, Kak. Beliau mengizinkan kami menikah, tetapi .... " Vita kembali di rasuki rasa sedih yang luar biasa. Hatinya bergemuruh takut. Pikirannya berputar akan keburukan yang mungkin akan terjadi.
"Tetapi apa, Vit? Katakanlah, kamu nggak usah takut!" pinta Stella sembari mengenggam erat tangan sang adik. Mencoba menguatkan hati gadis yang selama ini tumbuh bersamanya itu.
"Oma Dena mengajukan syarat, jika dalam setahun pernikahan kami, kami tidak bisa memiliki keturunan. Maka Vita harus siap diceraikan oleh Luis, Kak." Tangis Vita seketika pecah. Rasa takut langsung merengkuhnya tanpa ampun. Vita mengigil. Vita benar-benar takut.
Stella sendiri tak bisa berucap apapun. Shock, sudah pasti. Ia telah mengatakan kejujurannya. Tidak bisa menyetujui pernikahan sang adik jika keluarga mempelai pria tak merestui mereka. Stella takut, jika nanti Vita hanya akan menjadi bulan-bulanan mereka. Stella takut jika nantinya Vita hanya akan dihina setiap harinya.
"Lalu, bagaimana dengan Luis?" tanya Stella lagi.
Vita menghapus kembali air matanya. Mencoba menguatkan hati untuk kembali menjawab setiap pertanyaan yang ajukan oleh wakil ibunya itu. "Luis menginginkan kami tetap menikah. Ia yakin, kami bisa meluluhkan hati oma Dena nantinya, Kak. Tapi, jika boleh jujur, Vita ragu akan hal itu. Karena oma Dena sangat teguh dan susah untuk diluluhkan," jawab Vita, ragu.
Stella diam sesaat. Lalu ia pun teringat sang suami. Haruskah ia meminta pendapat pria itu. Ya, Stella harus meminta pertimbangan pria itu. Sebab, saat ini, wakil dari ayah dan ibu Vita adalah dirinya dan sang suami. Mereka harus tetap mencari keputusan sang baik untuk Vita.
"Vit, apakah kamu keberatan kalo Kakak meminta pertimbangan abangmu?" tanya Stella jujur.
"Untuk apa, Kak. Vita hanya ingin Kakak mendengarkan apa yang Vita rasakan. Soal keputusan, aku dan Luis sudah mengambil keputusan itu. Kami tetap memutuskan untuk menikah. Aku nggak mau mengecewakan pria sebaik dia, Kak," jawab Vita tegas.
__ADS_1
"Tapi, Vit," sanggah Stella.
"Nggak apa-apa, Kak. Percayalah, Vita pasti bisa. Kalopun tidak, Vita rela melepaskan Luis. Vita ikhlas," jawab gadis cantik ini.
Stella tak bisa berkata-kata lagi jika begini. Mau bagaimanapun, ia tetap tidak diizinkan untuk terlalu ikut campur urusan sang adik. Tetapi sebagai kakak, jujur, Stella tidak rela sang adik menjalani kehidupan yang tidak pasti seperti itu.
***
Lutfi masih diselimuti rasa kesal pada para penyisik yang menurutnya lambat memutuskan kasus yang kini ia jalani. Mereka seperti terkesan mempermainkan nya.
"Kenapa diam? Bukankah kamu sudah terbukti tidak bersalah?" tanya Safira sembari menyerahkan secangkir teh hangat untuk sang suami.
"Iya, aku tahu. Cuma kesel aja, Bun. Mereka seperti mudah sekali mempermainkan aku," jawab Lutfi sembari menerima cangkir berisi teh itu. "Makasih," ucapnya lagi.
Safira hanya tersenyum. Ia pun langsung duduk di sebalah sang suami.
Lutfi menatap mesra ke arah sang istri. "Kok, Bunda tahu?" tanya Lutfi heran.
"Ya tahulah, jarak antara ranjangmu dan ranjangku hanya satu meter. Mana mungkin aku nggak tahu. Aku juga tahu beberapa hari ini kamu malas makan. Iya kan?" Safira kembali tersenyum.
"Aku malu pada keluargamu, Bun. Terutama kamu dan abang. Maaf aku telah membuatmu khawatir hari itu," jawab Lutfi jujur.
"Udah nggak apa-apa. Lain kali kalo ada masalah yang ditelpon istrinya, jangan orang lain. Biar yang di rumah tahu, dan tenang. Kalo kamu baik-baik saja. Kamu aman dan tidak terjadi apa-apa." Safira membalas tatapan mata bening itu.
Kali ini, Lutfi tak bisa berucap lagi. Nyatanya, Safira begitu baik hati dan perhatian padanya. Ingin rasanya ia memeluk dan mencium bibir wanita itu. Sebagai ucapan terima kasih. Tetapi hatinya ragu. Ia takut kalau Safira akan menolaknya.
Safira hendak beranjak meninggalkannya. Kali ini, Lutfi memberanikan diri mencegah wanita itu. Dan memintanya kembali duduk untuk menemaninya.
__ADS_1
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Lutfi berani.
"Apa?" Safira menatap Lutfi, bingung.
"Masihkah kamu menganggapku pria lain?" pancing Lutfi lembut.
"Pria lain? Maksudnya?" Safira bertambah bingung.
"Aku tahu, secara ekonomi aku jauh dari kriteriamu. Tapi, tak adakah kesempatan bagiku untuk memilikimu seutuhnya, Ra?" tanya Lutfi mulai berani menagih apa yang ia inginkan.
Safira menelan kasar salivanya. Takut. Karena detik ini dia tersadar. Bahwa Lutfi pasti menginginkan dirinya menjadi istri seutuhnya pria itu. Safira masih belum siap. Entahlah.
Jika dia ditanya, apakah dia mencintai Lutfi, pasti Safira akan menjawab 'iya'. Tetapi untuk melangkah lebih jauh, sepertinya wanita ini masih membutuhkan banyak waktu.
"Jangan diam saja, Ra! Aku mohon jawablah pertanyaanku," desak Lutfi, memaksa.
"Maukah mau bersabar sedikit lagi, Fi. Maukah kamu menunggu sedikit lagi. Maukah kamu memberi waktu untukku sedikit lagi. Aku hanya ingin mempersiapkan hatiku untuk memulai kembali sebuah hubungan dengan hati. Karena apa yang terjadi pada kita, masih seperti mimpi bagiku," pinta Safira jujur.
Lutfi sendiri tak bisa memaksa. Karena ia tahu, perihal hati tak bisa dipaksa.
"Jangan lama-lama ya, Ra!" pinta Lutfi lembut.
Safira tersenyum lembut. Lalu, Lutfi memberanikan diri mengecup kening sang wanita pujaan hati. Sedangkan Safira tak mampu menolak. Ia pun menerima dengan senang hati kecupan itu. Meskipun jujur, ada sedikit rasa takut di sana. Keraguan untuk memulai. Karena pada dasarnya Safira hanya takut kehilangan.
Bersambung...
Terima kasih yang masih setia.. Liken komennya jangan lupa🥰🥰🥰
__ADS_1