PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
CINTA di UJUNG MATA


__ADS_3

Batam...


Siang itu hujan lebat mengguyur kota ini. Udara dingin juga menghampiri para penghuni kota tersebut. Tanpa terkecuali Stella. Saat ini wanita ayu ini sedang asik melihat beberapa anak-anak sedang berlarian di belakang komplek perumahan di mana ia tinggal. Di belakang pagar rumah Juan memang perkampungan padat penduduk. Perumahan orang-orang biasa dengan ekonomi biasa-biasa saja. Namun mereka terlihat bahagia tanpa beban Tetapi entah itu benar atau tidak. Hanya saja, gambaran seperti itulah yang Stella tangkap selama tinggal di rumah Juan.


Stella sering melihat mereka bertegur sapa jika bertemu. Bercanda gurau ketika tukang sayur datang dan masih banyak lagi aktivitas mereka yang mencerminkan sikap kerukunan antar sesama dan entah mengapa Stella sangat suka melihat aktivitas mereka secara diam-diam. Realita yang terjadi di depan matanya seperti hiburan tersendiri bagi calon ibu satu ini.


Seperti saat ini, Stella sangat suka melihat beberapa anak kecil berlarian, bermain bola dibawah guyuran air hujan. Mereka terlihat bahagia seperti tak memiliki beban masalah sedikitpun.


Stella terlalu asik menyaksikan anak-anak itu sampai tak menyadari kalau sang suami sudah ada di sampingnya. Memerhatikan tingkah lucunya menyemangati anak-anak itu, seolah ia adalah suporter sejati mereka.


"Asik ya Mam?" tanya Juan.


"Asik, keren," jawab Stella tanpa menoleh ke arah Juan. Bisa dikatakan dia masih belum menyadari kalau sang suami sudah lama berada di sampingnya.


"Mereka bahagia sekali!" pancing Juan lagi.


"Iya, apa lagi yang baju merah itu Pap," ucap Stella dengan senyum bahagianya. Ia juga menunjuk anak yang ia maksud.


"Lihat deh, astaga ... astaga, dia dapat bola Pap. Semangat, semangat ayo ayo Ha, ha, ayo ayo ayo... terus terus kamu pasti bisa. Aaa! gagal!" di akhir sorakan suara Stella melemah karena kecewa.


Sedangkan Juan masih tersenyum. Membiarkan sang istri tetap menikmati tontonan gratisnya.

__ADS_1


"Padahal hampir saja masuk!" ucap Stella.


"Kalau Papi yang jadi wasit. Papi kartu merah tu anak yang pakek baju merah," pancing Juan lagi.


Kali ini Stella terpancing. Tak peduli kapan sang suami datang, wanita ini malah lebih fokus pada kartu merah yang akan Juan berikan pada anak itu.


"Kok kartu merah, kan dia nggak salah?" tanya Stella marah.


"Siapa bilang dia nggak salah. Dia udah bikin istriku fokus padanya, sampai aku datang pun dicuekin," balas Juan tak kalah sengit.


Mendengar jawaban sengit Juan, seketika Stella pun tersenyum malu. Sebab ia memang terlalu fokus pada anak-anak itu. Hingga tak menyadari sang suami sudah datang sedari tadi. Bahkan terus mengamati tingkah lucunya.


"Maaf, habis suara hujan kenceng ampek nggak denger kalau ada yang buka pintu," ucap Stella sembari membantu Juan membuka jasnya.


"Kok dilepas semua? Nggak balik ke kantor lagi?" tanya Stella lembut.


"Kepala Papi rasa pening ni, Mam," jawab Juan sambil memijat kepalanya. Ia juga terlihat membuka kancing-kancing kemejanya.


"Badannya panas nggak?" tanya Stella, tak lupa wanita ayu ini langsung menempelkan telapak tangannya di kening Juan. Meraba dada Juan. Menempelkan telinganya di dada pria ini. Stella terlihat lucu. Sedangkan pria ini hanya diam dan menerima apapun yang Stella lakukan pada tubuhnya.


"Aku kerik ya, habis itu minum obat terus istirahat, ya. Udah makan belum?" tanya Stella khawatir.

__ADS_1


"Udah tadi ama klient," jawab Juan jujur.


"Ya udah, kamu bersih-bersih gi, aku siapin baju sama minyak kayu putihnya," ucap Stella sembari mendorong punggung Juan agar pria ini masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Nggak mau bersih-bersih!" canda Juan.


"Loh kenapa? bau tau!" jawab Stella sambil menjepit hidungnya.


" Enak lo Mam bau badan Papi, adek aja suka. Ya kan dek!" canda Juan lagi, Lagi-lagi lagi pria ini tak mau melanjutkan langkahnya. Ia hanya diam sambil melirik genit sang istri.


"Udah ah, Papi nggak lucu." Stella tersipu. Wanita ayu ini tahu jika Juan meledeknya atas nama bayinya. Stella tahu jika Juan suka melihatnya menciumi baju bekas pakai dirinya dan itu adalah wujud cinta di ujung mata yang mereka rasakan namun masih gengsi mengakui.


"Dih, panggil papi. Ini Papinya dedek bayi tahu," canda Juan lagi.


"Iya, papinya dedek bayi, awas kalau manggil Ste, mami-mami. Nggak mau nengok," Stella memanyunkan bibirnya.


"Dih jeleknya kalau manyun, minta dicium ya, sini!" paksa Juan, tentu saja Stella cepat menghindar. Juan terlihat menakutkan jika kumat isengnya.


"Sana ah, nggak jadi ni!" ancam Stella sembari sembunyi di balik sofa.


"Hilih menghindar, biasanya juga suka Papi ketekin. Jaim dek, mamimu," ucap Juan lagi, Stella tak menjawab. Sebab, semakin diladeni, pria aneh ini semakin konyolnya keluar.

__ADS_1


Juan mengedipkan satu Mata. Menggoda Stella. Sedangkan Stella hanya tersenyum sembari menutup wajahnya dengan jas milik Juan. Tanpa Stella sadari, Juan masih memerhatikan melakukan itu. Pertanda apa yang Juan pikirkan selama ini adalah benar. Stella memiliki rasa padanya, terlepas dari keinginannya memiliki anak itu. Wanita itu juga memendam rasa ingin memilikinya. Juan yakin itu. Karena setiap kali mata mereka bertemu, saat itu juga pancaran cinta untuk masing-masing terlihat jelas. Juan yakin jika Stella telah jatuh cinta padanya. Tergantung bagaimana caranya untuk membuat wanita gengsian ini mengakui perasaan itu.


Bersambung....


__ADS_2