
Vita tak banyak bicara seperti ketika ia datang. Kini ia lebih menjaga bicara sekaligus padangannya. Tentu saja, karena saat ini Zein dan ibu sambungnya sedang bercengkrama di meja makan. Sedangkan dirinya tak jauh dari pria tersebut. Gelisah sudah pasti, namun ia tetap berusaha tenang. Agar Safira, sang sahabat tidak curiga kepadanya.
"Eh, jadi gimana?" tanya Safira kepo dengan kehidupan pribadi sang sahabat.
"Gimana apa?" Vita mengerutkan kening bingung.
"Si babang Uis, kapan bakalan bawa kuda putih jemput elu, Wak? Nggak sabar pengen jadi pagar ayu kamu!" ucap Safira terlihat antusias.
"Dih, elu aja sana. Gue masih santai. Dasar lebay sekarang. Elu sendiri gimana? Udah bisa ngelempar kenangan mantan ke tong sampah belum?" ledek Vita tak mau kalah.
"Dih! iparnya digituin. Dosa lo. Kualat nanti!" balas Safira sembari terkekeh senang. Sedangkan Vita hanya tersenyum sembari mencuri pandang ke arah pria tampan yang kini sedang makan di meja makan rumah tersebut.
"Ya kan, mau ipar mau siapapun kalo mantan itu, harus dibuang pada tempatnya. Benerkan?" balas Vita, gadis ini kembali tersenyum.
"Nasibku seperti kota Jogja, Wak!" Safira tertawa kencang. Sedangkan Vita malah menatap bingung.
"Apaan sih, Wak. Nggak jelas deh!" Vita memukul lenga Safira gemas.
"Iya Jogja. Jodoh orang yang gue jaga! Sakit Wak, sakit .... nasib-nasib!" canda Safira, kembali wanita ayu ini tertawa lepas.
Kali ini Vita ikutan tertawa, karena Safira terlihat begitu menggemaskan ketika tertawa. Geli aja mendengar pribahasa aneh sang sahabat.
Tetapi tawa itu tak berlangsung lama, sebab Lutfi tiba-tiba masuk dan mendatangi Laila. Pria tampan itu terlihat gugup.
"Ada apa, Lutfi?" tanya Laila heran.
__ADS_1
"Maaf, Tan. Saya ingin meminta izin!" pinta Lutfi. Suaranya terdengar bergetar, sepertinya ia sedang menghadapi sesuatu.
"Izin? Izin ke mana?" tanya Laila. Sedangkan seluruh mata tertuju padanya, membuat Lutfi semakin gugup.
"Putri saya jatuh dari ranjang, Tan, dan sekarang oleh pengasuhnya di bawa ke rumah sakit. Saya minta izin untuk pulang lebih cepat, untuk putri saya," jawab Lutfi jujur.
Tentu saja mendengar jawaban tersebut, seisi rumah terkejut.
"Ya Tuhan, terus gimana?" tanya Laila tak kalah bingung.
"Saya hanya mendengar putri saya nangis terus, Tan. Kalo boleh sekarang juga saya izin. Saya ingin melihatbya, Tan," jawab Lutfi lagi.
"Oh, ya udah. Kamu jalan sekarang aja. Bawa aja mobilnya. Kamu hati-hatinya," ucap Laila mengizinkan.
Tak ada yang lebih bahagia dari ini. Sungguh Lutfi tidak menyangka jika sang majikan akan bersikap baik padanya. Padahal ia belum genap sebulan bekerja.
"Udah Lutfi ceritanya nanti aja, yang penting sekarang kamu cepetan berangkat, lihat putri kamu. Nanti kalo udah sampai cepat kabari Tante ya!" ucap Laila lagi, tanpa berpikir panjang, tanpa berpikir macam-macam. Laila langsung mengizinkan Lutfi untuk pergi. Tak lupa ia juga memberikan sebuah amplop untuk putri kecil pria yang belum lama bekerja padanya itu.
Laila dan Lutfi sibuk dengan alur cerita mereka. Sedangkan yang lain hanya diam dan memerhatikan.
Setelah mendapatkan izin, Lutfi pun segera berpamitan dan pergi dari rumah sang majikan.
Sedangkan Safira hanya melonggo. Rasa kasihan tiba-tiba menyeruak dari dalam hatinya. Sehingga mendorongnya untuk mencari tahu tentang masalah pribadi pria tersebut kepada sang ibu.
"Lutfi itu udah punya anak, Ma?" tanya Safira penasaran.
__ADS_1
"Punya, umurnya enam bulan kalo nggak salah," jawab Laila sembari mengupaskan buah jeruk untuk putra sambungnya.
"Oh, kasihan amat. Kok bisa jatuh dari ranjang, aneh. Emang ibunya ke mana?" Safira kembali menunjukkan rasa penasaran nya.
"Ibunya siapa? Ibunya Lutfi atau ibunya di baby?" tanya Laila jadi ikutan bingung.
"Ya ibunya si baby lah, Ma. Masak ibunya si Lutfi, gimana Mama ini!" gerutu Safira kesal.
"Oh, ibunya si baby. Ibunya si baby meninggal sebulan yang lalu," jawab Laila sesuai yang dia tahu.
"Oh, jadi Lutfi itu duda, Ma. Eh tapi istrinya meninggal kenapa, Ma? Sedih amat, kasihan babynya. Ya kan Vit," ucap Safira berempati. Vita mengangguk setuju.
"Gagal jantung katanya. Tapi nggak tahu juga sih, kan papamu yang tahu semua. Mama cuma dengar ceritanya sekilas-sekilas," balas wanita paruh baya itu lagi. Lalu kembali Laila memerhatikan sang putra yang kini tengah asik bergelut dengan laptopnya.
Safira diam. Ia tak mau banyak bertanya. Takut semua akan curiga padanya. Kalau sebenarnya ia merasakan sesuatu yang lain untuk pria itu. Namun entahlah, Safira masih belum bisa memahami keinginan hatinya.
***
Berbeda dengan Safira yang masih berusaha memahami isi hatinya. Kini ada Luis yang sedang merasakan indahnya sebuah cinta yang mendapatkan restu.
Luis tak menyangka jika sang Oma begitu cepat mengizinkannya menikah dengan gadis pilihan hatinya. Tanpa Banyak syarat seperti biasa.
Wanita tua itu malah meminta Luis untuk segara membawa gadis pilihan hatinya itu untuk segera datang menemuinya. Dan keinginan sang Oma itu tentu saja membuat Luis bersemangat menjalani hidupnya.
Tentu saja, Luis pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan hati berbunga-bunga ia pun meminta sang asisten untuk memerankan tiket untuknya. Malam ini juga, Luis berencana terbang ke Batam untuk menjemput kekasih hatinya.
__ADS_1
Bersambung...