PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
BELAJAR MENCINTAI


__ADS_3

"Jangan kaget ya, istriku jarang mau ngomong. Kalau nggak penting-penting amat. Bukan dia sombong, tapi dia pernah melewati fase berat dalam hidupnya. Jadi dia berusaha jaga jarang dengan lingkungan sekitar. Sama mbak-mbak di rumah juga jarang ngobrol. Paling minta dibuatin apa gitu baru ngomong," ucap Juan membuka sedikit tentang istrinya.


"Fase terberat? Maksudnya?" tanya Zein penasaran.


"Ya sesuatu yang buruk pernah menimpanya. Perceraian yang rumit," jawab Juan sembari meneguk air soda yang berwarna hitam itu. Pria ini terlihat menatap kosong ke arah mata memandang, seperti berpikir.


Sedangkan Zein dan Rehan saling menatap. Mereka tak menyangka jika istri sahabatnya adalah seorang janda.


Jujur Zein merasa berkecil hati, Juan yang lebih sukses dan kaya darinya saja bisa menerima sisa orang lain dengan segenap jiwa dan raganya. Lalu, seorang Zein, pria berpendidikan ini malah terkesan bodoh soal cinta.


"Lalu bagaimana kamu bisa membuatnya mau bicara padamu, terlebih menikah? Memulai sesuatu yang baru dengan orang baru kan nggak mudah!" tambah Zein.


"Dengan ini Bro." Juan menunjuk dadanya, menunjukkan hati yang ia miliki. "Aku bukan hanya kasihan padanya, namun aku juga mencintainya,. Aku ingin dia bangkit dari traumanya. Memulai hidupnya karena yang aku pikirkan hanyalah dia wanita yang baik dan berhak bahagia," tambah Juan dengan senyuman tulusnya.

__ADS_1


Rehan diam, pria ini hanya mendengarkan dan mencerna setiap kata yang ia dengar. Sebab lama ini, caranya mencintai selalu salah. Dengan mantan istrinya salah, dengan gadis itu pun salah. Nyatanya dia ditinggalkan tanpa kata. Tanpa melihatnya. Tanpa mau mengerti jika dia mulai mencintainya.


"Apa kamu nggak risih Bro?" tanya Zein serius.


"Risih maksudnya?" balas Juan. Sebenarnya Juan mengerti maksud Zein. Pasti pembicaraan ini mengarah pada percintaan.


"Ya kamu tahulah, dia kan pernah main bersama mantan pastinya dan apakah mau nggak keberatan dengan itu?" Zein adalah Zein. Bagaimanapun cara berpikirnya tak bisa diubah dengan mudah. Yang bisa mengubahnya adalah dirinya sendiri. Pengalamannya sendiri. Selebihnya orang lain hanya bisa mendoakan.


"Kalau soal itu tergantung pemikiran Bro,. Aku dan dia sama-sama bekas orang. Apakah kami yang bekas ini tak berhak melanjutkan hidup?" tanya Juan.


"Memangnya apa bedanya laki ma perempuan, Bro. Kita sama-sama manusia. Makannya juga sama, kita nggak boleh mendeskripsikan jenis kelamin. Mau wanita mau pria kita sama-sama punya hati yang wajib kita buat bahagia, biar hidup kita lebih bermakna. Kalau hati kita happy, jiwa kita jadi sehat Bro. Otak kita lancar, raga kitapun sehat. Kayaknya kamu mesti ubah menset kamu deh. Nggak bener ini pola pikir kamu!" tambah Juan terlihat kembali menentukan minuman yang ada di tangannya.


Rehan mengakui jika Juan jauh lebih dewasa dibanding bosnya. Karena Juan memiliki hati yang tulus, baik dan apa adanya.

__ADS_1


"Kamu benar, Bro. Mungkin aku yang selama ini terlalu picik," jawab Zein, suaranya sedikit melemah.


"Ya, kita tidak bisa memaksa orang lain untuk menerima pemikiran kita. Karena kita tetap akan mempunyai pandangan yang berbeda. Tentang apapun itu. Termasuk pasangan hidup. Jika dinalar, siapasih yang ingin gagal dengan sebuah hubungan? Siapasih yang ingin berganti pasangan, padahal udah nyaman dengan yang ini, misalnya, tapi Tuhan punya sesuatu yang terbaik untuk kita, Bro. Jadi mau itu bekas orang apa nggak, selama kita bisa menerimanya dan ketika waktunya bersama kita, dia tak membagi hatinya. Bagiku sih fine-fine aja sih," tambah Juan.


Kali ini Zein kalah telak. Dalam hati pria ini mengakui pola pikir Juan tentang sebuah hubungan. Andai dia bisa seperti ini di awal. Mungkin saat ini ia dan Stella masih bisa bersama. Masih bisa saling mencintai. Terlebih tahu tentang Stella, bahwa ia adalah pria pertama bagi Stella. Zein terdiam, seperti penyesalan itu menghujam jantungnya. Beberapa kali hatinya tertusuk oleh kebenaran yang diucapkan Juan.


"Makasih pencerahannya, Bro. Doakan aku ya!" ucap Zein. Juan mengerutkan kening, 'mendoakan, mendoakan untuk apa? ' tapi Juan tak mau banyak tanya. Yang ia tahu bahwa, setiap manusia punya pemikiran yang berbeda. Itu semua tergantung sang empunya badan. Tugas kita sebagai orang lain hanya mengingatkan. Selebihnya tidak bisa memaksa.


" Aku selalu do'ain kalian, Bro. Semoga rumah tanggamu sakinah, mawadah dan warohmah. Langgeng ampek kakek nenek. Buat kamu Re, semoga didekatkan jodohnya, disegerakan biar ada pelampiasan," jawab Juan sembari terkekeh. Bukan hanya Juan yang terkekeh, Rehan pun terkekeh tapi tidak dengan Zein. Pria ini hanya tersenyum. Doa Juan kembali membuatnya merasa sangat-sangat bodoh.


Kini Zein hanya tenggelam dalam angan. Hatinya beberapa tertampar oleh pola pikir sang sahabat. Tak dipungkiri jika Juan memiliki hati yang jauh lebih tulus darinya soal bagaimana cara menerima. Zein bersyukur bisa bertemu dengan Juan, pada dasarnya sahabatnya ini telah berhasil memcerahkan pemikiran kolotnya selama ini.


Bersambung....

__ADS_1


Zein ketemu Stella🧐🧐


__ADS_2